Pembalap tanah air Veda Ega Pratama dan Mario Aji mengaku tidak memedulikan rumor mengenai kutukan Marc Marquez di Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok. Bagi keduanya, catatan buruk pembalap asal Spanyol tersebut di lintasan pantai itu tidak memiliki korelasi dengan persiapan mereka menghadapi balapan kandang.
Marc Marquez memang menjadi sorotan tersendiri setiap kali ajang MotoGP digelar di Indonesia. Pemilik delapan gelar juara dunia yang baru saja mengunci titel MotoGP 2025 ini tercatat gagal menyelesaikan balapan di Mandalika pada empat musim beruntun. Pada edisi 2025, juara dunia asal Spanyol itu langsung terpuruk setelah motornya masuk ke area gravel di putaran awal.
Narasi soal 'Marquez Curse' pun bermunculan di kalangan pecinta balap motor Tanah Air. Sirkuit Internasional Mandalika kerap dikaitkan dengan kesialan bagi pembalap Spanyol tersebut. Spekulasi pun berkembang liar, mulai dari faktor teknis hingga hal gaib yang disebut membuat Marquez tak pernah bisa menuntaskan lomba di Pulau Lombok.
Namun, Veda Ega dan Mario Aji memiliki pandangan yang jauh berbeda. Mereka menilai fenomena tersebut murni berkaitan dengan karakteristik sirkuit, bukan sesuatu yang mistis. Mandalika memiliki panjang lintasan 4,31 kilometer dan berada tepat di pinggir pantai, menjadikannya salah satu sirkuit dengan tantangan angin paling unik di kalender MotoGP.
Kondisi angin yang bertiup kencang dan arah yang sulit diprediksi menjadi variabel krusial di Mandalika. Veda Ega menduga suhu udara serta hembusan angin laut memengaruhi performa dan kestabilan motor besar yang ditunggangi Marquez. Faktor fisik ini jauh lebih masuk akal dibandingkan harus percaya pada sebuah kutukan yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.
Kehadiran Veda Ega dan Mario Aji di kejuaraan bergengsi ini membawa angin segar bagi ekosistem balap motor Indonesia. Meski belum berada di level MotoGP seperti Marquez, keikutsertaan mereka membuktikan bahwa Indonesia mulai diperhitungkan dalam peta persaingan motorsport dunia. Dukungan publik lokal di Mandalika nantinya diharapkan bisa menjadi kekuatan ekstra bagi kedua pembalap.
Psikologis pembalap menjadi kunci saat berlaga di depan pendukung sendiri. Berbeda dengan Marquez yang terbebani ekspektasi tinggi namun gagal, Veda dan Mario justru bisa menikmati proses karena tidak membawa beban sebagai favorit juara. Fokus mereka tertuju pada penyelesaian balapan dan pengumpulan pengalaman, bukan pada mitos yang berkembang di media sosial.
Bagi industri olahraga nasional, momen ini adalah panggung promosi yang efektif. Sirkuit Mandalika tidak hanya dikenal karena pemandangan alamnya, tetapi juga karena karakter lintasannya yang menguji nyali. Ketika pembalap lokal bisa beradaptasi dengan baik, citra positif Indonesia sebagai tuan rumah balapan kelas dunia semakin menguat di mata internasional.
'Kalau kami berdua tidak percaya. Ya, kutukannya buat Marquez kan bukan buat kami,' ucap Veda Ega di Jakarta pada Selasa (24/7) lalu, mengutip laporan Antara. Pembalap kelahiran Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta, itu menegaskan bahwa anggapan dari pihak luar justru lebih menjerumuskan dan sama sekali tidak memengaruhi konsentrasi mereka berdua.
Veda Ega menambahkan, angin di Mandalika memang kurang bersahabat bagi sebagian pembalap. 'Mungkin karena suhu atau angin. Angin yang arahnya tidak bisa diprediksi karena kami ada di pinggir laut,' ujar pembalap asal Yogyakarta tersebut saat menyoroti penyebab kegagalan Marquez. Analisis ini menunjukkan kedewasaan teknis pembalap muda Indonesia dalam membaca kondisi sirkuit.
Persaingan di musim MotoGP 2026 mendatang akan kembali dinanti untuk melihat apakah Marquez bisa mematahkan rekor negatifnya di Lombok. Sementara itu, Veda Ega dan Mario Aji dipastikan akan turun pada gelaran GP Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 9 hingga 11 Oktober. Mereka siap memberikan yang terbaik di hadapan pencinta motorsport Tanah Air.
Tren positif pembinaan atlet balap di Indonesia mulai menunjukkan hasil nyata. Ke depannya, kolaborasi antara pengelola sirkuit, federasi, dan sponsor lokal harus terus digencarkan agar lebih banyak nama Indonesia yang bisa menembus kelas utama MotoGP. Mandalika bukan sekadar tempat menguji kutukan, melainkan arena pembuktian talenta lokal di level global.