Bernardo Tavares memilih jalur yang tidak konvensional dalam menentukan susunan pemain utama Persebaya Surabaya untuk menghadapi PSMS Medan pada lanjutan Grup B Piala Presiden 2026. Pelatih asal Portugal itu menegaskan keputusan soal starting line-up baru akan diambil pada pagi hari pertandingan, Rabu (29/7), setelah mengevaluasi kondisi fisik seluruh pemain usai tidur malam.
Kebijakan itu diungkapkan Tavares usai mengawasi sesi latihan sore Selasa (28/7) di Lapangan C Stadion Gelora Bung Tomo. Ia mengakui sejumlah pemain masih menunjukkan kelelahan pasca laga sebelumnya, sehingga hari Senin (27/7) sengaja dialokasikan penuh untuk istirahat dan pemulihan. "Kita tidak bisa melakukan apa yang kita inginkan, karena beberapa pemain sangat lelah," ujarnya, mengakui keterbatasan intensitas latihan kemarin.
Latar belakang keputusan ini tak terlepas dari padatnya jadwal turnamen Piala Presiden yang memaksa tim bermain beruntun dengan jeda singkat. Persebaya baru saja menyelesaikan laga pembukaan dan harus segera beranjak ke pertandingan kedua tanpa waktu pemulihan yang memadai. Situasi ini menciptakan dilema klasik bagi pelatih: mempertahankan kemenangan dengan pemain yang sudah terbukti, atau memutar skuad untuk mencegah cedera jangka panjang.
Tavares menegaskan bahwa tidak ada jaminan posisi bagi siapapun, termasuk pemain asing. "Kita bisa bermain dengan 10 orang asing atau hanya dengan pemain lokal. Tidak ada peraturan kuota," tegasnya. Prinsip meritokrasi ini konsisten diterapkannya sejak Amtsilati Januari 2026. Pemain yang menunjukkan performa terbaik di latihan — yang ia definisikan sebagai kemampuan pulih dan bergerak optimal — akan mendapat kepercayaan.
Pendekatan berbasis data dan observasi harian ini mencerminkan pergulatan modern sepak bola Indonesia di era profesionalisme. Berbeda dengan era sebelumnya di mana nama besar atau status pemain asing sering jadi pertimbangan utama, Tavares menerapkan standar objektif yang mengutamakan kesiapan fisik nyata. Hal ini juga mengirim sinyal kuat ke seluruh skuad: tidak ada tempat nyaman, setiap hari latihan adalah audisi.
Bagi PSMS Medan, kebocoran informasi ini justru bisa jadi senjata bermata dua. Lawan tidak bisa mempersiapkan marking spesifik karena starter Persebaya belum pasti, namun ketidakpastian itu sendiri menciptakan beban mental bagi tim tamu yang harus siap menghadapi berbagai variasi taktis. Tavares sadar akan hal ini dan justru memanfaatkan ambiguitas sebagai keuntungan taktis.
Dari perspektif pengembangan pemain lokal, kebijakan ini membuka peluang emas. Pemain muda Persebaya seperti Riski Fajar atau Muhammad Hidayat kini punya alasan konkret untuk memaksimalkan setiap sesi latihan. Jika mereka mampu menyaingi performa rekrutan asing di sesi pemulihan, pintu starting eleven terbuka lebar. Ini selaras dengan visi jangka panjang klub untuk membangun tim berbasis pemain dalam negeri yang kompeten untuk Super League.
Tavares sendiri menegaskan bahwa seluruh keputusan ini adalah bagian dari persiapan menghadapi Super League 2026/2027. "Tentu saja kami menyiapkan Super League. Tapi jika pemain lokal menunjukkan lebih dari asing, lokal yang main," ucapnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa Piala Presiden bukan sekadar turnamen pra-musim, melainkan laboratorium uji coba sistem dan hierarki pemain sebelum liga resmi bergulir.
Para analis sepak bola menilai strategi Tavares berisiko tinggi tapi potensial hasilnya maksimal. Menunggu hingga pagi pertandingan berarti staff medis dan fisik harus bekerja ekstra keras malam ini untuk memonitor variabel tidur, hidrasi, dan pemulihan otot setiap pemain. Kesalahan kecil dalam penilaian bisa berakibat fatal di lapangan.
Sementara itu, manajemen Persebaya sepertinya memberikan kepercayaan penuh pada metode Tavares. Tidak ada intervensi soal komposisi pemain asing maupun tekanan untuk memainkan nama-nama tertentu. Otonomi penuh ini langka di sepak bola Indonesia dan menjadi indikator baik bagi jangka panjang proyek tim Bajul Ijo.
Mata seluruh stakeholders kini tertuju ke pagi Rabu. Keputusan Tavares akan mengungkap apakah filosofi "performa di latihan menentukan posisi di lapangan" benar-benar hidup di kebudayaan tim, atau hanya jargon kosong. Jawabannya akan terlihat saat daftar 11 nama resmi diumumkan — dan kemudian, saat bola bergulir di Gelora Bung Tomo.