Sepakbola

VAR Diperketat UEFA, Kepala Wasit: Sepak Bola Bukan PlayStation

Ringkasan

  • Kepala Wasit UEFA Roberto Rosetti menegaskan VAR harus lebih bijaksana dan tidak terlalu sering mengintervensi pertandingan.
  • Ia menyebut sepak bola bukan PlayStation.
  • UEFA juga meluncurkan portal Clear Line untuk memperjelas penggunaan VAR.

Jakarta, CNN Indonesia — Kepala Wasit UEFA Roberto Rosetti menegaskan bahwa penggunaan Video Assistant Referee (VAR) harus lebih bijaksana dan tidak terlalu sering mengintervensi jalannya pertandingan. Sebab, menurutnya ini pertandingan sepak bola bukan PlayStation.

Rosetti menyampaikan hal tersebut setelah bertemu dengan sejumlah kepala wasit dari liga-liga top Eropa. Pertemuan itu melibatkan perwakilan dari Inggris, Spanyol, Jerman, Prancis, dan Italia untuk membahas bagaimana VAR bisa digunakan dengan pendekatan yang lebih seragam.

Menurut Rosetti, saat ini masih banyak pihak yang belum puas dengan pengaruh VAR terhadap pertandingan sepak bola.

"Kami menyadari bahwa di mana-mana sekarang tidak ada kepuasan tentang bagaimana VAR memengaruhi sepak bola," kata Rosetti di AOL.

Ia menilai ada sejumlah tinjauan VAR yang justru terlalu fokus pada hal-hal kecil sehingga mengganggu pertandingan. Karena itu, konteks sebuah kejadian harus tetap menjadi pertimbangan utama.

"Jadi, kami ingin menghindari situasi yang terlalu kecil. Konteks sangat penting. Ini sepak bola, bukan PlayStation. Kita harus sangat, sangat berhati-hati," ujar Rosetti.

Rosetti juga menegaskan bahwa wasit di lapangan harus tetap menjadi pengendali utama pertandingan. VAR hanya seharusnya membantu ketika terjadi kesalahan yang jelas.

"Wasit harus memimpin pertandingan. Itu hal penting dalam sepak bola, untuk situasi yang jelas dan kesalahan yang jelas," kata Rosetti.

Untuk memperjelas penggunaan VAR, UEFA juga meluncurkan portal bernama Clear Line. Portal tersebut dibuat untuk memberikan penjelasan kepada penggemar mengenai kapan VAR harus melakukan intervensi dan kapan sebaiknya tidak ikut campur.

Dalam prosedur yang dibahas, wasit akan melihat beberapa tahapan gambar saat meninjau insiden, mulai dari titik kontak, gerakan lambat, hingga rekaman dengan kecepatan penuh.

Langkah ini diharapkan membuat penggunaan VAR lebih konsisten sekaligus menjaga pertandingan tetap mengalir dan tidak terlalu sering terhenti.

Bagi Indonesia, perdebatan tentang VAR bukan hal asing. PT Liga Indonesia Baru (LIB) telah menerapkan VAR sejak putaran kedua Liga 1 2023/2024. Namun, penerapannya masih menyisakan sejumlah catatan, terutama terkait konsistensi keputusan dan sosialisasi kepada klub maupun suporter.

Kehadiran portal Clear Line dari UEFA bisa menjadi acuan bagi PSSI dan LIB untuk meningkatkan kualitas penggunaan VAR di kompetisi domestik. Transparansi seperti yang ditawarkan UEFA perlu ditiru agar keputusan wasit lebih bisa diterima publik.

Rosetti menekankan bahwa filosofi utama VAR adalah intervensi minimal untuk kesalahan maksimal. Bukan justru sebaliknya. Pesan itu relevan untuk semua liga, termasuk Indonesia, yang masih mencari formula ideal penerapan teknologi ini.

Kendati demikian, perubahan prosedur VAR ala UEFA tidak serta merta menghilangkan kontroversi. Banyak penggemar sepak bola yang tetap menginginkan detail lebih, terutama dalam keputusan offside yang sering kali menjadi perdebatan.

UEFA menyadari hal itu. Karena itu, portal Clear Line disusun untuk menjembatani ekspektasi penggemar dengan realitas di lapangan. Dengan begitu, diharapkan tidak ada lagi tudingan bahwa VAR merusak romantisme sepak bola.

Langkah selanjutnya, UEFA akan mensosialisasikan pendekatan baru ini ke seluruh liga anggota. Rosetti optimistis kebijakan tersebut mampu mengembalikan esensi sepak bola sebagai olahraga yang mengalir, bukan sekadar tontonan yang terputus-putus di depan layar monitor.

Mengapa Ini Penting

Kebijakan UEFA ini menjadi sinyal kuat bagi federasi sepak bola di seluruh dunia, termasuk Indonesia, bahwa VAR bukanlah alat untuk mengintervensi setiap detail kecil. Bagi Liga 1 yang masih beradaptasi dengan VAR, arahan ini bisa menjadi parameter untuk memperbaiki kualitas perwasitan. Jika UEFA berhasil mengembalikan alur pertandingan tanpa mengorbankan akurasi, maka Indonesia pun perlu menyesuaikan diri agar tidak tertinggal dalam tren perwasitan global. Ini juga menjawab kritik penggemar yang merasa VAR sering memecah konsentrasi dan mengurangi kenikmatan menonton.

Sumber Asli
CNN Indonesia Sepak Bola
Tanggal
11 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit