Thomas Tuchel mengambil tanggung jawab penuh atas kegagalan Timnas Inggris melangkah ke final Piala Dunia 2026 setelah dihajar comeback Argentina. Keputusan pelatih asal Jerman itu menarik dua pemain kunci tiga menit jelang gol penyama kedudukan menjadi awal runtuhnya The Three Lions.
Inggris sebenarnya memegang keunggulan 1-0 dan punya kans menutup laga dengan kemenangan. Tuchel memilih menarik keluar Declan Rice dan Reece James untuk beralih ke formasi lima bek. Alih-alih mengamankan posisi, langkah tersebut justru membuat timnya bermain pasif dan kehilangan kendali bola.
Enzo Fernandez mencetak gol penyeimbang tak lama setelah pergantian tersebut, sebelum Argentina menambah satu gol lagi untuk membalikkan keadaan. Kekalahan itu mengakhiri mimpi Inggris di turnamen elite dunia dan memaksa mereka berebut posisi ketiga melawan Prancis.
Tuchel menjelaskan bahwa celah di lapangan tengah terlalu terbuka sehingga ia merasa perlu menambah satu bek. Argentina saat itu mulai bermain tanpa beban, lebih berani mengambil risiko, dan menekan Inggris mundur. Kondisi itu membuat formasi baru justru menjadi bumerang bagi tim tamu.
Menurut pelatih 52 tahun tersebut, ketika unggul, para pemainnya tiba-tiba bermain dengan ketakutan kehilangan kemenangan. Perasaan itu membuat mereka tidak lagi leluasa menguasai bola dan membiarkan lawan mengambil inisiatif serangan. Situasi psikologis semacam itu kerap menjangkiti tim besar saat berada di ambang kemenangan.
Kejadian ini kembali memunculkan diskusi soal mentalitas timnas Inggris di pentas internasional. Namun Tuchel menolak keras anggapan bahwa ada kutukan tertentu. Ia menilai setiap kegagalan terjadi dalam konteks pelatih, pemain, dan situasi yang berbeda-beda.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kejadian ini menyajikan pelajaran berharga tentang risiko mengubah taktik saat tim sedang unggul. Banyak pelatih lokal kerap melakukan pergantian defensif prematur di menit akhir, padahal tekanan lawan belum sepenuhnya reda. Kesalahan serupa kerap terlihat di Liga 1 ketika tim memimpin tipis lalu mundur terlalu dalam.
Dampak psikologis juga relevan dengan skuad Garuda yang kerap kehilangan poin setelah unggul. Timnas Indonesia beberapa kali kecolongan gol balasan di Kualifikasi Piala Dunia lalu akibat kepanikan saat memegang keunggulan. Pola ini menunjukkan bahwa masalah bukan sekadar teknis, melainkan juga penguasaan emosi di lapangan.
Tuchel menegaskan bahwa tanggung jawab atas hasil buruk berada di tangan pelatih. "Kami memutuskan untuk beralih ke lima bek karena celah di lapangan terlalu terbuka," ujarnya mengutip pernyataan kepada The Guardian. Ia menambahkan bahwa pergantian pemain ofensif tidak akan membantu dalam situasi tersebut.
"Argentina bermain dengan lebih banyak risiko, lebih berirama, dan bermain dengan perasaan seolah-olah mereka tidak punya beban lagi," kata Tuchel. Pelatih mantan Chelsea itu mengakui formasi 4-4-2 yang pasif membuat Inggris kebobolan banyak peluang dan gagal mengontrol jalannya laga.
Inggris kini harus membalas kekecewaan dengan menghadapi Prancis pada laga perebutan tempat ketiga, Minggu (19/7) dini hari WIB. Pertandingan tersebut menjadi ujian terakhir bagi Tuchel untuk membuktikan bahwa evaluasi taktiknya sudah membaik pasca-kekalahan dari Argentina.
Ke depan, tren pergantian pemain berbasis data dan analisis real-time diprediksi makin dominan agar pelatih tak hanya mengandalkan insting. Klub dan timnas top dunia mulai menggunakan sinyal dari pinggir lapangan yang terhubung ke sistem AI untuk membaca kelelahan pemain. Tuchel dan pelatih lain diharapkan belajar dari insiden ini agar kesalahan taktik serupa tidak terulang di ajang berikutnya.