Iga Swiatek resmi mengamankan tiket semifinal Cincinnati Masters 2026 tanpa harus menuntaskan pertemuan kuarterfinal lawan Elena Rybakina. Nomor satu dunia sebelumnya melaju ke empat besar usai lawannya ditarik keluar saat kalah 1-4 di set pembuka, Jumat (22/8) dini hari WIB di Lindner Family Tennis Center, Ohio.
Rybakina tampak kesulitan bergerak sejak awal set pertama. Di skor 40-all pada game kelima, pemain asal Kazakhstan tiba-tiba berhenti berlari, menahan tumit kaki kanannya, lalu berkonsultasi dengan pelatih fisik di bangku pemain. Ia mencoba kembali ke lapangan untuk satu poin terakhir sebelum akhirnya menyerahkan partai.
Kemunduran Rybakina menimbulkan kekhawatiran serius soal kesiapannya menghadapi US Open yang dimulai 30 Agustus mendatang. Pemain berusia 25 tahun itu berpeluang naik ke posisi nomor satu dunia pertama kali dalam kariernya hadir di final Cincinnati, mengingat Aryna Sabalenka — pemegang posisi puncak — tersingkir dini di tangan Sara Bejlek berusia 20 tahun.
"Saya merasa cemas menyaksikan seluruh situasi itu," ujar Swiatek usai partai. "Saya berharap dia pulih. Kesehatan selalu jadi prioritas. Turnamen ini penting, tapi US Open adalah US Open. Saya berharap dia siap untuk itu." Polak itu juga mengakui partai berlangsung bagus sebelum insiden terjadi.
Swiatek datang ke Cincinnati dengan momentum positif usai mengalahkan Rybakina di final Toronto awal bulan ini. "Saya merasa percaya diri dalam beberapa minggu terakhir. Saya merasa bagus, siap memainkan game saya," tandasnya. Di semifinal, Swiatek akan menghadapi Jessica Pegula yang lolos usai mengalahkan Amanda Anisimova 6-2, 4-6, 7-6 (7/4) dalam pertarungan sengit tiga set.
Pegula, berusia 32 tahun, terus merekor sejarah WTA. Ia menjadi pemain keempat sejak 2009 — setelah Li Na, Serena Williams, dan Svetlana Kuznetsova — yang mencapai minimal lima kuarterfinal Masters 1000 usia 30 tahun ke atas. Rekor pertemuan Pegula melawan Anisimova kini berdiri 6-0, meski setiap laga selalu berakhir dramatis seperti hari ini.
Di lini putra, Flavio Cobolli memetik kemenangan mengejutkan atas Tommy Paul 2-6, 6-3, 6-4. Uniknya, pemain Italia itu meminta permen cokelat dibawa ke lapangan di tengah pertarungan — ritual yang ia terapkan di partai ganda dan kini terbukti ampuh di tunggal. "Permen cokelat membuatku bahagia," ucap Cobolli tersenyum. "Saya coba di ganda, kenapa tidak di tunggal?"
Cobolli bangkit setelah kehilangan set pertama, lalu menahan tekanan di set ketiga saat Paul bertahan di game ke-7 lewat lima deuce dan menyelamatkan empat break point. Italia berusia 22 tahun itu akan bertemu Arthur Fils di semifinal. Prancis berusia 20 tahun itu menghela Thiago Tirante 6-3, 6-2 hanya dalam 64 menit — partai putra tercepat turnamen kali ini.
Fils menjadi pemain Prancis kelapan yang mencapai semifinal Cincinnati di Era Terbuka. Ia mengakui terkejut dengan kecepatan servis Tirante, namun berhasil menenangkan pikiran dan memaksa lawan bermain lebih banyak rally. "Saya coba buat dia main lebih lama. Saya tetap tenang di kepala dan itu berhasil," ujar Fils.
Kedua semifinal putri menghadirkan kontras menarik: Swiatek yang dominan di lapangan keras versus Pegula yang andal di usia emas karir. Sementara di putra, Cobolli dan Fils mewakili generasi baru yang siap menggeser dominasi Big Three era pasca-Zverev — yang sendiri tersingkir di tangan Paul hari Kamis.
Bagi penggemar tenis Indonesia, turnamen ini jadi penanda bentuk fisik para favorit US Open. Cedera Rybakina jadi peringatan keras soal manajemen beban main di musim keras. Sementara Pegula membuktikan usia bukan penghalang, asalkan manajemen fisik dan mental dijaga — pelajaran berharga bagi atlet muda Indonesia yang sering terburu-buru naik level.
Swiatek dan Pegula akan bertemu di semifinal Sabtu dini hari WIB, sementara Cobolli menghadapi Fils tidak lama setelahnya. Kemenangan di Cincinnati tidak hanya bawa poin ranking besar, tapi juga momentum psikologis vital menuju Flushing Meadows. Sepuluh hari tersisa. Siapa yang paling siap?