Trent Rockets menutup musim The Hundred putri 2024 dengan cara yang paling meyakinkan. Di final yang digelar di Lord's, Minggu (18/8) malam WIB, tim berjuluk Rockets menghancurkan Sunrisers Leeds delapan wicket dan masih menyisihkan 46 bola. Kemenangan ini menghadirkan gelar juara pertama bagi franchise Nottingham tersebut di kompetisi seratus bola putri.
Sunrisers yang sebelumnya menewaskan Southern Brave di Eliminator Jumat lalu, runtuh total 91 hanya dalam 91 bola. Annabel Sutherland menjadi penyelebat skor dengan 25 dari 23 bola, sementara Phoebe Litchfield — bintang Australia mereka — gagal berbuat banyak, hanya mengumpulkan 10 sebelum tertangkap mencoba ramp shot. Georgia Adams memimpin serangan bowling Rockets dengan figurs hemat 2-9, didampingi Charley Phillips yang mencetak 2-12.
Keajaiban kejutan final ini justru dimulai dari powerplay. Phillips, pemula berusia 23 tahun dengan aksi bowling slinging yang aneh, langsung memecah pertahanan Sunrisers. Litchfield jatuh di over kedua, diikuti Deepti Sharma yang dibuang Phillips untuk 12. Sunrisers tersandung 26-3 di akhir powerplay dan tidak pernah pulih. Dani Gibson, kapten dan pemain termahal lelang, sempat menahan dengan 22 dari 16 bola, namun kepergiannya mematikan sisa harapan tim.
Sisi lain, Rockets menunjukkan kedalaman tim yang menjadi ciri khus mereka sepanjang musim. Sophia Dunkley meledak dengan 41 dari 23 bola, menghantam bowler Sunrisers ke seluruh bagian lapangan. Beth Mooney, veteran Australia, menutup laga dengan 31 tak terbunuh dari 21 bola. Chase 92 berjalan tanpa tekanan, selesai dalam 9 over saja — demonstrasi kekuatan batting line-up yang telah konsisten sepanjang turnamen.
Kemenangan ini meneguhkan posis Rockets sebagai tim paling terstruktur turnamen ini. Berbeda dengan Sunrisers yang bergantung pada performa individu Litchfield dan Sutherland, Rockets memiliki kontributor dari mana-mana. Sam Bates, spinner Australia yang belum bermain internasional, menyelesaikan turnamen sebagai pemegang wicket terbanyak bersama dengan 13 wicket, rata-rata 14,46. Phillips sendiri membuktikan pemain domestik Inggris tetap bisa bersinar di tengah aliran empat pemain asing per tim musim ini.
Bagi penggemar cricket Indonesia, final ini menawarkan pelajaran tentang pentingnya kedalaman skuad dibandingkan keandalan pada satu atau dua bintang. Liga-liga domestik di Indonesia — meski skala jauh lebih kecil — bisa mengadopsi filosofi ini: membangun tim dengan peran jelas untuk setiap pemain, bukan sekadar mengandalkan individual brilliance. Format seratus bola sendiri semakin populer global, dan keberhasilan The Hundred bisa jadi referensi jika Cricket Indonesia ingin mengembangkan format pendek yang lebih menarik penonton muda.
Dunkley, yang menyelesaikan musim sebagai pencetak run ketiga terbanyak dengan satu innings lebih sedikit dibanding dua pemain di atasnya, menjadi simbol konsistensi. Ia tidak hanya berkinerja di final, tapi sepanjang fase grup hingga knockout. Performa seperti ini yang membuat Rockets finis di puncak klasemen dan berhak langsung ke final tanpa perlu main Eliminator — keuntungan yang ternyata tidak membuat mereka karatan, melainkan lebih tajam.
Phillips layak mendapat pujian khusus. Sebagai bowler domestik Inggris yang diberi tanggung jawab bowling powerplay — peran yang biasanya diserahkan ke pemain asing — ia menjawab dengan dua wicket vital. Aksi slinging-nya menciptakan sudut yang asing bagi batter Sunrisers. Ini bukti bahwa investasi pada pengembangan pemain lokal, bukan hanya membeli bintang asing, tetap berbuah manis.
Sekarang perhatian bergeser ke final putra yang digelar hari yang sama, pukul 18:00 BST. Sam Billings akan memimpin Rockets menghadapi Manchester Super Giants. Jika Rockets menang, mereka akan menjadi franchise pertama dalam sejarah The Hundred yang merebut gelar ganda putra dan putri dalam satu musim. Prestasi semacam itu akan mengukir nama Rockets sebagai dinasti baru cricket format pendek Inggris.
Sunrisers meski kalah, musim mereka tetap patut dihargai. Menjuarai Eliminator dan mencapai final di musim debut mereka — setelah mewakili Leeds dan wilayah Yorkshire — adalah pencapaian besar. Kehilangan Litchfield dan Sutherland di momen kritis final mengungkap kelemahan ketergantungan pada pemain asing. Musim depan, mereka perlu membangun inti tim yang lebih mandiri.
The Hundred putri 2024 akan diingat sebagai musim di mana konsistensi mengalahkan kejeniusan sesaat. Rockets membuktikan bahwa struktur tim yang solid, didukung manajemen yang memberikan kepercayaan pada pemain domestik seperti Phillips dan Bates, adalah resep juara. Bagi ekosistem cricket global, termasuk Indonesia, ini pengingat bahwa jangka panjang selalu mengalahkan solusi instan.