Rekaman kamera wasit yang baru dirilis FIFA memperlihatkan sisi tersembunyi dari final Piala Dunia 2026. Slavko Vincic, wasit asal Slovenia yang memimpin partai perebutan gelar, terdengar dengan jelas meminta Lionel Messi menenangkan rekan setimnya, Leandro Paredes, jauh sebelum peluit panjang berbunyi menandai berakhirnya pertandingan.
"Messi, kontrol Paredes. Saya tidak mau... dia sudah dapat kartu kuning. Tolong kontrol. Selalu kontrol dia," ucap Vincic dalam rekaman yang kini menjadi bukti material dalam proses disiplin FIFA. Peringatan itu terucap saat Argentina sudah memastikan kemenangan, namun suasana di lapangan mulai memanas.
Paredes baru masuk ke lapangan pada menit ke-84 menggantikan Nicolas Gonzalez. Dalam waktu enam menit saja, gelandang berusia 32 tahun itu sudah menerima kartu kuning atas pelanggaran keras. Emosinya tampak sulit dikendalikan bahkan saat timnya sedang merayakan gelar juara dunia.
Sejarah Paredes dengan disiplin memang tidak mulus. Di final Copa America 2024 versus Kolombia, ia sempat terlibat gesekan dengan pemain lawan. Kini di panggung paling bergengsi, namanya kembali tercantum dalam laporan wasit — bukan karena performa, melainkan perilaku.
FIFA sudah membuka kasus disiplin terhadap Paredes dengan tiga tuduhan penyerangan dan satu tuduhan perilaku tidak sportif. Korban langsungnya adalah Eric Garcia dan Gavi, dua pemain muda Spanyol yang jadi sasaran cekikan dan dorongan pasca laga. Kedua pemain itu tidak membalas, memilih mundur saat rekan-rekan mengepung Paredes.
Insiden ini membuka pertanyaan serius tentang manajemen emosi di tingkat elit. Messi sebagai kapten memang memiliki otoritas alami, tapi apakah wajar beban menenangkan rekan setim yang emosional jatuh sepenuhnya pada bahunya? Vincic tampak sadar akan dinamika ini, sehingga ia memilih bicara langsung ke Messi, bukan ke pelatih Lionel Scaloni.
Di sisi lain, kasus Paredes mencerminkan pola perilaku berulang. Setelah mengumumkan pensiun dari timnas pasca Piala Dunia, ia kembali bermian di Boca Juniors. Di derby lawan Newell's Old Boys bulan lalu, Paredes sengaja menendang bola ke arah lawan dan memicu keributan besar. Pola ini menunjukkan masalah yang lebih dalam dari sekadar emosi sesaat.
Bagi sepak bola Indonesia, kasus ini jadi pelajaran berharga. Di Liga 1, kita sering melihat pemain senior yang seharusnya jadi teladan justru memicu kericuhan. Manajemen emosi dan kepemimpinan kapten di lapangan butuh dibangun sistematis, bukan hanya diandalkan pada instan saat suasana memanas.
FIFA diharapkan memutuskan sanksi Paredes dalam minggu depan. Sanksi yang ketat akan mengirim sinyal tegas: gelar juara dunia tidak mengimunisasi pemain dari konsekuensi perilaku buruk. Sebaliknya, kelemahan hukuman justru akan melegitimasi kekerasan sebagai bagian dari "semangat juara".
Sementara itu, Messi yang kini bermian di Inter Miami belum memberikan komentar resmi soal peringatan wasit. Tapi rekaman itu sudah menjawab banyak spekulasi: kapten Argentina sudah berusaha memainkan peran pemadam kebakaran, tapi api yang dibawa Paredes terlalu besar untuk dipadamkan oleh satu orang saja.