Pelatih Timnas Putri Indonesia, Timo Scheunemann, dan pelatih tim muda Putri Nusantara, Takumi Taniguchi, sepakat bahwa generasi muda pemain bisa mencapai Piala Dunia Wanita jika proses pembinaan konsisten dan kompetitif terus dikelola. Pernyataan ini disampaikan saat konferensi pers sebelum laga semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026 kontra Yordania. Dalam 10 tahun ke depan, tiga edisi Piala Dunia Wanita akan diselengarakan — 2027 di Brasil, 2031 di Amerika Utara dan Karibia, serta 2035 di Inggrankan. Dari ketiganya, edisi 2031 dan 2035 menjadi sasaran realistis bagi generasi muda yang kini sedang berkembang di bawah asuhan Timo dan Takumi.
Timo menekankan bahwa ambisi para pemuda harus luas, bahkan hingga ke Piala Dunia. Ia menegaskan bahwa pembangunan tim bukanlah hal yang instan, tetapi proses panjang yang sudah mulai dilangkahkan sekarang. Kolaborasi antara PSSI dan Djarum, katanya, menjadi fondasi kuat dalam pembentukan ekosistem sepak bola waniti dari usia dini hingga remaja. Program ini mulai dari usia delapan tahun hingga delapan belas tahun, dan kini sudah berkembang hingga ke tingkat kampus melalui inisiatif seperti Campus League.
Menurutnya, keberhasilan saat ini sepenuhnya tergantung kerja sama antara federasi dan mitra swasta. Tanpa dukungan PSSI, upaya Djarum sendirian tidak akan cukup. Oleh karena itu, keberlanjutan kerjasama ini menjadi kunci agar generasi muda terus tersalurkan dan ditemani secara profesional.
Takumi Taniguchi sependapat dengan pendapat Timo. Ia menekankan bahwa kompetisi rutin dan intensitas latihan luar biasa penting agar pemain mumpai bersaing di kancah internasional. Menurutnya, lingkungan kompetitif sehari-hari — seperti liga-liga yang sedang berkembang di Indonesia — akan menjadi mesin utama penciptaan bibit-bibit pemain berkualitas tinggi.
Ia menyebut tiga kompetisi yang saat ini mendukung perkembangan ini: MilkLife Soccer, HydroPlus Soccer League, dan rencana liga wanita senior yang akan datang. Menuruhnya, ketiadaan kompetisi reguler dan kompetitif justru salah satu penyebab rendahnya performa Timnas Putri dalam beberapa tahun lalu. Namun, dengan eksistensi liga-liga ini, peluang untuk melahirkan pemain yang siap tampil di Piala Dunia semakin besar.
Dari sudut pandang analitis, langkah yang diambil oleh PSSI bersama Djarum dan didukung oleh pelatih asing seperti Timo dan Takumi, menandakan adanya keseriusan nyata dalam membangun fondasi sepak bola waniti di Indonesia. Ini penting karena selama puluhan tahun, pengembangan sepak bola putri di negeri ini relatif terpinggirkan.
Meski demikian, tantangan masih ada. Salah satunya adalah partisipasi sosial dan dukungan orang tua terhadap anak perempuan yang ingin bermain sepak bola. Timo pun secara tegas meminta orang tua untuk mendukung minat putri mereka. Ia menegaskan bahwa kompetisi sudah mencapai level antar-kampus dan nasional, sehingga risiko atau stigma terhadap anak perempuan yang bermain sepak semakin berkurang.
Proyeksi ke depan, jika kolaborasi ini terus berjalan lancar, maka tidak mustahil Timnas Putri Indonesia mulai tampil di Piala Dunia Wanita paling lambat pada edisi 2031 atau 2035. Untuk mencapai itu, fokus harus tetap pada pembangunan sistem akademi, pelatnas, dan liga lokal yang kompetitif. Jika semua elemen ini sejalan, maka Indonesia bisa menjadi salah satu kontingen yang patut diwaspadai di pentas sepak bola wanita dunia.