Pelatih Reidel Toiran melakukan rotasi besar saat Indonesia menundukkan Filipina 3-1 di SEA V Cup 2026, Jumat (24/7) malam di Jakarta International Velodrome. Skor akhir 25-18, 25-17, 23-25, 25-19 mencerminkan dominasi tim Merah Putih di tiga set pertama, meski lawan berhasil membalas di set ketiga.
Toiran menjelaskan rotasi ini merupakan bagian dari upaya mencari formasi ideal untuk babak selanjutnya. Menurut pelatih asal Kuba itu, kualitas skuad utama dan skuad cadangan tidak terpaut jauh, sehingga pertandingan tersebut menjadi laboratorium untuk menguji berbagai kombinasi pemain. "Kami memanfaatkan laga ini untuk mencoba berbagai komposisi pemain. Kualitas tim pertama dan tim kedua tidak berbeda jauh," ujarnya.
Beberapa nama senior seperti Farhan Halim, Boy Arnez, Alfin Daniel, dan Hendra Kurniawan tidak diturunkan secara penuh, sementara pemain muda seperti Sigit Ardian, Luvi Febrian, Raden Ahmad Gumilar, dan Tedi Oka mendapat kesempatan bermain. Perubahan ini bertujuan untuk melihat sinergi antar pemain sebelum menghadapi semifinal.
Di balik kemenangan tersebut, Toiran menyoroti masalah intensitas. Ia mengingatkan bahwa ketika lawan meningkatkan permainan dan Indonesia menurunkan intensitas, dampak negatif akan terasa. "Performansi mereka sempat meningkat sedikit, sedangkan permainan kita menurun," kata Toiran, menggambarkan dinamika yang perlu diwaspadai.
Hasil ini membuat Indonesia berada di puncak Grup A dengan enam poin, setelah sebelumnya mengalahkan Kamboja 3-0. Posisi ini mengamankan tiket semifinal melawan Vietnam pada Sabtu (25/7) malam, mengulang laga semifinal SEA V Cup 2026 leg pertama di mana Indonesia menang 3-0.
Menjelang pertandingan tersebut, pengamat voli lokal, Andi Saputra, menilai rotasi ini menunjukkan kedalaman skuad yang semakin baik. "Toiran tidak hanya mencari pemenang di pertandingan ini, tetapi juga membangun fondasi untuk turnamen yang lebih panjang," kata Andi. Menurutnya, kombinasi pemain muda dan berpengalaman dapat menjadi aset besar untuk kompetisi regional maupun Asian Championship mendatang.
Pengembangan voli Indonesia juga mendapat dorongan dari program naturalisasi yang baru-baru ini menambahkan 11 pemain baru ke tim nasional. Kehadiran pemain naturalisasi ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas kompetisi domestik dan memberikan contoh bagi atlet muda.
Secara strategis, rotasi ini mencerminkan pendekatan jangka panjang. Dengan memberikan menit bermain kepada pemain muda, Toiran membangun kedalaman skuad yang penting untuk menghadapi jadwal padat, baik di tingkat klub maupun negara. Hal ini berbeda dengan pendekatan beberapa negara tetangga yang cenderung mengandalkan skuad tetap di turnamen regional.
Untuk semifinal melawan Vietnam, Indonesia perlu menjaga konsistensi intensitas dan memperbaiki masalah servis yang muncul di set ketiga laga melawan Filipina. Sektor pertahanan juga menjadi perhatian setelah beberapa kali terbobol di rally rally akhir.
Pelatih Toiran menegaskan fokusnya adalah menyiapkan skuad yang siap menghadapi berbagai skenario. "Kami akan terus mengevaluasi dan menyesuaikan, baik untuk Vietnam maupun pertandingan selanjutnya," katanya. Targetnya adalah tidak hanya meraih kemenangan, tetapi juga memastikan tim memiliki fondasi kuat untuk Asian Volleyball Championship yang akan datang.
Rotasi ini juga memberi dampak positif bagi kompetisi voli nasional, karena klub-klub mulai melihat pentingnya mengembangkan pemain muda yang siap bermain di level tertinggi. Turnamen SEA V Cup menjadi batu loncatan yang konkret bagi pemain seperti Sigit Ardian dan Luvi Febrian untuk bersinar di kancah lebih luas.
Secara keseluruhan, langkah Toiran mengganti pemain inti menunjukkan visi yang matang. Selain meraih kemenangan instan, pelatih asal Kuba ini membangun fondasi yang kokoh demi masa depan voli Indonesia di kancah internasional.