Thomas Tuchel meninggalkan Miami dengan wajah tidak puas meski timnya lolos ke semi‑final Piala Dunia setelah mengalahkan Norwegia 2‑1 melalui extra time. Dua gol Jude Bellingham (menit ke‑47 dan ke‑93) membawa Inggris unggul, namun pelatih asal Jerman itu menyebut kemenangan tersebut “lucky” dan “sloppy”.
“Kami beruntung,” kata Tuchel setelah pertandingan yang diwarnai banyak insiden. “Kami membuat hidup kami sendiri sangat sulit. Hasilnya fantastis, kami ada di empat besar, tapi saya tidak puas dengan performa – dalam segala hal.
Kami bermain ceroboh, banyak kesalahan teknis, tidak cukup cepat, dan tidak repetitif enough.” Tuchel menambahkan bahwa satu hal yang membantu Inggris adalah “mentalitas murni” mereka.
Di luar lapangan, suporter Inggris merayakan kemenangan tersebut di tribun, bahkan kapten Harry Kane berpose untuk disambut ribuan penggemar yang datang dari jauh. Sementara itu, Bellingham dan Pickford terlibat insiden kepala akibat euforia.
Secara keseluruhan, Inggris menunjukkan ketangguhan selama turnamen ini. Setelah menang 4–2 atas Kroasia di laga pembuka, mereka kesulitan mengalahkan Ghana (1‑1), Panama (2‑0), DR Kongo (3‑2 dengan 10 orang), dan Meksiko (3‑2). Setiap pertandingan membutuhkan penyelamatan individu dan mental baja.
Mantan kapten Inggris Alan Shearer memuji Tuchel karena “berani” mengkritik penampilan timnya, hal yang jarang dilakukan pelatih sebelumnya. Wayne Rooney setuju bahwa sikap mentalitas Tuchel “tepat” dan memuji karakter pemain yang tetap kompak meski kehilangan Ezri Konsa karena cedera dan Declan Rice yang baru pulih.
Matt Upson, bek yang pernah membela Inggris, bahkan merasa Norwegia akan menang di menit ke‥ sebelum akhir babak pertama. Namun, Inggris berhasil bangkit, membuktikan ketangguhan yang menjadi kunci mereka melaju ke empat besar.
Bellingham membela rekan-rekannya, menyebut kondisi panas dan lembap Miami serta kualitas lawan seperti Erling Haaland dan Martin Odegaard sebagai faktor yang membuat pertandingan sulit. “Kadang-kadang Anda harus menang dengan cara kotor, dan kami melakukannya hari ini,” katanya.
Menjelang semi-final melawan Argentina, Tuchel mengingatkan bahwa cinta-nya pada pemain tidak mengurangi ekspektasinya. “Kami bisa bermain lebih baik, masih banyak yang harus ditingkatkan,” ujarnya. Waktu pemulihan setelah pertandingan selama 122 menit menjadi tantangan tambahan bagi Inggris.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan Inggris ini menawarkan pelajaran berharga tentang mentalitas juara. Ketangguhan yang ditunjukkan Inggris, kemampuan bangkit dari kesulitan, dan sikap kritis pelatih yang jujur mencerminkan semangat yang bisa menginspirasi pemain muda dan komunitas sepak bola lokal untuk tidak pernah puas dengan hasil sementara dan selalu mengejar perbaikan.
Bagi industri sepak bola Indonesia, cerita ini relevan karena meningkatkan minat terhadap Piala Dunia dan bisa memicu diskusi tentang pentingnya mentalitas dalam pengembangan pemain. Cerita tentang seorang pelatih yang berani mengkritik timnya juga bisa menjadi contoh bagi pelatih lokal dalam membentuk budaya akuntabilitas dan pertumbuhan.
Secara keseluruhan, kemenangan Inggris atas Norwegia menunjukkan bahwa mentalitas saja mungkin cukup untuk mencapai semi-final, namun untuk menjadi juara, mereka harus meningkatkan kualitas teknis, kecepatan, dan ketepatan. Bagaimana Tuchel akan mempersiapkan timnya menghadapi Argentina akan menjadi ujian sejati apakah mentalitas tersebut bisa membawa trofi Piala Dunia kedua Inggris.