Manchester United mengamankan kemenangan telak 5-2 saat menjamu Ipswich Town di Old Trafford pada Minggu, 30 Agustus 2026. Bruno Fernandes mencetak hat-trick dan memberikan satu assist, namun perhatian tertuju pada gol kedua yang tercipta pada menit ke-56.
Dalam aksi tersebut, Harry Maguire berusaha menembak keras dari jarak dekat. Sebelum bola menyentuh kaki Jacob Greaves yang kemudian memasukkan bola ke gawang sendiri, kamera merekam tangan Maguire menyentuh bola saat perebutan. Wasit dan tim VAR memeriksa insiden tersebut sebelum memutuskan gol tetap sah.
Menurut penjelasan resmi dari Match Centre Premier League, VAR menilai handball Maguire tidak disengaja. Selain itu, Maguire bukan pencetak gol karena bola masuk melalui own goal Greaves. Aturan terbaru IFAB menyatakan pelanggaran tangan yang tidak sengaja tidak dihukum jika pelaku tidak langsung mencetak gol.
Keputusan ini sejalan dengan interpretasi bahwa tendangan Maguire tidak mengarah ke gawang, melainkan meleset dan justru memicu kesalahan pertahanan lawan. Jika tembakan tersebut pada sasaran, gol akan dibatalkan. Hal ini menjadi referensi baru bagi wasit dan VAR dalam menilai handball di zona berbahaya.
Usai laga, Maguire mengakui tidak sengaja menyentuh bola. "Saya belum melihat tayangan ulangnya, jadi saya tidak bisa berkomentar. Saya tahu itu tipis. Itu bukan handball yang disengaja," ujarnya kepada BBC. Ia juga menambahkan bahwa tendangannya meleset dan itulah alasan gol tetap dihitung.
Reaksi netizen dan pundit sepak bola terbagi. Sebagian menganggap keputusan VAR konsisten dengan aturan terbaru, sementara yang lain menilai adanya ruang ambiguitas yang memungkinkan interpretasi subjektif. Diskusi di media sosial menunjukkan ketidakpuasan sebagian penggemar Ipswich yang merasa dirugikan.
Di Indonesia, penerapan VAR di Liga 1 mulai musim 2023/2024 juga menghadapi tantangan serupa. Beberapa keputusan handball di zona kotak penalti memicu protes klub dan suporter karena perbedaan penafsiran antara wasit lapangan dan tim VAR. Kasus Maguire menjadi studi kasus relevan untuk peningkatan standar officiating di tanah air.
Komisi Wasit PSSI telah mengadakan workshop bersama FIFA untuk menyamakan pemahaman aturan handball terbaru. Namun, konsistensi dalam lapangan masih menjadi PR, terutama saat menilai apakah sentuhan tangan disengaja atau tidak dalam kecepatan tinggi.
Dampak keputusan ini melampaui sekadar hasil pertandingan. Bagi para analis taruhan dan fantasy football, kejelasan aturan handball memengaruhi prediksi gol dan poin pemain. Ketidakpastian aturan dapat menggeser nilai pasar pemain seperti Maguire yang kerap terlibat duel fisik di kotak penalti.
Mengarah ke depan, IFAB dijadwalkan meninjau kembali aturan handball pada pertemuan tahunan bulan Maret 2027. Usulan untuk memperjelas definisi "tidak sengaja" dan menetapkan batas toleransi sentuhan tangan di area berbahaya diharapkan dapat mengurangi kontroversi serupa.
Bagi Manchester United, kemenangan ini memperkuat posisi mereka di klasemen awal musim. Manajer Erik ten Hag menilai tim menunjukkan karakter kuat meski harus berhadapan dengan keputusan yang memicu perdebatan. Fokus berikutnya adalah mempertahankan momentum saat menghadapi lawan yang lebih keras di pekan mendatang.
Kesimpulannya, insiden handball Maguire menegaskan pentingnya keselarasan antara aturan tertulis, teknologi VAR, dan keputusan wasit di lapangan. Konsistensi penerapan akan menentukan kepercayaan publik terhadap keadilan kompetisi, baik di Premier League maupun di liga domestik Indonesia.