Bernardo Tavares tampak tenang di tepi lapangan C Stadion Gelora Bung Tomo saat sesi latihan Persebaya, Selasa (28/7). Pelatih asal Portugal itu sengaja menurunkan nada percaya diri timnya jelang laga krusial melawan PSMS Medan pada babak grup Piala Presiden 2026. Baginya, lawan dari Liga 2 justru berpotensi lebih berbahaya dibandingkan Port FC asal Thailand yang sudah mereka hadapi sebelumnya.
"Satu hal yang menurut saya sangat penting, pertandingan akan lebih intens," ujar Tavares sambil mengajak wartawan memahami dinamika psikologis lawan. Ia memperhatikan bagaimana PSMS bermain dengan intensitas rendah usai kecolongan gol saat menghadapi Port FC pada laga petang hari. Tavares yakin, menghadapi sesama klub Indonesia akan memicu semangat dan agresivitas yang berbeda dari Ayam Kinantan.
Pengalaman pahit menghadapi PSIS Semarang dalam laga persahabatan menjadi bahan refleksi utama Tavares. Saat itu Persebaya unggul 2-0, namun keputusan melakukan pergantian pemain massal justru membuka peluang bagi lawan Liga 2 untuk menyamakan skor 2-2. "Kita tidak bisa berpikir, karena ini tim liga 2 itu akan mudah. Dan kadang-kadang, ini adalah pertandingan yang paling sulit," tegasnya.
Kewaspadaan itu tidak tanpa alasan. Format Piala Presiden yang melibatkan klub Liga 1 dan Liga 2 menciptakan dinamika unik di mana motivasi lawan bawah seringkali melebihi tekanan pada favorit. PSMS yang tidak memiliki beban kekalahan akan bermain bebas, sementara Persebaya dipaksa mengambil tiga poin untuk menjaga harapan lolos.
Soal perhitungan semifinal, Tavares memilih sikap pragmatis. Ia membedah skenario di mana Persebaya menang mengumpulkan 6 poin, namun Persija juga bisa menyamai akumulasi poin tergantung hasil laga mereka melawan Port FC dan PSMS. "Jadi, esok, mungkin belum tentu lolos jika kita menang atau tidak. Tergantung, pertama, dalam pertandingan kita," ujar pelatih yang menjabat sejak Januari 2026.
Pendekatan realistis ini mencerminkan kematangan manajemen pertandingan Tavares. Alih-alih terjebak kalkulasi poin dan selisih gol, ia mengarahkan fokus pada variabel yang bisa dikontrol: performa 90 menit di lapangan. Filosofi ini konsisten dengan prinsipnya sejak memimpin Bajul Ijo: proses menentukan hasil, bukan sebaliknya.
Pada sisi teknis, sesi latihan Selasa difungsikan untuk menilai kondisi pemain yang baru pulih cedera serta mengevaluasi performa pemain yang minim menit bermain pada laga sebelumnya. Tavares menegaskan tidak ada jaminan posisi main bagi siapapun. "Karena jika kamu menunjukkan performa, kamu akan bermain. Ini adalah jalan dan peraturan saya sejak saya datang pada Januari," tegasnya.
Kebijakan meritokrasi ini menciptakan kompetisi internal yang sehat. Pemain senior tidak bisa merasa aman, sementara pemain muda mendapat dorongan untuk membuktikan diri di latihan. Beberapa nama seperti Francisco Rivera dan Ricky Kambuaya diharapkan bisa memanfaatkan momentum ini untuk merebut tempat di starting eleven.
Dari sisi PSMS, kehadiran mereka di babak grup sudah merupakan prestasi tersendiri. Tim yang dilatih Miftahudin tidak memiliki tekanan untuk lolos, justru laga ini menjadi panggung menunjukkan kualitas sepak bola Liga 2 di hadapan penonton Surabaya. Motivasi membuktikan diri seringkali menjadi senjata ampuh bagi tim underdog.
Sejarah pertemuan kedua tim di kompetisi resmi relatif jarang, mengingat PSMS beberapa musim terakhir berkompetisi di Liga 2. Ketidakpastian gaya bermain lawan menambah variabel yang harus diantisipasi Tavares. Analisis video laga PSMS vs Port FC menjadi referensi utama, meski pelatih Persebaya yakin intensitas akan berubah drastis.
Kondisi cuaca dan atmosfer Gelora Bung Tomo malam ini juga menjadi faktor. Kelembaban tinggi di Surabaya menuntut manajemen stamina yang cermat, apalagi dengan jadwal padat turnamen. Rotasi pemain yang direncanakan Tavares bukan hanya soal kehati-hatian cedera, tapi juga strategi menjaga intensitas pressing 90 menit penuh.
Apapun hasilnya, laga ini menjadi uji karakter bagi proyek Tavares di Persebaya. Kemampuan tim mengeksekusi rencana permainan di bawah tekanan, menghadapi lawan yang 'tidak punya yang dikalahkan', dan menjaga disiplin taktis hingga menit terakhir akan menentukan apakah Bajul Ijo benar-benar siap bersaing di level lebih tinggi musim depan.