Tijjani Reijnders telah resmi meninggalkan Manchester City untuk bergabung dengan klub Arab Saudi Al Qadsiah. Keputusan ini menandai akhir dari masa singkatnya di Etihad Stadium, tempat ia hanya bertahan selama satu musim penuh.
Menurut laporan ESPN, Manchester City menilai transfer pemain Belanda berusia 23 tahun ini seharga sekitar 52 juta euro atau setara Rp1,1 triliun. Kontrak baru yang ditandatangani Reijnders bersama Al Qadsiah memiliki durasi enam tahun ke depan, dengan gaji tahunan sebesar 20 juta euro.
Reijnders tiba di Khobar untuk mengikuti sesi latihan pertama bersama tim yang dilatih Brendan Rogers. Keberadaannya diharapkan dapat memperkuat lini serangan klub yang sedang berkembang pesat di Liga Arab Saudi.
Sebelumnya, Reijnders direkrut dari AC Milan pada awal musim 2023/24. Awalnya, ia menampilkan performa yang sangat baik dan menjadi andalan penting di bawah bimbingan Pep Guardiola. Namun, seiring berjalannya waktu, minutnya dipertahankan semakin menurun, terutama setelah Februari ketika ia hanya tampil sebagai starter dalam dua laga Liga Inggris saja.
Di seluruh kompetisi, Reijnders berhasil mencetak tujuh gol dari 47 penampilan. Meski tidak banyak, kontribusinya tetap membantu Manchester City meraih dua trofi besar musim lalu, yakni Piala FA dan Carabao Cup.
Di level internasional, ia turut menjadi bagian dari skuad Timnas Belanda di fase grup Piala Dunia 2026 FIFA. Sayangnya, Belanda harus kalah di tangan Maroko pada babak 32 besar setelah lolos sebagai tim cadangan.
Dalam pesan perpisahannya, Reijnders menyampaikan rasa syukurnya terhadap kesempatan bermain untuk Manchester City. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak termasuk suporter yang mendukungnya sejak hari pertama.
Bagi industri sepak bola Indonesia, fenomena transfer seperti ini menjadi sorotan krusial. Transfer besar ke negara-negara Timur Tengah semakin sering terjadi, mencerminkan daya tarik finansial yang semakin besar di sana.
Hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kompetitivitas klub-klub besar lokal Indonesia. Dengan anggaran yang jauh lebih kecil dibandingkan kelas dunia, sulit bagi klub domestik untuk bersaing secara langsung dalam rekrutmen pemain top.
Namun, ada peluang tersendiri bagi klub Indonesia untuk belajar dari strategi manajemen pemain muda. Reijnders sendiri merupakan contoh bagus pemuda berpotensi yang dikembangkan oleih klub besar sebelum akhirnya dipindahkan dengan harga yang signifikan.
Ke depan, Al Qadsiah diproyeksikan akan terus mengincar nama-nama bergengsi seperti Reijnders untuk meningkatkan kualitas tim. Sementara itu, Manchester City kemungkinan akan fokus pada pembahagianan skuad yang lebih efisien guna menjaga keseimbangan antara kompetisi domestik dan internasional.
Pemantauan pasar transfer global menunjukkan tren mobilitas pemain ke wilayah Gulf semakin kuat. Hal ini bisa membuka peluang baru bagi generasi pemuda Indonesia yang ingin mengukir karier di panggung internasional.
Dengan semakin terbukanya aliran dana di sepak bola Arab Saudi, tekanan pada klub-klub Eropa juga meningkat. Mereka harus lebih kreatif dalam mengelola skema kontrak serta nilai jual pemain agar tetap kompetitif secara finansial.
Di sisi lain, bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus Reijnders menjadi pengingat betapa dinamisnya ekosistem sepak bola profesional. Setiap keputusan transfer bisa berdampak besar baik pada karir pemain maupun strategi klub tertentu.