Sepakbola

Timnas Tumbang 0-3 dari Vietnam, Erick Thohir Tetap Percaya John Herdman

Ringkasan

  • Indonesia dikalahkan Vietnam 0-3 di laga Grup A Piala AFF 2026 di Stadion Pakansari, Bogor, Senin (3/8) malam, membuat Timnas terpuruk di posisi ketiga dan wajib menang lawan Singapura.

Ribuan suporter yang memadati Stadion Pakansari, Bogor, Senin (3/8) malam pulang dengan hati sedih. Timnas Indonesia dikalahkan Vietnam 0-3 dalam laga Grup A Piala AFF 2026, memperpanjang deretan kekalahan Merah Putih lawan tim Garuda Biru yang sudah berlangsung sejak 2016. Kekalahan telak ini menggeser Indonesia ke posisi ketiga klasemen dengan enam poin, di bawah Singapura dan Vietnam yang masing-masing mengumpulkan tujuh poin.

Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir tampak tenang saat ditemui wartawan usai laga. Ia mengakui keunggulan Vietnam yang memang sudah lama bersiap melalui training camp intensif. "Memang kan tim Vietnam tim yang tangguh, kompak, dan dia juga sudah training camp cukup lama sebelum persiapan ini," ujar Erick. Ia menambahkan bahwa Vietnam telah berkali-kali meraih gelar juara AFF, sehingga hasil ini bukan hal yang mengejutkan sepenuhnya.

Kendati hasil buruk, Erick menegaskan kepercayaan penuh pada pelatih kepala John Herdman. Mantan pelatih Timnas Wanita Kanada ini baru memimpin Timnas Indonesia beberapa bulan lalu. Menurut Erick, tim masih dalam masa adaptasi terhadap sistem permainan Herdman yang berbeda dari era pelatih sebelumnya. "Saya tetap percaya sama coach John. Saya rasa tinggal perlu adaptasi karena ini permainan yang berbeda," tegasnya.

Latar belakang kekalahan ini tidak terlepas dari persiapan yang tidak seimbang. Vietnam melakukan training camp berbulan-bulan di Eropa sebelum turnamen, sedangkan Indonesia baru berkumpul beberapa minggu akibat jadwal liga domestik yang padat. Bermain di Stadion Pakansari yang seharusnya jadi benteng, Timnas justru kesulitan membangun serangan dan sering terjebak offside trap Vietnam. Kedua gol awal Vietnam dicetak melalui bola diam dan konter cepat, mengekspos kelemahan pertahanan Indonesia pada bola tinggi.

Sejarah pertemuan kedua tim di Piala AFF semakin mengkhawatirkan. Kemenangan terakhir Indonesia atas Vietnam di turnamen ini tercatat pada 2016 lewat gol tunggal Stefano Lilipaly. Sejak itu, Indonesia mencatat empat kekalahan dan dua imbang dalam enam pertemuan resmi. Vietnam tampil konsisten dengan gaya pressing tinggi dan transisi cepat yang sulit dihadapi pemain-pemain Indonesia yang rata-rata berusia muda dan kurang pengalaman internasional.

Dampak kekalahan ini terasa berat bagi peluang lolos ke semifinal. Indonesia kini terpaksa harus menang di laga pamungkas Grup A lawan Singapura di Stadion Nasional, Singapura, Jumat (7/8) mendatang. Hanya kemenangan yang bisa mengamankan tiket ke empat besar. Jika imbang atau kalah, nasib Timnas bergantung pada hasil lawan lain — skenario yang berbahaya bagi tim yang ingin bangkit.

Di sisi lain, Vietnam sudah hampir pasti lolos ke semifinal dengan tujuh poin dan selisih gol yang sangat baik. Tim berjuluk Sao Vang (Bintang Emas) itu tampil matang secara taktis di bawah asuhan pelatih Kim Sang-sik. Mereka menguasai pertengahan lapangan melalui Nguyen Hoang Duc dan Do Hung Dung, serta memanfaatkan kecepatan Nguyen Xuan Son di lini depan. Indonesia kesulitan menembus pertahanan Vietnam yang kompak dengan formasi 4-4-2 yang bisa berubah 4-5-1 saat bertahan.

John Herdman sendiri mengakui timnya kalah di segala aspek usai laga. "Kalah 0-3 di rumah sendiri adalah pelajaran pahit. Kita harus evaluasi segera," kata pelahir asal Inggris itu. Ia menjanjikan perubahan taktis untuk laga lawan Singapura, termasuk kemungkinan rotasi pemain untuk mencari kombinasi terbaik. Beberapa nama seperti Rafael Struick dan Thom Haye diprediksi mendapat kesempatan start untuk memberikan kreativitas di tengah.

Masalah mental juga jadi PR berat. Pemain-pemain muda seperti Arkhan Fikri dan Kakang Rudianto terlihat gugup di menit-menit awal, membuat alur permainan kacau. Suporter yang berharap kemenangan justru menambah tekanan psikologis. Erick Thohir meminta seluruh komponen — pemain, staf pelatih, hingga manajemen — untuk tidak terjebak pesimisme. "Kita harus apresiasi Vietnam bagus, tapi bukan berarti kita mengalah," ucapnya.

Laga lawan Singapura akan jadi ujian karakter nyata bagi generasi baru Timnas. Singapura yang dilatih Tsutomu Ogura bermain disiplin taktis dan memanfaatkan set-piece dengan baik. Indonesia harus lebih cermat di pertahanan dan efisien di finishing. Sejarah pertemuan terakhir di Piala AFF 2022 berakhir imbang 1-1, menunjukkan keseimbangan kekuatan. Kemenangan di Kallang akan menutupi kekecewaan di Bogor dan membuka jalan menuju semifinal.

Jangka panjang, kekalahan ini seharusnya jadi momentum evaluasi sistem pengembangan pemain nasional. Ketergantungan pada pemain naturalisasi dan kurangnya pengalaman bermain di liga kompetitif Asia jadi PR jangka menengah. PSSI dan Liga Indonesia Baru perlu menyusun kalender yang memungkinkan timnas berkumpul lebih lama sebelum turnamen besar. Tanpa perbaikan struktural, deretan kekalahan lawan Vietnam dan Thailand akan terus berulang di edisi mendatang.

Mengapa Ini Penting

Kekalahan 0-3 ini membuka tabir kelemahan sistemik: persiapan minim, ketergantungan naturalisasi, dan kesenjangan taktis dengan Vietnam yang sudah bertahun-tahun bangun kontinuitas. Erick Thohir yang memegang dua jabatan strategis — Ketum PSSI dan Menpora — memiliki otoritas untuk memperbaiki kalender liga dan program pengembangan, namun keputusannya di bulan-bulan depan akan menentukan apakah ini titik balik atau sekadar kenangan pahit lain. Laga lawan Singapura bukan soal lolos semifinal semata, tapi uji nyata apakah proyek Herdman punya fondasi yang kokoh atau hanya eksperimen musiman.

Sumber Asli
CNN Indonesia Sepak Bola
Tanggal
3 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit