Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina memecahkan rekor sebagai pertandingan olahraga dengan harga tiket termahal yang pernah dijual di Amerika Serikat. Laga yang berlangsung di Stadion MetLife pada Senin (20/7) dini hari WIB itu membukukan paket dua kursi hingga Rp1,02 miliar.
Berdasarkan data pasar tiket sekunder TickPick yang dilansir Forbes, tiket termurah untuk menonton duel dua raksasa sepak bola tersebut dibanderol US$6.943 atau sekitar Rp125 juta per orang. Angka itu sudah turun dari harga sekitar Rp130,3 juta ketika Argentina menyingkirkan Inggris di babak semifinal.
Harga rata-rata yang benar-benar dibayarkan penonton mencapai US$11.327 per tiket, setara Rp203 juta. TickPick mencatat angka tersebut sebagai rekor tertinggi untuk sebuah pertandingan olahraga di Negeri Paman Sam, mengalahkan harga tiket Super Bowl maupun Final NBA yang selama ini dikenal paling mahal.
Lonjakan harga terjadi karena permintaan suporter sangat tinggi. Spanyol dan Argentina membawa basis penggemar global yang masif. Keduanya juga dihuni bintang kelas dunia yang menarik minat kolektor tiket dan turis olahraga.
Faktor utama lainnya ialah kans Lionel Messi menutup karier timnas dengan trofi juara dunia. Kehadiran pemain berusia 39 tahun itu membuat final ini bernilai historis, bukan sekadar pertandingan sepak bola biasa. Permintaan melonjak tajam karena banyak yang ingin menyaksikan momen pamungkas sang legenda secara langsung.
Bagi industri olahraga, angka fantastis ini menunjukkan sepak bola sudah menyaingi bisnis hiburan Amerika Serikat. Selama ini Super Bowl mendominasi harga tiket tertinggi. Kini Piala Dunia menggeser posisi tersebut dan membuka mata investor atas potensi pasar sepak bola pasca-Piala Dunia 2026 yang digelar di AS, Kanada, dan Meksiko.
Dampaknya juga terasa pada ekosistem tiket sekunder. Platform seperti TickPick mencatat transaksi dengan margin sangat tinggi. Hal ini memicu diskusi soal regulasi harga tiket dan perlindungan konsumen di ajang olahraga berskala global.
Di Indonesia, harga tiket laga internasional biasanya jauh lebih terjangkau. Pertandingan uji coba timnas atau turnamen pra-musim di Jakarta umumnya dibanderol ratusan ribu hingga beberapa juta rupiah. Perbandingan ini memperlihatkan kesenjangan nilai ekonomi sepak bola antara pasar Asia Tenggara dan Amerika Utara.
Kendati demikian, antusiasme suporter Tanah Air terhadap Piala Dunia tetap tinggi. Siaran langsung dan layanan streaming menjadi pintu utama masyarakat Indonesia menikmati laga, tanpa harus mengeluarkan biaya perjalanan dan akomodasi ke AS yang bisa berkali-kali lipat dari harga tiket.
Section 115A Stadion MetLife mencatat transaksi paling ekstrem. Seorang pembeli membayar US$28.479 atau Rp511,5 juta untuk satu kursi, lalu mengambil paket dua tempat duduk dengan total US$56.958 atau Rp1,02 miliar. Rekor ini mengalahkan berbagai ajang olahraga bergengsi di AS.
Tingginya harga tak menyurutkan minat. Justru menjadi simbol status dan pengalaman eksklusif bagi kalangan mampu. Kehadiran bintang dunia membuat duel Spanyol vs Argentina layaknya konser premium berkelas dunia.
Ke depan, panitia Piala Dunia 2026 diperkirakan akan meninjau sistem distribusi tiket guna menekan permainan harga di pasar sekunder. Federasi sepak bola internasional juga berpeluang menetapkan kuota khusus suporter agar harga tidak melambung liar.
Tren harga mahal diproyeksikan berlanjut jika bintang generasi baru seperti Lamine Yamal dan Julian Alvarez terus bersinar. Final 2026 kini resmi tercatat sebagai pertandingan olahraga termahal di AS dan mungkin menjadi tolok ukur baru bagi ajang global berikutnya.