Para favorit juara Tour de France bersiap menghadapi ujian pendakian ketinggian pertama mereka pada Kamis ini, saat edisi ke-113 ajang balap sepeda paling bergengsi di dunia tersebut memasuki etape terakhir di kawasan Pyrenees. Peloton dijadwalkan menempuh rute sepanjang 186,2 km dari Pau menuju Gavarnie-Gedre. Etape keenam ini dipastikan akan sangat menantang dengan total akumulasi tanjakan mencapai 4.100 meter yang tersebar di lima titik pendakian terkategori, termasuk finis di puncak tanjakan.
Salah satu tantangan paling ikonik dalam sejarah balap sepeda, Col du Tourmalet, akan menjadi medan pertempuran utama bagi para pembalap. Puncak tanjakan legendaris ini terletak sekitar 38 km dari garis finis. Meskipun penyelenggara balapan sengaja merancang rute Pyrenees tahun ini agar tidak terlalu menentukan hasil akhir—dengan menempatkan etape yang lebih berat di Pegunungan Alpen pada minggu terakhir—Tourmalet tetap dianggap sebagai indikator kekuatan fisik yang krusial.
Direktur olahraga penyelenggara balapan, Jean-Michel Monin, menyatakan bahwa etape ini kemungkinan akan dimanfaatkan oleh para pembalap spesialis tanjakan dan mereka yang mengejar kemenangan etape dari kelompok pelarian (breakaway). Namun, ia juga mencatat bahwa dinamika di Col d'Aspin, yang terletak 30 km sebelum Tourmalet, dapat memicu tim-tim besar untuk menaikkan tempo serangan lebih awal guna menguji ketahanan lawan.
Di kubu tim papan atas, harapan akan persaingan ketat sangat tinggi. Julien Jurdie, direktur olahraga Decathlon CMA CGM, meyakini bahwa tim-tim raksasa seperti UAE Team Emirates dan Visma-Lease a Bike tidak akan tinggal diam. Menurutnya, Tadej Pogacar diprediksi akan mencoba menguji rival-rival utamanya di tanjakan yang terkenal kejam ini. Strategi agresif sering kali muncul di Tourmalet, seperti yang pernah ditunjukkan Jonas Vingegaard tiga tahun lalu meskipun ia sempat kehilangan posisi di tanjakan akhir.
Di sisi lain, CEO UAE Team Emirates, Mauro Gianetti, mencoba meredam ekspektasi publik dengan menyatakan bahwa meski etape ini penting, ia tidak mengantisipasi terciptanya selisih waktu yang signifikan antar favorit juara. Namun, dengan segala elemen pendukung yang ada, panggung di Pyrenees ini tetap menjadi titik balik yang akan menentukan siapa saja pembalap yang mampu bertahan dalam perburuan gelar juara umum hingga etape terakhir di Paris.