Pelatih Kim Sang-sik harus mempertaruhkan skuad yang tidak utuh saat Golden Star Warriors memasuki ajang bergengsi se-Asia Tenggara. Dua nama besar, Do Duy Manh dan Khuat Van Khang, terpaksa dicoret dari daftar 25 pemain yang dikirimkan ke komite turnamen. Keduanya merupakan tulang punggung tim dengan total 96 kali penampilan gabungan untuk bendera merah, kehadiran mereka di lini belakang dan gelandang sangat menentukan ritme permainan Vietnam beberapa tahun terakhir.
Kecederaan justru menyerang pada waktu paling kritis. Selain duo tersebut, Ngo Dang Khoa dan Le Ngoc Bao juga harus mundur, membuat total empat pemain utama absen. Situasi ini memaksa mantan pelatih Jeonbuk Hyundai Motors itu menyusun tim dengan komposisi yang belum pernah diuji dalam satu sistem penuh. Kim Sang-sik, yang baru menguasai tim sejak Mei 2024, kini menghadapi ujian api pertamanya di panggung regional tanpa senjata andalannya.
Di tengah kekosongan itu, kepercayaan penuh diberikan kepada Dang Van Lam di bawah mistar. Kiper berusia 31 tahun ini masih menjadi pilihan nomor satu meski sudah tidak muda, dibackup oleh Le Giang Patrik dan Tran Trung Kien. Lini belakang mengandalkan pengalaman Doan Van Hau dan Nguyen Thanh Chung, sementara sektor tengah dikunci oleh kapten Nguyen Quang Hai yang ditemani Nguyen Hoang Duc. Kehadiran mereka menjadi satu-satunya jaminan stabilitas di tengah kekacauan cedera.
Strategi naturalisasi kembali menjadi andalan Vietnam untuk menutupi kelemahan sektor depan. Dua pemain keturunan Brasil, Do Hoang Hen dan Nguyen Tai Loc, masuk dalam skuad 25 orang. Hen yang sebelumnya bernama Henrique Devens dipercaya mengisi lini tengah, sedangkan Tai Loc — nama aslinya Thiago Henrique — menjadi opsi penyerang bersama Nguyen Xuan Son. Kedua naturalisasi ini diharapkan memberikan variasi taktis yang tidak dimiliki pemain lokal, terutama dalam hal fisik dan finishing.
Piala AFF 2026 menggunakan format baru dengan semua pertandingan digelar di Thailand, menguntungkan Vietnam yang geografisnya relatif dekat. Laga pembuka melawan Timor Leste di Chonburi Stadium pada 24 Juli menjadi momentum penting untuk membangun kepercayaan diri. Hasil bagus di pertandingan pertama akan menentukan apakah skuad ini bisa bersatu cepat atau justru terpuruk di fase grup. Lawan lain di Grup B, yaitu Malaysia dan Singapura, pasti akan mengeksploitasi ketidakstabilan lini belakang Vietnam.
Bagi sepak bola Indonesia, kehadiran Vietnam yang tidak utuh ini membuka peluang sekaligus menimbulkan pertanyaan. Tim Garuda yang dilatih Patrick Kluivert sedang dalam masa transisi dengan banyak pemain muda, sedangkan Vietnam justru kehilangan pengalaman. Jika kedua tim bertemu di fase knockout, pertarungan akan berubah menjadi duel antara kecepatan Indonesia versus ketertiban taktis Vietnam. Sejarah pertemuan terakhir di final Piala AFF 2022 menunjukkan Vietnam masih unggul secara mental, tapi skuad saat ini berbeda jauh.
Kehilangan Duy Manh berarti Vietnam kehilangan bek tengah yang mampu membaca permainan dan memulai serangan dari belakang. Van Khang yang biasa bermain sebagai winger atau gelandang sayap memberikan lebar dan kedalaman. Tanpa keduanya, beban kreasi sepenuhnya tertumpang pada Quang Hai yang sudah berusia 32 tahun. Apakah sang kapten mampu menanggung tim 90 menit penuh di setiap pertandingan? Itu pertanyaan besar yang hanya bisa dijawab di lapangan.
Kim Sang-sik dikenal sebagai pelatih yang mengutamakan disiplin taktis dan fisik. Dia pernah membawa Jeonbuk ke gelar K-League dan Liga Champions Asia. Filosofi mainnya yang kental pressing tinggi membutuhkan pemain dengan stamina prima — justru yang hilang akibat cedera. Pelatih asal Korea Selatan ini mungkin harus mengubah gaya jadi lebih pragmatis, bermain konter dan mengandalkan kecepatan Xuan Son serta kreativitas naturalisasi.
Daftar 25 pemain menunjukkan Vietnam sengaja membawa banyak bek — total sepuluh orang — mencerminkan keinginan Kim untuk memiliki fleksibilitas formasi. Bui Hoang Viet Anh, Truong Tien Anh, hingga Phan Tuan Tai memberikan opsi tiga atau empat bek. Di tengah, kehadiran Le Pham Thanh Long dan Nguyen Ngoc My menambah kedalaman rotasi. Namun, kuantitas tidak selalu berarti kualitas, terutama saat menghadapi tekanan psikologis panggung besar.
Piala AFF kali ini juga menjadi uji coba bagi generasi baru Vietnam sebelum kualifikasi Piala Asia 2027. Pemain seperti Nguyen Nhat Minh, Dinh Quang Kiet, hingga Khong Minh Gia Bao mendapat kesempatan emas untuk membuktikan diri. Jika mereka bisa tampil meyakinkan, Vietnam akan memiliki regenerasi yang mulus. Sebalikkan, kegagalan berarti tim harus kembali bergantung pada pemain senior yang usianya sudah menanjak.
Jadwal padat dengan tiga pertandingan fase grup dalam seminggu menuntut manajemen rotasi yang cermat. Vietnam main pertama kali 24 Juli, lalu berhadapan dengan Malaysia 27 Juli, dan menutup fase grup melawan Singapura 30 Juli. Semua laga di Chonburi. Kim Sang-sik tidak punya kesalahan margin; satu kekalahan bisa menggeser posisi ke runner-up grup dan menghadapi lawan lebih keras di perempat final. Tekanan ini justru bisa memicu kematangan tim — atau menghancurkannya.
Di sudut pandang teknologi dan data, Vietnam sudah lama memanfaatkan analisis performa dan GPS tracking untuk manajemen beban latihan. Ketiadaan empat pemain kunci akan menguji seberapa efektif sistem monitoring mereka mencegah cedera beruntun pada pemain lain. Bagi Indonesia, ini pelajaran bahwa kedalaman skuad dan ilmu olahraga bukan sekadar aksesoris, tapi penentu nasib di turnamen bergengsi. Piala AFF 2026 akan menjawab siapa yang paling siap — bukan hanya di lapangan, tapi di laboratorium persiapan.