Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Senin (3/8) malam memadati ribuan suporter Timnas Indonesia yang menunggu laga ketiga fase grup Piala AFF 2026 lawan Vietnam. Di antara lautan merah putih, tujuh wajah asing tampak melebur — mereka suporter Vietnam yang sengaja 'nyetadron' demi menyalurkan semangat bagi Prajurit Bintang Emas.
Ketujuh mereka bukan rombongan yang terbang langsung dari Hanoi atau Ho Chi Minh. Nguyen Dao, Nguyen Thuan, dan lima rekan lainnya ternyata pekerja pabrik asal Negeri Naga Biru yang bertempat di Subang, Jawa Barat. Kehadiran mereka jadi bukti nyata betapa dekatnya jarak geografis dan emosional antara kedua negara sepak bola ini.
Dao dan Thuan tak menyangka penerimaan begitu hangat. "Atmosfernya luar biasa, banyak suporter Indonesia yang hadir di sini. Mereka juga ramah-ramah kepada kami. Beberapa dari mereka langsung menyapa kami," ujar Dao saat ditemui CNN Indonesia sekitar 2,5 jam sebelum kickoff pukul 20.30 WIB. Thuan menimpali, "Ya kami sangat menyukainya. Kami hanya merupakan sebagian kecil dari mereka."
Kesan positif itu tidak melumpuhkan keyakinan mereka pada tim kesayangan. Keduanya kompak memprediksi Vietnam menang 2-1. "Prediksi skor 2-1. Dua untuk Vietnam, satu untuk Indonesia. Tetapi saya tetap bilang 'Ayo Indonesia','" ucap mereka serentak — frasa yang mengungkapkan dinamika unik rivalitas yang dipadukan hormat.
Nama Doan Van Hao jadi alasan utama mereka beli tiket. "Pemain favorit saya, Doan Van Hao. Dia pemain yang agresif. Penonton seperti saya selalu menunggu aksinya di lapangan," tutur Thuan. Van Hao memang dikenal sebagai sayap berkecepatan tinggi yang kerap jadi penentu laga Vietnam di turnamen regional.
Di sisi lawan, sosok Mitchell Baker jadi perbincangan hangat. Thuan tak segan memuji gelandang naturalisasi itu. "Saya menyukai Mitchell [Baker] dari Indonesia. Dia pemain yang luar biasa," ungkapnya. Baker, yang baru debut resmi di kualifikasi Piala Asia U-23 beberapa bulan lalu, memang jadi sorotan berkat visi bermain dan kemampuan mengatur tempo di tengah lapangan.
Namun ketika ditanya pemain Indonesia paling terkenang, jawaban Thuan mengejutkan: "Bagi saya, pemain Indonesia yang paling diingat adalah Bambang Pamungkas." Nama 'Bepe' tetap bergema di benak penggemar lawan hingga kini, meski sang legenda sudah menggantung sepatu boot sejak 2019. Hal itu menunjukkan warisan emosional yang tak tergantikan oleh sekadar performa musiman.
Kehadiran suporter lawan di stadion tuan rumah bukan hal baru di Piala AFF, namun jumlah yang minim — hanya tujuh orang — mencerminkan tantangan logistik dan biaya bagi warga Vietnam bekerja di Indonesia. Kebanyakan suporter Vietnam di edisi sebelumnya datang via paket wisata resmi dari federasi mereka. Kali ini, komunitas pekerja migran jadi representasi organik.
Dari perspektif keamanan, kehadiran kelompok kecil justru memudahkan pengamanan. Petugas tidak perlu mengelola blok suporter lawan yang terpisah — mereka duduk bercampur dengan penonton netral. Hal ini menciptakan atmosfer 'derbi sahabat' yang jarang terlihat di pertandingan tingkat tinggi.
Secara kompetitif, laga ini krusial bagi kedua tim. Indonesia butuh poin penuh untuk memastikan posisi puncak grup, sedangkan Vietnam harus mengejar kemenangan setelah hasil imbang di dua laga awal. Tekanan psikologis ada di tim pelatih Kim Sang-sik, yang catatannya melawan Indonesia di era modern cenderung sulit.
Proyeksi ke depan, kehadiran suporter Vietnam pekerja migran bisa jadi cikal bakal komunitas suporter lintas batas yang lebih terorganisir. Jika liga domestik Indonesia terus menarik pemain asing berkualitas, dan tenaga kerja Vietnam terus masuk ke kawasan industri Jawa Barat, potensi 'away fans' yang rutin nongkrong di stadion Indonesia terbuka lebar. Bukan mustahil musim depan kita lihat rombongan puluhan, bukan hanya tujuh.