Thomas Tuchel menyatakan bahwa minimnya penguasaan bola bukanlah skema yang ia rancang, melainkan kebiasaan yang sudah melekat dalam permainan timnas Inggris. Pernyataan tersebut muncul sehari setelah The Three Lions tersingkir dari Piala Dunia 2026 usai kalah 1-2 dari Argentina di babak semifinal.
Inggris sejatinya sudah unggul 1-0 lewat gol Gordon hingga memasuki 10 menit terakhir laga. Mimpi mereka melaju ke final sirna setelah Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez membalikkan keadaan untuk Argentina. Kekalahan itu memicu kritik tajam dari publik dan eks pemain terhadap Tuchel.
Dalam wawancara bersama Sky News, Tuchel tak menampik bahwa gaya bermain Inggris kerap kehilangan kendali saat lawan meningkatkan tekanan. Ia menyoroti aspek budaya bermain yang disebutnya belum mencakup penguasaan bola sebagai hal mendasar. Menurutnya, hal itu berbeda dengan negara-negara Amerika Selatan dan Spanyol.
Istilah DNA dalam sepak bola kerap dipakai untuk menggambarkan identitas permainan yang turun-temurun. Tuchel menganggap Inggris belum memiliki DNA menguasai bola seperti Spanyol, Argentina, atau Brasil. Ketiga negara itu sejak awal terbiasa mengambil inisiatif dan memegang kendali pertandingan lewat umpan-umpan pendek.
Kondisi itu bukan sekadar soal taktik, tetapi juga mentalitas pemain dalam menghadapi situasi tertentu. Ketika Argentina mendominasi lini kedua, gelandang Inggris gagal memotong aliran bola. Tuchel menilai mereka seharusnya bisa merebut bola untuk memutus tekanan lawan dan mengambil momentum.
Kegagalan di semifinal Piala Dunia 2026 menjadi catatan buruk bagi proyek Tuchel sejak menukangi Inggris. Hasil ini juga memicu perbandingan dengan era pelatih sebelumnya yang kerap dikritik karena gaya main pragmatis. Bagi penggemar di Indonesia, isu ini relevan karena skuad Garuda kerap menghadapi dilema serupa saat berjumpa tim dengan penguasaan bola tinggi.
Liga Inggris memang menjadi kompetisi paling populer di Indonesia. Banyak suporter dalam negeri yang mengidolakan gaya pressing dan transisi cepat ala Premier League. Namun, ketika pemain Inggris berkumpul di timnas, adaptasi terhadap penguasaan bola terstruktur kerap tak maksimal. Hal ini menunjukkan bahwa budaya klub belum sepenuhnya terbawa ke level internasional.
Dampaknya terlihat jelas saat Inggris butuh kestabilan di menit akhir. Setelah gol Gordon, momentum berubah total dan penguasaan bola menurun drastis. Tuchel mengaku belum melihat data pertandingan, namun ia melihat timnya kehilangan duel dan akhirnya bertahan terlalu dalam.
"Kami tak mampu menghentikan mereka yang datang dari lini kedua, gelandang mereka. Kami seharusnya bisa merebut bola, karena bila tidak kami tentu tidak bisa mematahkan tekanan mereka," ucap Tuchel. Ia menegaskan bahwa posisi bertahan dalam bukan rencana, melainkan konsekuensi dari situasi di lapangan.
"Saya pikir penguasaan bola bakal memainkan peranan penting, dan mungkin itu tidak ada dalam DNA kami seperti halnya itu ada di DNA timnya Spanyol, atau seperti halnya DNA Argentina dan Brasil," kata Tuchel. Pernyataan itu mempertegas bahwa ia melihat ada defisit identitas dalam skuad asuhannya.
Inggris masih memiliki laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis. Laga tersebut bisa jadi ajang pembuktian apakah Tuchel mampu meracik permainan lebih matang. Namun, tanpa perbaikan pada aspek penguasaan bola, tekanan atas Tuchel diprediksi akan terus berlanjut.
Ke depan, federasi sepak bola Inggris perlu mengevaluasi pembinaan usia dini jika ingin mengubah DNA timnas. Fokus pada penguasaan bola harus masuk sejak akademi klub. Tanpa perubahan struktural, timnas Inggris berisiko kembali gagal saat turnamen besar berikutnya.
Di Indonesia, isu serupa mengingatkan pentingnya kurikulum latihan berbasis penguasaan bola di sekolah sepak bola lokal. Ketergantungan pada fisik dan transisi cepat perlu dilengkapi dengan kemampuan mengatur tempo. Hal itu menjadi kunci jika Garuda ingin bersaing di level Asia Tenggara maupun Asia.
Perspektif Indonesia: Penggemar sepak bola tanah air mayoritas mengonsumsi Liga Primer Inggris lewat siaran televisi dan platform streaming. Kegagalan Inggris di Piala Dunia kerap memicu diskusi di komunitas suporter lokal mengenai efektivitas gaya main yang diajarkan di klub elite. Untuk pelatih muda Indonesia, pengamatan Tuchel bisa jadi pelajaran bahwa taktik menyerang harus dibangun di atas fondasi penguasaan bola, bukan sekadar reaksi di atas lapangan.