Cabang olahraga teqball mencatatkan sejarah penting setelah sukses menggelar pertandingan medali perdana pada ajang Asian Games di Nagoya, Jepang. Keberhasilan ini menjadi sinyal kuat bagi International Teqball Federation (ITF) untuk terus mendorong olahraga hibrida sepak bola dan tenis meja tersebut agar diakui sebagai disiplin resmi di Olimpiade masa depan.
Sebanyak lima nomor pertandingan telah diselesaikan dengan Thailand mendominasi perolehan medali, mengamankan tiga dari lima gelar juara yang diperebutkan. Meski Higashi Sports Centre hanya menampung beberapa ratus penonton, antusiasme yang terlihat di lapangan membuktikan bahwa teqball memiliki daya tarik teknis yang mampu memikat audiens muda.
Sekretaris Jenderal ITF, Laszlo Vajda, menegaskan bahwa debut di Asian Games bukan sekadar seremoni. Baginya, ini adalah bukti nyata bahwa teqball memiliki jangkauan, relevansi, dan keterlibatan komunitas yang memenuhi standar untuk dipertimbangkan oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) di masa mendatang.
Secara historis, teqball berakar dari latihan sepak bola di Hungaria pada pertengahan abad ke-20. Permainan ini dikembangkan lebih modern sekitar satu dekade lalu oleh dua sahabat asal Hungaria—seorang mantan pesepak bola profesional dan seorang ahli komputer—yang bereksperimen memantulkan bola di atas meja pingpong yang dimodifikasi permukaannya.
Setelah penyempurnaan desain meja melengkung, ITF resmi berdiri pada 2017. Sejak saat itu, olahraga ini berkembang pesat dan kini kerap digunakan sebagai sarana pemanasan atau latihan teknis oleh klub-klub elite Eropa seperti Manchester United, Paris Saint-Germain, dan Barcelona.
Kehadiran legenda sepak bola Spanyol, Carles Puyol, di Nagoya memberikan dorongan promosi yang signifikan. Puyol, yang terlibat dalam klinik pelatihan dan pertandingan eksebisi, menilai teqball sebagai instrumen efektif untuk mengasah kemampuan teknis pemain profesional sekaligus permainan yang sangat menghibur untuk dimainkan di berbagai level.
Bagi publik Indonesia, teqball menawarkan kemiripan karakteristik dengan sepak takraw yang sudah sangat populer di Asia Tenggara. Kemampuan atlet dalam melakukan voli bola di atas meja melengkung menuntut ketangkasan dan kontrol bola yang sangat mirip dengan disiplin takraw, sehingga potensi pengembangannya di tanah air cukup terbuka lebar.
Namun, tantangan bagi teqball di Indonesia terletak pada aksesibilitas peralatan. Harga meja khusus teqball yang masih tergolong premium menjadi hambatan utama bagi komunitas akar rumput. Berbeda dengan sepak takraw yang hanya membutuhkan bola dan lapangan sederhana, teqball sangat bergantung pada desain meja melengkung yang dipatenkan.
Negara-negara Asia lainnya seperti Korea Selatan dan Kuwait telah menunjukkan perkembangan pesat dengan raihan medali di ajang ini. Keberhasilan atlet Korea Selatan, Lee Jun-suk, yang meraih emas di nomor tunggal putra, menjadi bukti bahwa dominasi teqball tidak lagi terbatas pada negara asal penciptanya di Eropa.
ITF kini berfokus pada penguatan profil di media sosial untuk membangun basis penggemar global. Kolaborasi dengan para influencer dan mantan pesepak bola ternama menjadi strategi utama untuk menjaga momentum agar olahraga ini tetap relevan di tengah persaingan ketat dengan disiplin olahraga baru lainnya seperti esports.
Langkah selanjutnya bagi federasi adalah memperluas jaringan kejuaraan dunia dan meningkatkan jumlah negara anggota yang aktif. Jika tren pertumbuhan ini konsisten, teqball memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari sekadar olahraga hobi menjadi cabang olahraga yang diakui secara global dengan dukungan pendanaan yang stabil.
Dengan dukungan infrastruktur yang tepat dan kampanye berkelanjutan, teqball diprediksi akan menjadi bagian permanen dalam kalender olahraga multi-event internasional. Fokus utama ke depan adalah membuktikan bahwa teqball memiliki nilai komersial dan sportivitas yang sejajar dengan disiplin olahraga Olimpiade lainnya.