Langkah heroik tim para angkat berat Indonesia di ajang Asian Para Games 2026 berakhir manis di Nagoya, Jepang, Sabtu (24/10/2026). Trio lifter andalan Merah Putih, Ni Nengah Widiasih, Hilman, dan Abdul Hadi, sukses mempersembahkan medali perak pada nomor mixed team event yang berlangsung di Nagoya City Trade & Industry Center.
Perjalanan menuju podium tidak dilalui dengan mudah. Memulai kompetisi dari babak kualifikasi di posisi keempat, Indonesia berhasil menembus babak head-to-head dengan performa yang disiplin. Kejutan besar terjadi ketika mereka menumbangkan tim unggulan China. Kemenangan tersebut dipastikan setelah Yi Zou, salah satu lifter China, gagal menuntaskan angkatannya, memberikan celah bagi Indonesia untuk melaju ke partai puncak.
Pada babak final, tensi pertandingan meningkat drastis. Indonesia berhadapan dengan Irak yang diperkuat Zahra Al-Obaidi, Muslim Al-Sudani, dan Mustafa Radhi. Meski sempat tampil solid dengan mengumpulkan total 377,31 poin, Indonesia harus mengakui keunggulan tipis lawan. Irak memastikan emas setelah Mustafa Radhi sukses mengangkat beban 207 kg, membawa total poin mereka menjadi 378,99.
Kekalahan tipis dengan selisih kurang dari dua poin ini menunjukkan betapa ketatnya persaingan di level kontinental. Bagi tim Indonesia, raihan perak ini menjadi penutup yang membanggakan bagi seluruh rangkaian kompetisi di Jepang. Secara keseluruhan, cabang olahraga para angkat berat menyumbangkan 2 medali perak dan 5 perunggu.
Keberhasilan ini melengkapi torehan impresif kontingen Indonesia yang finis di peringkat kedelapan dalam klasemen umum. Tim Merah Putih sukses membawa pulang 15 medali emas, 21 perak, dan 37 perunggu dengan total 73 medali sepanjang gelaran Asian Para Games 2026.
Capaian ini melampaui target awal yang ditetapkan pemerintah sebesar 7 emas, 8 perak, dan 17 perunggu. Padahal, tantangan sempat membayangi tim Indonesia sebelum keberangkatan, terutama dengan absennya cabang olahraga para catur yang pada edisi Hangzhou 2022 menjadi lumbung emas utama bagi kontingen kita.
Koordinator pelatih angkat berat Indonesia, Coni Ruswanta, memberikan apresiasi tinggi terhadap mentalitas para atletnya. Menurutnya, tampil tanpa beban menjadi kunci utama keberhasilan mereka menembus final. Hasil yang diraih di Nagoya membuktikan bahwa program pembinaan atlet difabel di Indonesia telah berada di jalur yang tepat, meski dihadapkan pada persaingan yang semakin kompetitif.
Konteks performa ini menjadi sangat krusial bagi peta kekuatan olahraga disabilitas nasional. Tanpa mengandalkan satu cabang olahraga saja, Indonesia kini memiliki kedalaman skuad yang lebih merata di berbagai disiplin. Hal ini menjadi modal berharga untuk menghadapi ajang internasional berikutnya, termasuk persiapan jangka panjang menuju Paralympic Games.
Di sisi lain, keberhasilan melampaui target medali di tengah absennya cabor andalan menunjukkan adanya peningkatan kualitas atlet di cabang-cabang lain. Fenomena ini mengindikasikan bahwa diversifikasi pembinaan atlet yang dilakukan NPC (National Paralympic Committee) Indonesia mulai membuahkan hasil nyata.
Ke depan, tantangan bagi para atlet adalah mempertahankan konsistensi di tengah regenerasi yang terus berjalan. Pengalaman berharga di Nagoya diharapkan mampu memicu motivasi lebih besar bagi atlet-atlet muda untuk terus meningkatkan limitasi fisik dan teknik angkatan mereka.
Investasi pada infrastruktur latihan dan dukungan sport science akan menjadi penentu apakah Indonesia mampu mempertahankan dominasi di posisi sepuluh besar Asia. Mengingat persaingan dengan negara seperti Irak, China, dan tuan rumah Jepang semakin ketat, inovasi dalam metode kepelatihan menjadi harga mati bagi masa depan olahraga para angkat berat Tanah Air.
Secara keseluruhan, Asian Para Games 2026 menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang untuk meraih prestasi tertinggi. Semangat juang Ni Nengah Widiasih dan rekan-rekan menjadi inspirasi bagi bangsa bahwa dengan dedikasi tinggi, Indonesia mampu bersaing di panggung dunia.