Gelandang Timnas Indonesia Thom Haye menyatakan secara terbuka bahwa skuad Garuda tidak gentar menargetkan gelar juara Piala AFF 2026, ajang yang akan dimulai pada 24 Juli tahun depan. Pernyataan tersebut disampaikan pemain kelahiran Belanda itu saat mengikuti pemusatan latihan di Bali United Training Center, Gianyar, Bali, pada Sabtu (18/7).
Haye menegaskan bahwa fokus utama tim bukan sekadar berpartisipasi, melainkan meraih kemenangan mutlak di turnamen dua tahunan Asia Tenggara tersebut. Ia mengaku optimistis karena sebagian besar pemain sudah memiliki pengalaman tampil di partai puncak, sehingga mental juara mulai terbentuk di dalam skuad.
Indonesia tercatat belum pernah merengkuh gelar Piala AFF sejak kompetisi ini digelar pertama kali pada 1986. Status runner-up berkali-kali membuat dahaga juara semakin menumpuk di kalangan suporter, dan pernyataan Haye menjadi sinyal bahwa generasi sekarang ingin mengubah sejarah.
Pemusatan latihan di Bali menjadi bagian dari persiapan panjang jelang turnamen. Selain mematangkan taktik, pelatih memanfaatkan sesi ini untuk membangun kekompakan antarpemain yang berasal dari klub berbeda, termasuk Haye yang musim ini membela Persib Bandung.
Sebelum bertolak ke fase grup, Timnas dijadwalkan menjalani laga uji coba. Lawan belum ditentukan, namun opsi terdekat adalah klub Liga 1 yang sedang bersiap untuk Piala Presiden 2025 pada akhir Juli ini. Pertandingan pemanasan tersebut krusial untuk mengukur tingkat kebugaran menjelang laga resmi.
Bagi ekosistem sepak bola nasional, target juara yang digaungkan pemain senior memberikan tekanan sehat bagi federasi. Ketersediaan fasilitas latihan berkualitas seperti di Gianyar dan dukungan suporter harus diiringi manajemen pertandingan yang profesional agar ambisi tersebut tidak sekadar wacana.
Di sisi lain, kehadiran pemain naturalisasi seperti Haye memperlihatkan transformasi Timnas dalam satu dekade terakhir. Mereka tidak lagi melihat Piala AFF sebagai turnamen hiburan, melainkan ajang prestise yang layak dibidik dengan serius melalui persiapan ilmiah dan evaluasi berkala.
Dampak psikologis dari pernyataan terbuka ini juga menyentuh pasar industri olahraga lokal. Antusiasme penjualan jersey, tiket, dan hak siar biasanya melonjak ketika tim menunjukkan keberanian menargetkan gelar. Media sosial klub dan PSSI diprediksi memanaskan situasi positif jelang kick-off.
"Sudah sangat jelas, kami bertanding untuk menang. Itu fokus utamanya. Kami tidak takut bilang itu karena kami sudah banyak main di final," ucap Haye merujuk pengalaman sebelumnya. Pemain setinggi 187 centimeter itu menambahkan bahwa seluruh anggota skuad memiliki energi besar dan menikmati proses persiapan.
Ia menolak membebani diri dengan memikirkan lawan berat di fase selanjutnya. Bagi Haye, instruksi pelatih sangat jelas: setiap laga harus diperhatikan detailnya. Laga pertama melawan Kamboja menjadi prioritas agar tim tidak tersandung di awal.
Timnas akan memulai petualangan Piala AFF 2026 dengan menghadapi Kamboja pada Senin (27/7) di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat. Haye menekankan pentingnya menjaga kondisi tubuh tetap bugar dan siap secara taktik khusus untuk pertandingan pembuka tersebut.
Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa jika Indonesia konsisten di fase grup, momentum juara bisa terbuka lebar mengingat tradisi final yang sudah dibangun. Langkah selanjutnya adalah menuntaskan uji coba dan merotasi pemain tanpa mengurangi intensitas agresivitas di lapangan.
Tren ke depan memperlihatkan Timnas mulai meninggalkan minderitas regional. Dengan kombinasi pemain muda dan naturalisasi berpengalaman, Piala AFF 2026 berpotensi menjadi titik balik sejarah sepak bola Merah Putih di level ASEAN.