Pemerintah Kota Surabaya secara resmi menyatakan kesiapan penuh sebagai tuan rumah ajang pramusim bergengsi, Piala Presiden 2026. Fokus utama persiapan difokuskan pada pembenahan Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) yang akan menjadi panggung utama pertandingan Grup B, serta penyediaan fasilitas pendukung bagi para kontestan.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa koordinasi intensif dengan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) telah rampung dilakukan. Pihak pemkot kini berfokus memastikan seluruh infrastruktur fisik, mulai dari rumput lapangan hingga aksesibilitas stadion, berada dalam kondisi optimal sebelum turnamen dimulai pada 25 Juli 2026.
Kepercayaan diri Surabaya bukan tanpa alasan. Kota ini memiliki rekam jejak mumpuni dalam menyelenggarakan hajatan sepak bola internasional, termasuk saat menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia U-17 pada 2023. Pengalaman tersebut membuat Surabaya memiliki standar operasional prosedur yang mapan dalam mengelola dinamika kompetisi berskala besar.
Dalam skema turnamen kali ini, Stadion GBT akan menjadi pusat perhatian bagi pecinta sepak bola tanah air. Grup B yang dijadwalkan bertanding di Surabaya tergolong grup neraka karena diisi oleh tim-tim besar seperti Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, PSMS Medan, serta wakil Thailand, Port FC.
Kepala Disbudporapar Kota Surabaya, Herry Purwadi, menambahkan bahwa kenyamanan klub peserta menjadi prioritas utama. Selain GBT sebagai lokasi utama, pemkot telah menyiapkan Stadion Gelora 10 Nopember dan Lapangan Thor sebagai tempat latihan resmi bagi tim-tim yang berlaga.
Langkah ini merupakan bentuk komitmen konkret pemerintah daerah dalam mendukung ekosistem sepak bola nasional. Dengan menyediakan fasilitas latihan yang memenuhi standar internasional, Surabaya berharap turnamen pramusim ini berjalan lancar, aman, dan kompetitif hingga babak final pada 6 Agustus 2026.
Bagi industri sepak bola Indonesia, penyelenggaraan Piala Presiden 2026 di Surabaya memiliki arti strategis. Kehadiran klub luar negeri seperti Port FC memberikan dimensi baru bagi atmosfer turnamen pramusim, yang biasanya hanya didominasi oleh rivalitas klub domestik. Hal ini sekaligus menjadi ajang pemanasan bagi klub-klub Liga 1 sebelum memasuki kompetisi musim reguler.
Secara teknis, penggunaan fasilitas seperti Lapangan Thor dan Gelora 10 Nopember menunjukkan diversifikasi aset olahraga yang dimiliki Surabaya. Kota ini tidak lagi bergantung pada satu stadion saja, melainkan memiliki klaster fasilitas yang saling terintegrasi untuk mendukung kebutuhan logistik tim.
Eri Cahyadi menekankan bahwa pembagian tugas antara pemerintah daerah dan PSSI sudah terpetakan dengan jelas. Pemkot bertanggung jawab penuh atas ketersediaan venue dan kenyamanan infrastruktur, sementara aspek teknis pertandingan, perangkat wasit, hingga regulasi turnamen sepenuhnya berada dalam wewenang otoritas sepak bola tertinggi di Indonesia.
Prosedur tetap yang diterapkan Surabaya kini menjadi model bagi kota-kota lain dalam menyambut ajang olahraga. Konsistensi dalam menjaga kualitas rumput stadion dan manajemen arus penonton menjadi kunci utama keberhasilan yang ingin dipertahankan oleh Pemkot Surabaya.
Ke depan, kesuksesan Piala Presiden 2026 akan menjadi tolok ukur kesiapan Indonesia dalam mencalonkan diri sebagai tuan rumah turnamen internasional yang lebih besar. Dengan infrastruktur yang terus terawat, Surabaya membuktikan diri sebagai episentrum sepak bola yang layak diperhitungkan di Asia Tenggara.
Antusiasme publik di Surabaya diprediksi akan mencapai puncaknya saat Persebaya bersua dengan rival-rival beratnya. Dukungan suporter lokal yang dikenal fanatik dipastikan akan menambah kemeriahan, sekaligus menguji kesiapan sistem pengamanan stadion yang telah disusun sesuai standar keamanan terbaru.