Olahraga

Takumi Taniguchi: Timnas Putri U-17 Butuh Polesan Menuju Kualifikasi Piala Asia 2027

Ringkasan

  • Pelatih Putri Nusantara Takumi Taniguchi menilai Timnas Putri Indonesia U-17 memerlukan perbaikan teknis dan taktis agar bisa bersaing di Kualifikasi Piala Asia 2027 yang digelar Oktober mendatang di Singapura.

Pelatih kepala Putri Nusantara, Takumi Taniguchi, mengakui bahwa skuad Timnas Putri Indonesia U-17 masih memerlukan proses pemolesan lebih lanjut sebelum berlaga di Kualifikasi Piala Asia Putri U-17 2027. Penilaian itu disampaikannya usai mengamati performa para pemain selama turnamen seleksi Srikandi Merdeka Cup 2026 yang berlangsung di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah.

Kualifikasi regional itu dijadwalkan digelar pada 5 hingga 11 Oktober 2026. Indonesia ditempatkan di Grup B bersama tuan rumah Singapura, Arab Saudi, dan Bahrain. Susunan grup yang relatif seimbang ini dinilai menjadi peluang emas bagi Garuda Putri untuk mencetak sejarah lolos ke babak final turnamen bergengsi tersebut.

Selama Srikandi Merdeka Cup, PSSI menurunkan dua tim percobaan sekaligus. Garuda Pertiwi di bawah asuhan Timo Scheunemann dan Putri Nusantara yang dibimbing Takumi. Hanya Garuda Pertiwi yang berhasil meloloskan diri ke semifinal setelah menguasai Grup A dengan catatan tiga kemenangan penuh. Sementara Putri Nusantara terhenti di fase grup setelah menempati posisi ketiga di Grup B, kalah unggul gol dari Yordania meski sama-sama mengoleksi tiga poin.

Kegagalan Putri Nusantara lolos ke babak eliminasi justru menjadi momentum evaluasi berharga bagi staf pelatih. Takumi menegaskan bahwa performa kedua tim selama turnamen menunjukkan tingkat kompetensi yang layak untuk ditantang di kancah internasional. "Saya benar-benar merasa mereka berada pada level yang memungkinkan untuk terus menantang dunia," ujar pelatih asal Jepang itu dengan nada optimis terukur.

Namun, sang pelatih tidak mau tertidur di atas laurel. Ia menyoroti beberapa aspek fundamental yang masih harus ditingkatkan secara konsisten. Di antaranya ketahanan fisik 90 menit, presisi finishing di kotak penalti, serta kemampuan membaca alur pertandingan saat menghadapi lawan yang lebih fisik dan taktis. Menurutnya, hal-hal itu tidak bisa dibangun instan melainkan memerlukan program pelatihan terstruktur jangka panjang.

Konteks ini semakin relevan mengingat sepak bola putri Indonesia baru bangkit pasca-pandemi. Program Liga 1 Putri yang digulir PSSI sejak 2019 baru mulai melahirkan generasi pemain muda berkualitas. Namun, celah kualitas dengan negara-negara ASEAN seperti Vietnam, Thailand, atau Australia masih terasa jauh. Kualifikasi Piala Asia kali ini menjadi ujian nyata apakah regenerasi yang digarap selama ini sudah berjalan di jalur yang benar.

Di sisi manajemen, keputusan PSSI membentuk dua tim percobaan dalam satu turnamen seleksi dinilai inovatif. Kebijakan itu memungkinkan staf pelatih mengamati lebih banyak pemain dalam kondisi kompetitif nyata, bukan hanya latihan tertutup. Timo Scheunemann yang berpengalaman di usia junior dan Takumi yang membawa filosofi Jepang saling melengkapi dalam memetakan potensi pemain.

Namun, tantangan logistik dan administratif tetap menghantui. Kalender padat Liga 1 Putri dan kebutuhan pemain untuk sekolah atau kuliah seringkali bentrok dengan jadwal latihan timnas. Beberapa bintang muda bahkan harus memilih antara karir akademik dan peluang berbendera merah putih. PSSI dan Kementerian Olahraga perlu menyusun skema fleksibel agar bakat-bakat tersebut tidak terbuang sia-sia.

Takumi sendiri mengakui budaya sepak bola Jepang yang menekankan disiplin, detail teknis, dan mentalitas kolektif sejak usia dini menjadi referensi utamanya. Ia berharap pendekatan serupa bisa diadopsi di Indonesia secara bertahap. Bukan hanya soal latihan fisik, tapi membangun kebiasaan profesional sejak usia U-15: pola makan, pemulihan, analisis video, hingga manajemen stres pertandingan.

Proyeksi ke depan, penggabungan pemain terbaik dari Garuda Pertiwi dan Putri Nusantara menjadi satu skuad solid adalah skenario paling logis. PSSI diharapkan segera menentukan pelatih kepala tunggal minimal tiga bulan sebelum kualifikasi dimulai. Waktu itu krusial untuk menyamakan visi taktis, membangun kimia tim, dan melakukan uji coba lawan berkualitas melalui uji coba internasional.

Jika proses polesan ini dijalani dengan serius dan didukung ekosistem yang kondusif, Timnas Putri U-17 punya peluang realistis untuk mengejutkan di Singapura. Lolos ke babak final Piala Asia bukan hanya soal prestasi, tapi bukti nyata bahwa investasi jangka panjang pada sepak bola putri Indonesia mulai membuahkan hasil. Mata seluruh pecinta sepak bola tanah air kini tertuju ke Kudus dan Jakarta, menunggu keputusan strategis PSSI di minggu-minggu mendatang.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menandai titik kritis dalam proyek regenerasi sepak bola putri Indonesia. Kualifikasi Piala Asia 2027 bukan sekadar turnamen, melainkan ujian nyata apakah ekosistem Liga 1 Putri dan program pengembangan usia dini PSSI sudah menghasilkan pemain yang siap bersaing regional. Keberhasilan atau kegagalan di Singapura akan menentukan arah kebijakan, anggaran, dan dukungan publik untuk sepak bola putri Indonesia ke depan. Lebih dari itu, ini adalah momen bagi PSSI membuktikan komitmen jangka panjang mereka bukan hanya jargon.

Sumber Asli
CNN Indonesia Olahraga
Tanggal
21 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit