Legenda kriket India, Virat Kohli, secara resmi menyatakan bahwa turnamen Piala Dunia 50-over pada 2027 akan menjadi panggung terakhirnya membela tim nasional. Keputusan ini menandai berakhirnya era salah satu pemukul bola paling dominan dalam sejarah kriket dunia, menutup dedikasi panjang sang pemain bagi negaranya.
Kohli, yang kini berusia 37 tahun, menegaskan bahwa motivasinya saat ini adalah memberikan segalanya demi meraih trofi juara sebelum gantung raket dari kancah internasional. Setelah sebelumnya memutuskan pensiun dari format T20 dan Test, ia kini memfokuskan seluruh energinya pada format 50-over yang menuntut ketahanan fisik dan mental luar biasa.
Sepanjang kariernya, Kohli telah mencatatkan 54 abad atau centuri dalam format ODI, menjadikannya pencetak centuri terbanyak dalam sejarah format tersebut. Dengan total 14.941 run, ia hanya berada di bawah legenda Sachin Tendulkar dalam daftar pencetak run terbanyak. Catatan ini bukan sekadar angka, melainkan bukti konsistensi Kohli di level tertinggi selama lebih dari satu dekade.
Langkah ini diambil setelah evaluasi mendalam terhadap tuntutan fisik yang semakin berat. Menurut Kohli, intensitas pertandingan di Piala Dunia 50-over jauh melampaui turnamen lainnya. Ia mengibaratkan satu pertandingan ODI sebagai beban kerja yang setara dengan 2,5 kali lipat intensitas pertandingan T20, namun harus dilakukan secara beruntun dalam sepuluh laga di kondisi lapangan asing.
Piala Dunia 2027 yang akan diselenggarakan secara bersama oleh Afrika Selatan, Zimbabwe, dan Namibia akan menjadi edisi kelima bagi Kohli. Baginya, turnamen ini adalah misi personal untuk melengkapi lemari trofinya setelah merasakan manisnya juara pada 2011 dan pahitnya kekalahan di final 2023 melawan Australia.
Bagi penggemar olahraga di Indonesia, sosok Kohli mungkin tidak setenar bintang sepak bola Eropa, namun pengaruhnya terhadap industri olahraga global sangat masif. Kriket adalah agama di India, dan pengumuman pensiun Kohli memicu gelombang emosional yang mirip dengan momen pensiun legenda bulu tangkis seperti Lin Dan atau Lee Chong Wei bagi publik Indonesia.
Fenomena pensiunnya atlet megabintang seperti Kohli memberikan pelajaran berharga bagi ekosistem olahraga nasional. Manajemen beban kerja di usia senja, pemilihan format kompetisi yang tepat, hingga transisi menuju masa pensiun adalah aspek yang sering kali luput dari perhatian atlet lokal. Kohli menunjukkan bahwa menjaga performa di usia 37 tahun memerlukan strategi yang sangat spesifik.
Industri olahraga Indonesia saat ini sedang berupaya meningkatkan profesionalisme atlet melalui pendekatan berbasis data dan sains olahraga. Keputusan Kohli untuk mundur secara terukur dan penuh kesadaran dapat menjadi studi kasus bagi atlet Indonesia agar tidak memaksakan diri hingga performa merosot tajam, melainkan memilih waktu yang tepat untuk pamit sebagai juara.
Dalam sebuah pernyataan kepada JioStar, Kohli mengungkapkan bahwa ia siap menanggung beban berat demi membawa pulang trofi. Ia tidak ingin meninggalkan warisan yang setengah-setengah. Fokusnya adalah memberikan performa terbaik tanpa menyisakan penyesalan sedikit pun di lapangan.
Di sisi lain, mantan kapten tim India, Rohit Sharma, yang masih aktif bermain, menyatakan bahwa ia belum memiliki rencana serupa. Bagi Rohit, selama masih mampu bersaing, gairah untuk berkompetisi tetap menjadi bahan bakar utama. Pandangan berbeda antara dua ikon ini memperlihatkan bagaimana setiap atlet memiliki cara unik dalam memproses fase akhir karier mereka.
Ke depan, perhatian publik kriket dunia akan tertuju pada bagaimana India membangun tim di sekitar Kohli untuk turnamen 2027. Transisi kepemimpinan menjadi krusial setelah nanti ia benar-benar pergi. Tanpa kehadiran Kohli, tim kriket India akan kehilangan figur sentral yang tidak hanya piawai mencetak angka, tetapi juga menjadi kompas moral bagi pemain muda.
Menjelang seri ODI melawan West Indies, Kohli dipastikan tetap menjadi ujung tombak. Fokusnya tidak goyah meski pengumuman pensiun sudah di depan mata. Bagi pencinta kriket, dua tahun ke depan adalah kesempatan terakhir untuk menyaksikan salah satu jenius olahraga ini beraksi di panggung internasional sebelum ia benar-benar menjadi sejarah.