Timnas Inggris tersingkir dari Piala Dunia setelah kalah 2-1 dari Argentina di semifinal, hasil yang mengulang kebiasaan buruk era Gareth Southgate meski kini ditangani Thomas Tuchel. Kekalahan itu memunculkan pertanyaan nyata apakah pergantian pelatih dari Southgate ke Tuchel benar-benar mengubah cara main Inggris di turnamen besar.
Pada laga semifinal tersebut, Inggris terlihat terlalu pragmatis, lambat memasukkan pemain cadangan, dan terlalu dalam bertahan. Saat bertemu lawan sekelas Argentina untuk pertama kalinya di turnamen, mereka langsung hancur. Kritik itu familiar bagi publik sepak bola Inggris karena kerap dilontarkan terhadap era Southgate, meski tidak selalu adil.
Tuchel datang pada Maret 2025 dengan janji membawa pendekatan baru. Pria Jerman itu menggantikan Southgate yang mengakhiri tugas usai Euro 2024. Harapan utamanya sederhana: membawa Inggris juara dunia untuk pertama kalinya dalam 60 tahun dengan gaya main yang jelas, bukan sekadar mengandalkan individu.
Sebelum turnamen, Tuchel terang-terangan mengkritik Euro 2024. Ia menilai tim Southgate tidak punya gaya main yang jelas. Identitas, ritme, pengulangan pola, hingga kelaparan untuk menang dinilai hilang. Menurut Tuchel, Inggris saat itu lebih takut tersingkir daripada bersemangat merebut gelar.
Enam belas bulan berselang, analisis Tuchel terhadap pendahulunya justru bisa dipakai untuk menilai kekalahan timnya sendiri dari Argentina. Perubahan yang dijanjikan tidak terlihat saat pertandingan penentuan. Inggris kembali gagal saat tekanan tertinggi datang dari lawan elite.
Perbedaan mendasar terletak pada filosofi. Tuchel menerapkan pendekatan sistem di atas segalanya. Ia mencoret nama-nama teknis seperti Phil Foden, Cole Palmer, dan Trent Alexander-Arnold karena tidak cocok dengan skema. Ia lebih dulu menentukan profil pemain yang dibutuhkan, baru memilih orangnya.
Hal itu memicu debat pra-turnamen soal siapa yang layak jadi gelandang serang: Jude Bellingham atau Morgan Rogers. Pun soal sayap kiri antara Anthony Gordon dan Marcus Rashford. Tuchel ingin profil serupa agar Plan A berjalan. Nyatanya, cedera memaksanya memainkan Rogers dan Bellingham bersama di sayap kanan.
Prinsip utama Tuchel meniru gaya Premier League terkini: build-up pendek, tekanan tinggi, transisi cepat lewat carry atau umpan panjang ke ruang kosong. Melawan Kroasia di laga pembuka, kemenangan 4-2 pada babak kedua jadi contoh paling dekat dengan visinya. Namun, trik segitiga sayap untuk ciptakan peluang tak pernah benar-benar jalan.
Southgate memulai dari arah sebaliknya. Ia meracik tim dari bawah lewat pendekatan berbasis pemain. Tujuannya memaksimalkan talenta terbaik ke dalam sebelas pemain seimbang. Alexander-Arnold yang kesulitan di tengah adalah contoh kelemahan cara ini, tapi Southgate tetap melaju jauh berkat set-piece dan manajemen pemain.
Ironinya, Tuchel sempat mengeluh usai menang atas Norwegia: hasil oke tapi performa buruk, ceroboh, dan tak repetitif. Dua gol Inggris saat itu lahir dari kejeniusan individu melawan pertahanan berantakan, bukan skema. Itu lebih mirip gaya Southgate ketimbang Tuchel.
Bagi penggemar di Tanah Air, gagalnya Tuchel merombak total Inggris jadi pengingat bahwa mengganti pelatih asing belum tentu memperbaiki timnas. Di Indonesia, banyak klub dan timnas berharap pelatih Eropa langsung membawa sistem menang. Nyatanya, adaptasi pemain dan kultur tetap penentu.
Ke depan, Federasi Sepak Bola Inggris perlu evaluasi apakah sistem kaku Tuchel layak dilanjutkan. Jika Plan A gagal lawan tim besar, fleksibilitas jadi keharusan. Tren pelatih sistem-first di timnas mungkin akan diuji ulang oleh banyak negara setelah pengalaman Inggris ini.