Legenda sepak bola Thailand Theerathon Bunmathan menegaskan keyakinan penuh bahwa timnas Gajah Perang akan mengembalikan gelar juara Piala AFF 2026 ke Bangkok. Pernyataan itu dilontarkan setelah Thailand menghancurkan Laos 5-0 di laga pembukaan Grup B di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Senin (28/7) malam WIB. Bek kiri berusia 34 tahun itu menilai kolektivitas tim sudah terlihat solid meski baru satu pertandingan berjalan.
Kemenangan telak atas Laos menjadi momentum awal yang penting bagi Thailand di bawah asuhan pelatih Masatada Ishii. Theerathon, yang sudah tiga kali mengangkat trofi Piala AFF (2014, 2016, 2020), menyoroti betapa sulitnya laga pembukaan turnamen regional. "Semua orang merasakan tekanannya," ujarnya kepada media Thailand, Thai Rath. "Saya percaya pemain senior akan mendukung pemain muda. Semua orang haus akan kesuksesan," tambah kapten tim tersebut.
Thailand ditempatkan di Grup B bersama Malaysia, Myanmar, Filipina, dan tuan rumah Laos. Lawan selanjutnya adalah Malaysia pada Jumat (1/8) mendatang, laga yang diprediksi akan menentukan arah perebutan puncak grup. Sejarah pertemuan kedua tim selalu sengit, dan kemenangan atas Harimau Malaya akan memperkuat posisi Thailand menuju fase gugur.
Konteks sejarah menempatkan Thailand dan Vietnam sebagai dua kekuatan dominan di era modern Piala AFF. Empat edisi terakhir (2014, 2016, 2018, 2020) dibagi rata: Thailand juara 2014, 2016, 2020; Vietnam juara 2018. Pola bergantian ini menciptakan narasi rivalitas yang memicu semangat kedua negara untuk merebut supremasi ASEAN kembali.
Di sisi lain, Indonesia hadir ke edisi 2026 dengan ambisi meraih gelar pertama dalam sejarah. Tim Garuda diperkuat sejumlah pemain naturalisasi berkualitas seperti Rafael Struick, Thom Haye, dan Maarten Paes. Kehadiran mereka mengubah lanskap kekuatan di kawasan dan membuat Thailand serta Vietnam merasa terancam. Media Thailand bahkan melaporkan keinginan tim Gajah Perang agar Indonesia "terjengkang" kembali seperti di final 2020 lalu.
Final 2020 (digelar 2021) menjadi trauma bagi Indonesia. Timnas Garuda kalah 2-6 agregat dari Thailand di final dua leg. Kemenangan itu menjadi gelar ke-6 Thailand dan memperkuat dominasi mereka. Kini, dengan skuad yang lebih matang dan pengalaman bermain di liga Eropa, Indonesia diprediksi jadi ancaman serius bagi hegemoni Thailand-Vietnam.
Analisis taktis menunjukkan Thailand under Ishii bermain lebih fleksibel dibanding era pelatih sebelumnya. Sistem 3-4-3 yang bisa berubah jadi 4-3-3 memberikan variasi serangan dari sayap dan tengah. Theerathon sendiri, meski sudah veteran, tetap menjadi kunci di sisi kiri dengan kemampuan menggosok dan umpan silang akurat. Pemain muda seperti Suphanat Mueanta dan Patrik Gustavsson juga mulai menunjukkan sinergi yang menjanjikan.
Faktor psikologis tak kalah penting. Thailand datang sebagai tim yang "punya hutang" pada penggemar sendiri setelah gagal lolos ke Piala Asia 2023. Kegagalan itu memicu kritik keras di media sosial Thailand. Menjuarai Piala AFF menjadi cara termudah menenangkan amarah suporter dan membangun momentum menuju kualifikasi Piala Dunia 2026.
Sementara Vietnam under Kim Sang-sik juga tidak diam. Tim Chien Thang Giao (Gióng Cò) memperkuat lini belakang dan andalkan kecepatan Nguyen Tien Linh di depan. Vietnam punya keunggulan kedalaman skuad dan kohesi tim yang sudah terbangun sejak era Park Hang-seo. Pertemuan Thailand vs Vietnam di fase gugur — jika keduanya lolos — akan jadi final dini yang dinantikan.
Bagi Indonesia, kehadiran Theerathon dan komentarnya mengabaikan peluang Garuda justru bisa jadi motivasi tambahan. Pelatih Patrick Kluivert sudah menegaskan targetnya jelas: juara. Dengan jadwal yang padat dan tekanan tinggi, manajemen stamina dan rotasi pemain jadi kunci. Kluivert juga harus menyiasati tekanan media dan ekspektasi publik yang melonjak drastis.
Langkah selanjutnya bagi Thailand adalah laga kritis melawan Malaysia. Kemenangan akan hampir memastikan posisi puncak grup dan menghindari lawan kuat di perempat final. Sementara Indonesia akan memulai kampanye mereka di Grup A melawan Myanmar, Laos, Filipina, dan Vietnam. Pertemuan Indonesia vs Vietnam di fase grup sudah dipastikan jadi laga paling menarik edisi ini.
Piala AFF 2026 berlangsung di tengah dinamika sepak bola ASEAN yang berubah cepat. Naturalisasi, modernisasi taktik, dan investasi infrastruktur membuat kesenjangan antar negara semakin tipis. Prediksi Theerathon mungkin realistis berdasarkan sejarah, tapi sepak bola modern sudah membuktikan bahwa keunggulan kertas tidak selalu menjamin hasil. Gelar juara akan jatuh ke tangan tim yang paling konsisten, disiplin, dan berani mengambil risiko di saat-saat kritis.