Pelatih Persebaya Bernardo Tavares menegaskan kesiapan timnya menghadapi PSMS Medan pada laga lanjutan fase grup Piala Presiden 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Rabu (29/7) malam. Dalam konferensi pers pasca latihan di Lapangan C, Selasa (28/7), pelatih asal Portugal itu menyoroti perbedaan intensitas yang diprediksi akan ditunjukkan lawan dibandingkan saat menghadapi Port FC Thailand.
Tavares mengamati bahwa PSMS bermain dengan intensitas rendah usai kekalahan terhadap Port FC pada laga petang hari. Ia yakin lawan akan tampil jauh lebih agresif saat menghadapi tim Indonesia di hadapan penonton sendiri. "Saya percaya besok malam mereka akan lebih intens," ujarnya sambil menegaskan hal itu justru membuat laga bagi Persebaya menjadi lebih sulit.
Pengalaman pahit menghadapi PSIS Semarang dalam uji coba menjadi bahan evaluasi utama. Persebaya sempat unggul 2-0 namun tersandung imbang 2-2 setelah Tavares melakukan rotasi massal. Kisah itu memperkuat keyakinannya bahwa status liga lawan bukan jaminan kemudahan. "Kadang-kadang, ini adalah pertandingan yang paling sulit," tegas mantan pelatih Maritimo tersebut.
Soal perhitungan lolos semifinal, Tavares memilih sikap pragmatis. Ia menguraikan skenario di mana Persebaya, Persija, dan Port FC bisa menyamai poin 6, tergantung hasil laga lain. "Esok mungkin belum tentu lolos jika kita menang atau tidak," ucapnya. Prioritasnya tetap pada tiga poin di laga sendiri, bukan kalkulasi hasil tim lain.
Fokus utama pelatih 48 tahun itu saat ini justru pada manajemen skuad. Beberapa pemain baru pulih dari cedera, sementara yang lain minim menit bermain pada laga sebelumnya. Tavares ingin menilai kesiapan fisik dan mental mereka di latihan sebelum menentukan starting eleven. "Jika kamu menunjukkan performa, kamu akan bermain. Ini jalan dan peraturan saya sejak Januari," tegasnya.
Kebijakan meritokrasi itu telah menjadi ciri khas era Tavares di Bajul Ijo. Pemain seperti Francisco Rivera dan Mohammed Rashid harus bersaing ketat untuk posisi, sementara anak asuh muda seperti Riski Fajar Saputra mendapat kesempatan membuktikan diri. Rotasi ini vital mengingat padatnya jadwal turnamen dengan tiga laga dalam seminggu.
PSMS sendiri datang dengan motivasi membalas kecewa usai kalah 0-2 dari Port FC. Tim Ayam Kinantan dibimbing pelatih Miftahudin yang dikenal taktis dan punya pengalaman di Liga 2. Lini depan mereka dipandu oleh bekas striker Persiraja, Riki Pambudi, yang berbahaya di ruang terbatas.
Statistik menunjukkan Persebaya menguasai bola 62 persen rata-rata di dua laga pertama, tapi konversi gol hanya 18 persen. Tavares sadar efisiensi finishing jadi kunci. Latihan penutup Selasa sore difokuskan pada situasi bola mati dan serangan transisi cepat untuk membobol benteng PSMS yang cenderung bertahan rendah.
Dari sisi Persija, kemenangan 3-1 atas Port FC menempatkan Macan Kemayoran di puncak grup dengan 3 poin. Laga mereka melawan PSMS di putaran terakhir jadi penentu. Jika Persija menang dan Persebaya hanya unggul tipis, selisih gol bisa memutus nasib. Tavares sadar akan dinamika ini tapi menolak membebani pikiran pemain.
Sejarah pertemuan kedua tim di Piala Presiden 2019 berakhir kemenangan Persebaya 2-0 lewat gol Oktafianus Fernando dan David da Silva. Namun komposisi skuad kini jauh berbeda. PSMS diperkuat enam rekrutan baru musim ini, termasuk bekas pemain Timnas U-23, Yadi Mulyadi, yang menambah kedalaman tengah pertahanan.
Kondisi cuaca Surabaya yang cerah dengan suhu 31 derajat Celcius dan kelembaban 70 persen jadi faktor tambahan. Tavares mempersiapkan strategi hydrasi break di menit ke-30 dan ke-75, serta rotasi dini jika skor menguntungkan. Ia juga memastikan cadangan seperti Paulo Victor dan Ricky Kayame siap masuk kapan saja.
Laga ini akan ditayangkan langsung oleh stasiun televisi nasional dan platform streaming resmi liga. Kehadiran 25.000 penonton diprediksi memenuhi tribun Gelora Bung Tomo, menciptakan atmosfer yang bisa jadi pedang bermata dua bagi tim tamu. Bagi Persebaya, dukungan massa ini harus dijadikan energi positif, bukan tekanan.
Apapun hasilnya, pendekatan Tavares yang mengedepankan proses daripada hasil instan layak jadi teladan klub lain. Ia membangun budaya di mana setiap pemain tahu posisinya: performa di latihan menentukan posisi di lapangan. Filosofi sederhana tapi efektif ini yang membawa Persebaya ke final Liga 1 musim lalu, meski gagal juara.
Mata kini tertuju ke laga Rabu malam. Kemenangan akan menempatkan Persebaya di posisi menguntungkan, tapi kekalahan atau imbang tidak berarti akhir dunia. Tavares sudah menanamkan mentalitas juara: satu laga pada satu waktu, fokus pada hal yang bisa dikendalikan, dan biarkan hasil bicara di akhir musim.