Pasukan Bintang Emas muda Vietnam menghadapi realitas pahit usai laga terakhir kualifikasi Grup C di Stadion Thuwunna, Yangon, Minggu (7/9/2026). Tiga kekalahan beruntun — 0-3 dari Korea Utara, 1-2 dari Palestina, dan 1-3 dari Iran setelah sempat unggul — menempatkan Vietnam di dasar klasemen tanpa mengumpulkan poin pun. Akibatnya, tiket ke putaran final Piala Asia U-20 2027 di China terlewat, dan tim harus turun ke development phase bersama negara-negara seperti Bhutan, Brunei, Sri Lanka, Makau, dan Kepulauan Mariana Utara.
Kelebihan 1-0 atas Iran di babak pertama justru mempertajam rasa kecewa. Vietnam tampil kompak dan berani menekan lawan yang dinilai lebih berkualitas, namun kolaps total di 45 menit kedua. Tiga gol balasan Iran dalam rentang waktu singkat membuka tabir kelemahan fisik dan mental tim muda ini saat dihadapkan pada tekanan berkelanjutan. Pelatih Yutaka Ikeuchi mengakui timnya gagal mempertahankan momentum positif yang dibangun di separuh pertama.
Kegagalan ini bukan kejutan total bagi pengamat sepak bola Asia Tenggara. Sejak era pelatihan Park Hang-seo berakhir, regenerasi timnas Vietnam — baik senior maupun usia muda — mengalami goyangan signifikan. Program pengembangan pemain yang pernah dipuji sistematis kini terasa stagnan. Federasi Sepak Bola Vietnam (VFF) sempat mengandalkan Ikeuchi, mantan asisten pelatih Jepang U-20, untuk memperbaiki struktur taktis, namun waktu persiapan terlalu singkat untuk mengubah budaya bermain yang sudah melekat.
Faktor krusial yang disoroti Ikeuchi adalah minimnya laga uji coba berkualitas tinggi sebelum kualifikasi bergulir. Berbeda dengan Indonesia yang rutin menggelar training camp di Eropa dan bertanding melawan klub-klub liga tengah hingga timnas muda negara-negara seperti Turki, Suriah, atau Uzbekistan, Vietnam cenderung bermain di lingkungan domestik. Liga 1 Vietnam memang kompetitif, tapi level fisikitas dan kecepatan berpikir masih jauh di bawah standar Asia Timur. Tanpa "shock therapy" berhadapan lawan tangguh, pemain muda Vietnam masuk ke zona pertarungan tanpa kekebalan mental.
Dampak degradasi ke development phase bersifat jangka panjang. Vietnam akan kehilangan akses ke turnamen bertaraf continental secara rutin selama minimal dua siklus kualifikasi mendatang. Artinya, generasi 2005–2007 yang kini berusia 18–20 tahun kehilangan panggung kompetisi tinggi saat masa emas perkembangan fisik dan taktis. Ikeuchi sendiri mengungkapkan keresahan: generasi ini dan generasi berikutnya berisiko tidak pernah merasakan atmosfer putaran final Kejuaraan Asia U-20. Ini menciptakan lingkaran setan: tanpa turnamen besar, tidak ada pengalaman; tanpa pengalaman, sulit naik kelas.
Perbandingan dengan Indonesia semakin tajam. Garuda Muda U-20 di bawah pelatihan Indra Sjafri dan pengawasan Shin Tae-yong justru menunjukkan progres. Lolos ke 16 besar Piala Asia U-20 2025 lalu — meski tersingkir di babak 16 besar — sudah jadi pencapaian sejarah. Lebih jauh, Indonesia U-20 mengalahkan Australia di kualifikasi edisi 2027, membuktikan bahwa investasi pada laga uji coba internasional dan naturalisasi pemain keturunan (seperti Justin Hubner, Rafael Struick, atau Nathan Tjoe-A-On) memberikan hasil nyata. Vietnam, yang menolak jalur naturalisasi dan bergantung sepenuhnya pada pemain lokal, kini membayar mahal keputusan strategis itu.
Ikeuchi, dalam wawancara pasca laga dengan media Vietnam Soha, menolak menebak nasib karirnya. "Saat ini saya belum memiliki rencana tentang masa depan sepak bola usia muda Vietnam," ujarnya. Sikap ambivalen ini mencerminkan ketidakpastian di tingkat manajemen VFF. Apakah federasi akan mempertahankan sistem pelatih asing berbasis Jepang, atau kembali ke pelatih lokal seperti Philippe Troussier yang pernah membawa tim senior ke puncak AFF Cup? Keputusan ini akan menentukan arah regenerasi Vietnam untuk 5–10 tahun ke depan.
Sisi positif — jika ada — hanya pada pengakuan Ikeuchi soal bakat individu. Beberapa nama seperti Nguyen Cong Phuong (sayangnya sudah over-age), Le Van Nam, hay Nguyen Quoc Viet menunjukkan kilatan kualitas teknis di ruang sempit. Namun, bakat tanpa platform kompetisi berkualitas akan layu. Vietnam perlu meniru model Indonesia: bekerjasama dengan klub Eropa untuk pinjaman pemain muda, mengadakan turnamen persahabatan rutin lawan timnas Asia Timur dan Timur Tengah, serta membangun database scouting yang terintegrasi antara liga domestik dan timnas usia muda.
Bagi penonton Indonesia, kasus Vietnam jadi pelajaran berharga. Sukses Garuda Muda bukan kebetulan, tapi hasil eksekusi strategi jangka panjang yang melibatkan Kementerian Pemuda dan Olahraga, PSSI, dan mitra komersial. Vietnam, yang pernah jadi teladan manajemen sepak bola Asia Tenggara, kini jadi kasus studi kegagalan regenerasi. Apakah mereka bisa bangkit? Hanya waktu dan keputusan VFF di bulan-bulan mendatang yang akan menjawab.