Persaingan gelar pembalap Formula 1 menyisakan ketegangan jelang Grand Prix Belgia di Spa-Francorchamps akhir pekan ini. Kimi Antonelli memimpin rekan setim Mercedes George Russell dengan margin 25 poin, sedangkan Lewis Hamilton dari Ferrari tertinggal tujuh poin lebih jauh.
Di sela persaingan poin tersebut, wacana perpindahan Max Verstappen ke McLaren mencuat sebagai topik hangat. CEO McLaren Racing Zak Brown membantah keras kemungkinan itu, namun manajemen pembalap Belanda tersebut disebut tengah menimbang opsi tim lain.
Brown secara terbuka menyatakan pembicaraan dengan perwakilan Verstappen tidak membuahkan kesepakatan apa pun. Ia menegaskan kepuasannya terhadap duet Lando Norris dan Oscar Piastri serta menolak memberikan kursi balap untuk juara dunia tiga kali itu.
Sumber di dalam tim mengungkap bahwa kontrak Verstappen di Red Bull berlaku hingga akhir 2028. Namun, terdapat klausul performa yang memungkinkan pembalap 26 tahun tersebut hengkang pada akhir musim ini jika menghendaki.
Klausul tersebut baru dapat diaktifkan mulai Oktober mendatang. Hingga saat ini, Verstappen belum menetapkan pilihan, demikian laporan koresponden F1 BBC Sport Andrew Benson yang menjawab pertanyaan pembaca jelang balapan Spa.
Ketidakpastian ini berakar pada benturan budaya tim. McLaren menjunjung filosofi keadilan, membiarkan kedua pembalapnya berduel terbuka kecuali situasi krusial seperti insiden pit stop Monza musim lalu. Verstappen pernah menertawakan pendekatan tersebut dan menolak instruksi tim di GP Brasil 2022.
Bagi penggemar di Indonesia, saga ini menambah intensitas tontonan F1 yang belakangan meroket popularitasnya via layanan streaming resmi dan komunitas digital. Jika Verstappen merapat ke McLaren, peta dukungan suporter lokal bisa bergeser karena figur dominan tersebut membawa basis fanatik besar.
Industri pemasaran olahraga tanah air juga mencatat tren serupa. Meski belum ada merek nasional yang menjadi sponsor tim F1, potensi eksposur global lewat pembalap elite kerap masuk pembahasan agency. Kondisi ini kontras dengan ajang balap lokal seperti ISSOM yang berfokus pada pasar domestik.
Perbandingan dengan struktur tim domestik memperlihatkan bahwa penerapan kesetaraan antarpembalap sering kali menemui kendala bila ada sosok berkaliber bintang. McLaren akan menanggung risiko manajerial tinggi, namun mendapat jaminan kecepatan konsisten yang sedang mereka butuhkan sebagai tim pengguna mesin customer.
Zak Brown menuturkan, "Pembicaraan dengan manajemen Verstappen tidak menuju ke mana-mana. Saya sangat senang dengan dua pembalap balapan saya dan yang tidak bisa saya tawarkan adalah kursi di mobil balapan." Pernyataan disampaikan saat GP Inggris.
Benson menambahkan bahwa setiap tim yang merekrut Verstappen bakal menghadapi tekanan ekstra, tetapi memperoleh performa puncak paling stabil di kokpit. McLaren musim ini merasakan keterbatasan sebagai tim konsumen mesin, sehingga daya tarik pembalap sekelas Verstappen sangat logis.
Menjelang Oktober, nasib klausul kontrak akan menentukan langkah selanjutnya. Jika pindah terjadi, Brown harus menyingkirkan Norris atau Piastri, manuver yang mengguncang struktur tim. Sementara itu, Sirkuit Spa dengan tikungan Eau Rouge tetap legendaris meski kini lebih mudah dilalui, dan Hamilton serta Alonso membuktikan umur bukan penghalang komitmen balapan.