Taylor Fritz memastikan diri sebagai finalis turnamen Washington Open setelah mengalahkan sesama petenis Amerika, Brandon Nakashima, dalam pertarungan tiga set yang sengit. Kemenangan ini membawa petenis peringkat 10 dunia itu ke final ATP ke-23 dalam kariernya.
Pada Sabtu (1/8/2026) waktu setempat, Fritz menang 6-3, 3-6, 6-2. Petenis berusia 28 tahun itu menunjukkan ketangguhan mental setelah sempat kehilangan kendali di set kedua. Dengan 13 ace dan 24 winner, ia mengungguli Nakashima yang mencatat 27 unforced error, jauh lebih banyak dari Fritz.
Set pertama menjadi ajang penguasaan Fritz. Setelah kedudukan ketat di 3-3, ia berhasil melakukan break penentu dan menutup set tersebut dalam 34 menit. Namun, Nakashima bangkit di set kedua. Ia melakukan break untuk unggul 3-1, kemudian mempertahankan keunggulan hingga memaksa pertandingan berlanjut ke set penentu.
Fritz kembali mengendalikan permainan sejak awal set ketiga. Ia melakukan break di game kedua dan langsung unggul 3-0. Tekanan berlanjut hingga ia mengamankan kemenangan dan tiket ke final. "Meraih break di set ketiga itu membuat perbedaan. Marginnya sangat tipis sepanjang pertandingan," ujar Fritz seusai pertandingan.
Sementara itu, lawan Fritz di final adalah Rafael Jodar dari Spanyol. Petenis berusia 19 tahun itu berhasil bangkit dari kekalahan set pertama untuk mengalahkan Alejandro Tabilo dari Chili dengan skor 6-7(6), 6-4, 6-4. Kemenangan ini menjadi bukti perjalanan luar biasa Jodar dalam beberapa bulan terakhir.
Pada Maret lalu, Jodar masih berada di luar peringkat 100 besar dan kalah telak 1-6, 2-6 dari Tabilo di Indian Wells. Namun, musim tanah liat yang mengesankan, termasuk gelar ATP pertamanya di Grand Prix Hassan I di Maroko, telah melambungkan peringkatnya. Berkat penampilan di Washington, Jodar dipastikan masuk 20 besar dunia pada pembaruan peringkat Senin mendatang.
Kemenangan Jodar atas Tabilo menunjukkan perkembangan mental yang pesat. "Saya tahu saya bermain dengan baik, memiliki peluang. Menerima momen-momen ketika saya tidak melakukan break di set pertama dan awal set kedua, menerima momen-momen itu membantu saya mendapatkan break di set kedua," jelas Jodar. Ia mulai bermain dengan ritme lebih baik dengan servisnya, sehingga secara mental sangat solid.
Bagi penggemar tenis Indonesia, final Washington Open ini memberikan beberapa catatan menarik. Pertama, gaya permainan agresif Fritz dengan servis kuat dan pukulan winner-nya bisa menjadi referensi bagi para pemain muda Indonesia. Kemajuan Jodar dari peringkat 100 besar ke 20 besar dalam waktu singkat juga menunjukkan bahwa turnamen ATP 500 seperti Washington Open bisa menjadi batu loncatan signifikan bagi petenis yang sedang naik daun.
Di Indonesia, pertumbuhan bakat tenis muda masih perlu dukungan infrastruktur turnamen yang lebih konsisten. Keberhasilan Jodar, yang masih berusia 19 tahun, menggarisbawahi pentingnya pengalaman bertanding di level ATP bagi pengembangan karier jangka panjang. Turnamen di Washington, yang merupakan salah satu ATP 500, memberikan poin ranking dan hadiah yang signifikan untuk memacu perkembangan pemain.
Melihat ke depan, final antara Fritz dan Jodar akan menjadi pertarungan antara pengalaman dan ambisi. Fritz, yang sudah berpengalaman di level tertinggi, akan mencoba meraih gelar untuk memperkuat posisinya menjelang Grand Slam terakhir musim ini. Sementara Jodar akan berusaha melanjutkan momentum luar biasanya untuk meraih gelar ATP 500 pertamanya.
Bagi dunia tenis internasional, kebangkitan petenis muda seperti Jodar menandakan kedalaman bakat yang kian merata di tur ATP. Sementara bagi Indonesia, ini menjadi pengingat bahwa dengan sistem pelatihan yang tepat dan kesempatan bertanding yang cukup, potensi untuk melahirkan petenis kelas dunia tetap terbuka lebar. Turnamen seperti Washington Open sering menjadi panggung bagi bintang-bintang baru untuk memperkenalkan diri mereka ke panggung tenis global.