Vietnam menegaskan status favorit mereka di Piala AFF 2026 dengan performa mengesankan pada laga pembukaan Grup A. Tim asuhan Kim Sang Sik tidak memberi kesempatan bagi Timor Leste untuk bernapas, menyelesaikan 90 menit dengan skor gemuk 7-0 di Stadion Chonburi, Thailand, Jumat (24/7). Kemenangan besar itu sekaligus mengirim tiga poin sekaligus selisih gol terbaik untuk tim Garuda Biru di awal turnamen.
Nguyen Dinh Bac muncul sebagai tokoh utama laga tersebut. Penyerang berusia 22 tahun itu mencetak hat-trick, membuktikan klaimnya sebagai salah satu bintang masa depan sepak bola Vietnam. Kedua gol lainnya disumbang Hen Do Hoang, sementara kapten Nguyen Quang Hai dan gelandang sayap Nguyen Xuan Son masing-masing menambah satu gol. Keempat nama itu kini menduduki posisi teratas daftar pencetak gol sementara.
Di sisi lain, Singapura meraih kemenangan drama 2-1 atas tuan rumah Kamboja di Phnom Penh. Muhammad Shawal dan Ilhan Fandi menjadi penyelamat Singa Merah usai tertinggal terlebih dahulu. Gol tunggal Kamboja dijaringkan Ouk Sovann. Hasil itu menempatkan Singapura di posisi kedua Grup A dengan tiga poin, sama dengan Vietnam namun unggul selisih gol.
Dominasi Vietnam pada matchday pertama bukanlah kejutan bagi pengamat sepak bola Asia Tenggara. Sejak Kim Sang Sik menguasai timnas pada awal 2024, tim ini telah melewati transformasi taktis signifikan. Pelatih asal Korea Selatan itu menerapkan sistem pressing tinggi dan transisi cepat yang memanfaatkan kecepatan sayap serta ketajaman penyerang muda seperti Dinh Bac dan Hen Do Hoang.
Kemenangan 7-0 ini juga mencerminkan kesenjangan kualitas yang masih terasa dalam sepak bola Asia Tenggara. Timor Leste, yang masih dalam tahap pembangunan jangka panjang, kesulitan menghadapi intensitas dan disiplin taktis Vietnam. Selisih gol besar ini bisa menjadi faktor penentu di akhir fase grup, mengingat aturan fair play poin sering menjadi pembagi posisi ketika poin dan head-to-head sama.
Bagi Indonesia, hasil ini mengirim sinyal peringatan dini. Garuda, yang akan debut di Grup B melawan Myanmar pada Sabtu (25/7), kini tahu pasti standar yang harus dicapai. Vietnam telah menetapkan tolok ukur tinggi: tidak hanya menang, tapi harus menang meyakinkan dengan selisih gol besar. Pelatih Patrick Kluivert dan timnya harus memastikan tim siap secara mental dan fisik untuk mengejar target serupa.
Performa Ilhan Fandi di laga Singapura layak mendapat apresiasi. Anak legenda Fandi Ahmad itu menunjukkan kematangan di luar usianya, mencetak gol kemenangan dan menciptakan peluang berulang. Kehadirannya bersama Shawal — yang baru saja bergabung dari tim liga Jepang — memberikan dimensi baru pada serangan Singapura. Dua pemain ini bisa jadi kunci keberhasilan Singa Merah menembus babak gugur.
Daftar top skor sementara memang didominasi Vietnam: Dinh Bac (3 gol), Hen Do Hoang (2 gol), lalu Quang Hai dan Xuan Son (masing-masing 1 gol). Namun, sejarah Piala AFF menunjukkan klasemen pencetak gol sering berubah drastis setelah matchday kedua dan ketiga. Thailand, yang akan menghadapi Laos di Grup B, memiliki arsenil penyerang seperti Supachok Sarachat dan Teerasil Dangda yang siap membanjiri gawang lawan.
Malaysia, yang akan melawat ke markas Myanmar, juga membawa ancaman gol dari Faisal Halim dan Arif Aiman. Kedua pemain Selangor FC itu berada dalam performa puncak musim ini. Jika Harimau Malaya bisa meraih kemenangan besar di Yangon, nama-nama mereka akan naik ke atas klasemen top scorer dan menggeser dominasi Vietnam yang sementara.
Secara historis, Vietnam belum pernah memenangkan Piala AFF secara berurutan. Gelar terakhir mereka diraih pada 2018, lalu gagal mempertahankannya di edisi 2020 dan 2022. Kemenangan 7-0 ini bisa jadi momentum psikologis penting untuk memutus kutuk tersebut. Kim Sang Sik tampak tenang di konferensi pers pasca laga, menegaskan fokus tetap pada proses, bukan hasil sementara.
Matchday kedua akan menjadi uji nyata konsistensi. Vietnam akan menghadapi lawan yang jauh lebih berat dibanding Timor Leste. Sementara itu, Indonesia harus memanfaatkan momentum lawan yang lemah untuk membangun kepercayaan diri. Sepak bola Asia Tenggara memasuki fase di di mana selisih kualitas semakin tipis — satu kesalahan kecil bisa mengubah nasib turnamen.