Olahraga

Trump Desak FIFA Kembalikan Piala Dunia ke AS Lebih Cepat

Ringkasan

  • Presiden AS Donald Trump meminta FIFA menjadikan negaranya tuan rumah Piala Dunia lagi sesegera mungkin pasca-edisi 2026.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan permintaan langsung kepada FIFA agar negaranya kembali ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia dalam waktu yang jauh lebih singkat dari siklus reguler. Permintaan tersebut disampaikan menyusul penilaian Trump bahwa AS sukses menggelar edisi ke-23 turnamen sepak bola terbesar di dunia pada 2026. Ia menilai federasi sepak bola dunia itu harus mempertimbangkan Negeri Paman Sam sebagai penyelenggara lagi di masa depan.

Dalam pernyataannya yang dilansir USA Today, Trump mengaku punya ide khusus untuk Presiden FIFA Gianni Infantino. Ia menyarankan FIFA mengumumkan dua negara penyelenggara sekaligus pada satu kesempatan, dengan AS sebagai salah satunya. Langkah itu menurut Trump dapat meredam kejutan dan kemarahan dari negara-negara lain yang ingin menjadi tuan rumah. "Itu akan mengurangi kemarahan dan keterkejutan, tetapi berdasarkan angka-angka, kami akan memintanya lagi, segera," ujar Trump.

Trump tidak ingin penunjukan AS berulang menunggu 32 tahun seperti jarak antara edisi 1994 dan 2026. Ia berpendapat turnamen di wilayahnya layak digelar lebih cepat dari rentang waktu tersebut. Ide presiden AS itu sekaligus menunjukkan betapa besar nilai strategis dan politik dari penyelenggaraan Piala Dunia bagi pemerintahannya. Ajakan itu disampaikan secara terbuka dan ditujukan langsung ke Infantino.

Piala Dunia 2030 telah ditetapkan FIFA berlangsung di tiga negara yakni Maroko, Spanyol, dan Portugal sebagai peringatan satu abad ajang tersebut. Empat tahun berselang, edisi 2034 akan digelar di Arab Saudi. Dengan demikian, jendela paling mungkin bagi AS untuk mengajukan diri berada pada siklus 2038 yang belum ditetapkan federasi. AS memenuhi syarat siklus karena tidak menjadi tuan rumah pada periode beruntun sebelumnya.

Latar belakang permintaan Trump erat dengan citra sukses penyelenggaraan 2026 yang menurutnya menghasilkan angka-angka positif. Spanyol keluar sebagai juara usai mengalahkan Argentina di final, sementara penghargaan individu didominasi pemain Spanyol. Kerusuhan di akhir laga akibat aksi Nahuel Molina sempat mencoreng, namun secara umum operasional turnamen di AS dinilai berjalan lancar. Hal itu menjadi dasar Trump merasa berhak mendapat edisi berikutnya.

Dari sudut pandang industri olahraga, manuver Trump mencerminkan tren komersialisasi turnamen global yang makin bergantung pada pasar besar. AS menawarkan infrastruktur siap pakai, kapasitas stadion raksasa, dan nilai siaran tinggi. FIFA di bawah Infantino memang cenderung membuka diri terhadap tuan rumah dengan daya tarik ekonomi kuat. Permintaan presiden AS memperlihatkan tekanan politik tingkat tinggi bisa masuk ke ranah penentuan kalender sepak bola dunia.

Bagi pembaca dan pecinta sepak bola di Indonesia, dinamika ini relevan karena FIFA mulai menominasikan kawasan Asia Pasifik untuk edisi mendatang. Indonesia belum memiliki infrastruktur setara AS, namun animo publik sangat besar. Jika AS kembali diprioritaskan, ruang bagi negara berkembang untuk jadi tuan rumah bisa menyempit. Hal itu berdampak pada distribusi hak siar dan alokasi dana pengembangan FIFA ke federasi kecil.

Di sisi lain, keinginan Trump menyandingkan pengumuman dua tuan rumah sekaligus memunculkan pertanyaan soal transparansi proses bidding. Selama ini FIFA menggunakan sistem evaluasi yang panjang dan melibatkan inspeksi teknis. Penunjukan ganda berisiko mengurangi kompetisi antarnegara kandidat. Namun bagi FIFA, skema itu mungkin menekan risiko protes diplomatik dari anggota yang gagal terpilih.

Trump secara gamblang menyebut ingin proses itu terjadi selagi ia masih menjabat. "Namun kami harus melakukan ini lagi, dan kami harus melakukannya selagi saya masih ada. Anda dengar itu, Gianni?" ucapnya merujuk langsung ke presiden FIFA. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa motivasi politik dalam negeri turut mengendarai ambisi penyelenggaraan olahraga internasional. Infantino belum memberikan tanggapan resmi atas usul tersebut.

Proyeksi ke depan menunjukkan FIFA memiliki ruang terbatas sebelum 2038. Penetapan 2030 dan 2034 sudah mengunci dua siklus berikutnya. AS kemungkinan besar akan menyiapkan proposal resmi jika siklus 2038 dibuka. Tren penyelengaraan bersama beberapa negara, seperti 2026 dan 2030, diprediksi berlanjut mengingat beban biaya yang semakin tinggi. Tekanan dari kekuatan politik besar akan menjadi variabel penting dalam keputusan akhir federasi.

Indonesia sendiri dapat mengambil pelajaran dari strategi AS dalam membangun narasi sukses turnamen. Penguatan fasilitas dan promosi wisata olahraga perlu digarap sejak kini. Meski jarak dengan standar tuan rumah Piala Dunia masih jauh, partisipasi aktif di level regional menjadi pondasi. Siklus 2038 mungkin belum realistis, namun momentum 2042 dapat disiapkan dengan roadmap sepak bola jangka panjang yang serius.

Mengapa Ini Penting

Manuver Trump menunjukkan bahwa kekuatan politik dan pasar besar mulai mendominasi penentuan tuan rumah Piala Dunia, yang bisa mengurangi kesempatan negara berkembang seperti Indonesia. Bagi penggemar di Tanah Air, ini sinyal bahwa akses siaran dan dana pembinaan FIFA bisa terkonsentrasi ke negara kaya. Industri olahraga lokal perlu menekan pemerintah menyusun roadmap infrastruktur jika ingin bersaing di siklus mendatang. Tren pengumuman ganda juga berpotensi melemahkan transparansi proses bidding yang selama ini dijunjung federasi.

Sumber Asli
CNN Indonesia Olahraga
Tanggal
20 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit