Kemenangan Vietnam atas Malaysia di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Minggu (16/8) malam, bukan sekadar tiga poin menuju final Piala AFF 2026. Laga itu menandai pencapaian historis bagi tim asuhan Kim Sang Sik: 23 pertandingan berturut-turut tanpa mengenal kekalahan, rekor baru kawasan Asia Tenggara yang berhasil menggeser milestone Thailand era 1995-1996.
Dua gol yang dicetak Nguyen Hai Long dan Nguyen Van Toan di menit ke-34 dan 58 memastikan keunggulan 2-0 untuk tamu. Hasil itu sekaligus menjadi kemenangan keempat Vietnam dalam lima laga turnamen kali ini, dilengkapi satu hasil imbang. Lebih dari sekadar statistik, angka 23 itu melambangkan dominasi baru di peta sepak bola regional.
Rekor Thailand yang kini tergusur dicatat antara Desember 1995 hingga September 1996, dengan komposisi 16 kemenangan dan lima kali seri di bawah asuhan teknis Charnwit Polcheewin. Selama lebih dari 29 tahun, angka 21 itu bertahan sebagai emas standar ketahanan tim nasional di ASEAN. Vietnam tidak hanya memecahkannya, tapi melakukannya dengan gaya bermain yang lebih dominan secara statistik: 18 kemenangan dan lima seri sejak kekalahan terakhir.
Titik balik jelas terlihat pada September 2024. Vietnam tumbang 1-2 dari Thailand dalam laga persahabatan di Hanoi. Kekalahan tipis itu justru jadi katalisator. Sejak saat itu, Kim Sang Sik — yang baru resmi mengangku kursi pelatih kepala bulan Mei 2024 — membangun sistem yang mengutamakan disiplin taktis dan efisiensi di sektor depan. Tahun 2025 menjadi bukti: Vietnam tak pernah pulang kalah, menyelesaikan setiap laga dengan poin penuh.
Kestabilan ini tidak lepas dari kontribusi generasi emas Vietnam yang kini memasuki puncak usia produktif. Nguyen Tien Linh, Nguyen Quang Hai, dan Doan Van Hau membentuk tulang punggung yang saling melengkapi. Di lini depan, kemunculan penyerang muda seperti Nguyen Xuan Son menambah variasi serangan. Sementara di gawang, Filip Nguyen hadir sebagai penjaga gawang andal yang langka melakukan kesalahan fatal.
Bagi sepak bola Indonesia, rekor Vietnam ini harus jadi cermin. Garuda saat ini masih mencari identitas bermain yang konsisten di bawah era Patrick Kluivert. Ketidakstabilan hasil — menang telak lawan tim lemah tapi kalah tipis dari lawan setara — menjadi kontras tajam dengan jalannya Vietnam. Kedisiplinan taktis, regenerasi bertahap, dan kepercayaan penuh ke satu pelatih jangka panjang jadi kunci yang belum sepenuhnya dimiliki PSSI.
Di sisi lain, Thailand yang kini jadi korban rekor sendiri justru mengalami masa transisi sulit. Era Masatada Ishii belum menunjukkan pola bermain yang meyakinkan. Gajah Perang bahkan gagal lolos ke semifinal Piala AFF 2026 setelah kalah dari Malaysia di fase grup. Ironisnya, tim yang pernah jadi penguasa ASEAN kini jadi penonton saat rekor mereka dihancurkan oleh rival sejarah.
Kim Sang Sik setelah laga mengakui pencapaian itu tapi menegaskan fokus tetap ke final. "Rekor itu indah, tapi trofi lebih penting," ucap pelatih asal Korea Selatan itu di konferensi pers pasca laga. Sikap pragmatis ini yang membedakan Vietnam: mereka tidak puas pada statistik, tapi menggunakannya sebagai batu loncatan menuju gelar juara bertahan.
Leg dua semifinal di Stadion My Dinh, Hanoi, Rabu (19/8) akan jadi ujian mental berikutnya. Malaysia butuh kemenangan minimal dua gol selisih untuk melanjutkan — tugas berat mengingat Vietnam baru kalah sekali di kandang sendiri sejak 2022. Dukungan penuh 40 ribu penonton di My Dinh diprediksi jadi faktor penentu, apalagi Vietnam belum pernah kalah di babak knockout Piala AFF di tanah air sejak format turnamen berubah 2018.
Jika Vietnam lolos ke final dan merebut gelar, mereka akan menyamai rekor Thailand sebagai tim paling sukses di sejarah Piala AFF dengan enam trofi. Lebih dari itu, rekor 23 laga nirkalah bisa terus berlanjut. Final akan jadi laga ke-24, dan kemungkinan besar lawannya akan datang dari Indonesia atau Thailand — dua tim yang paling kenal betapa sulitnya menghentikan mesin Vietnam saat ini.
Jangka panjang, dominasi Vietnam menimbulkan pertanyaan fundamental bagi sepak bola ASEAN: apakah model pengembangan mereka — liga dalam negeri yang ketat, naturalisasi terarah, dan stabilitas pelatih — bisa ditiru? Atau justru menciptakan kesenjangan yang semakin sulit ditutup? Jawabannya akan menentukan arah sepak bola regional dalam dekade mendatang.