Stadion My Dinh, Jumat malam (31/7) menjadi saksi kekecewaan besar pendukung Vietnam. Timnas The Golden Star Warriors gagal memanfaatkan status tuan rumah ketika ditahan imbang tanpa gol oleh Singapura dalam laga Grup A Piala AFF 2026. Hasil buruk itu menempatkan Vietnam di posisi genting: terancam kegagalan pertama mencapai semifinal dalam 12 tahun terakhir.
Dengan raihan empat poin dari tiga pertandingan, Vietnam kini tertahan di peringkat ketiga klasemen Grup A. Singapura memimpin dengan tujuh poin, sementara Indonesia menguntit di posisi kedua dengan enam poin. Situasi ini jelas menempatkan Vietnam dalam tekanan luar biasa menjelang laga penentuan.
Laga berikutnya akan menjadi ujian terberat Vietnam. Mereka harus bertandang ke kandang Indonesia di Stadion Pakansari, Senin (3/8). Tim Garuda asuhan John Herdman sedang dalam performa terbaik setelah meraih dua kemenangan beruntun. Kondisi ini membuat peluang Vietnam untuk melaju semakin berat.
Tren positif Vietnam di panggung Piala AFF memang layak dibicaraakan. Sejak edisi 2014, Vietnam selalu berhasil menembus babak semifinal dalam setiap edisi turnamen. Dari lima kali keikutsertaan, tiga kali mereka melaju ke partai puncak dan dua kali mengangkat trofi juara. Catatan ini menjadikan Vietnam sebagai salah satu kekuatan dominan di kawasan Asia Tenggara.
Namun, dominasi itu kini terancam pudar. Kegagalan mengalahkan Singapura di kandang sendiri menjadi pukulan telak bagi ambisi Vietnam. Tim besutan pelatih mereka kini dipaksa berada dalam situasi do-or-mati: wajib menang atas Indonesia atau pulang lebih awal.
Sejarah mencatat bahwa kegagalan terakhir Vietnam terhenti di fase grup Piala AFF terjadi pada edisi 2012. Kala itu, turnamen digelar di Thailand dan Vietnam tergabung dalam satu grup bersama tuan rumah Thailand, Filipina, serta Myanmar.
Pencapaian Vietnam pada 2012 sungguh mengecewakan. Mereka gagal meraih satu pun kemenangan dalam tiga pertandingan fase grup. Hasil imbang 1-1 melawan Myanmar diikuti dua kekalahan beruntun: 0-1 dari Filipina dan 1-3 dari Thailand. Vietnam menutup fase grup di peringkat ketiga, di bawah Thailand dan Filipina.
Kekinian, skenario serupa nyaris terulang. Situasi Vietnam di Piala AFF 2026 mengingatkan publik pada drama 12 tahun silam. Bedanya, Vietnam kini hadir dengan status juara bertahan dan reputasi sebagai tim papan atas Asia Tenggara.
Dari sudut pandang Indonesia, situasi ini menawarkan keuntungan strategis yang signifikan. Tim Garuda berada dalam posisi aman dengan enam poin dari dua laga. Kemenangan atas Indonesia akan menutup peluang Vietnam sekaligus memastikan tiket semifinal dengan status juara grup.
Sebaliknya, Indonesia juga harus mewaspadai Vietnam yang bakal bermain tanpa beban. Tim tamu tidak punya pilihan lain selain menyerang habis-habisan. Motivasi dan urgensi bisa menjadi senjata mematikan yang jarang dimiliki tim bermain di bawah tekanan.
Pertandingan di Stadion Pakansari nanti diprediksi akan berlangsung sangat intens. Kedua tim sama-sama memiliki motivasi tinggi, meski dengan tujuan berbeda. Indonesia berusaha mengamankan posisi, sementara Vietnam bertarung untuk kelangsungan hidup di turnamen.
Nasib Vietnam di Piala AFF 2026 kini benar-benar ada di tangan mereka sendiri dan sedikit di tangan hasil pertandingan lain. Namun, satu hal pasti: Stadion Pakansari akan menjadi saksi sejarah. Apakah Vietnam mampu mempertahankan tren 12 tahun mereka, atau Indonesia akan menjadi aktor utama penghenti dominasi The Golden Star Warriors.