Sepakbola

Super League 2026/27: Tujuh Pelatih Baru, Dua Klub Masih Tanpa Kepala

Ringkasan

  • Hingga akhir Juli 2026, tujuh klub Super League telah mengumumkan pelatih baru, sementara Dewa United dan Malut United belum menentukan kepemimpinan teknis.

Sepuluh pekan sebelum kick off musim 2026/2027, peta pelatih Super League sudah terbaca jelas. Tujuh klub telah mengganti komando teknis, sedangkan dua tim promosi memilih mempertahankan pelatih lama.

Persib Bandung mengangkat asisten Igor Tolić menggantikan Bojan Hodak, sedangkan Persija Jakarta memperkenalkan mantan pelatih timnas Shin Tae‑Yong. Borneo FC menggaet Mauro Jerenimo, Persik Kediri mendatangkan Marcos Reina, Madura United memilih Ze Gomes, PSM Makassar kembali mempercayakan Darije Kalezic, dan Garudayaksa menunjuk Milos Joksic.

Sembilan klub lain mempertahankan pelatih musim lalu. Arema FC tetap dipimpin Marquinhos Santos, Persita oleh Carlos Peña, Persebaya oleh Bernardo Tavares, Bhayangkara FC oleh Paul Munster, Bali United oleh Johnny Jansen, PSIM Yogyakarta oleh Jean‑Paul van Gastel, Persijap oleh Mario Lemos, PSS oleh Pieter Huistra, dan Adhyaksa FC oleh Ade Suhendra — satu-satunya pelatih lokal di daftar.

Dua lowong masih terbuka: Dewa United yang berpisah dengan Jan Olde Riekerink, dan Malut United yang memisahkan diri dari Hendri Susilo. Kabar beredar Dewa akan mendatangkan pelatih Brasil Osmar Loss, sementara Malut yang memindahkan home base ke Semarang dikabarkan akan mengumumkan Fabio Lefundes.

Komposisi pelatih musim ini menunjukkan dominasi Eropa: 13 dari 18 pelatih berasal dari benua biru, mencerminkan kecenderungan klub untuk mencari pengalaman taktis tingkat tinggi. Hanya Ade Suhendra yang mewakili kader pelatih dalam negeri di tingkat atas.

Pergantian massal ini dipicu oleh keinginan klub untuk mengejar target yang lebih ambisius — baik gelar liga, representasi Asia, maupun stabilitas performa. Beberapa klub yang gagal memenuhi ekspektasi musim lalu memilih reset total, sementara yang sukses justru mempertahankan kontinuitas.

Dampaknya terasa pada variasi gaya bermain. Pelatih Portugal dan Spanyol cenderung mengedepankan kontrol bola dan tekanan tinggi, sedangkan pelatih Belanda dan Serbia sering menerapkan sistem transisi cepat. Dinamika ini akan memperkaya pertarungan taktis di setiap pekan.

Bagi penggemar, kehadiran nama‑nama besar seperti Shin Tae‑Yong dan Darije Kalezic menambah daya tarik tontonan dan menegangkan persaingan di papan atas. Sementara itu, ketidakpastian di Dewa dan Malut menciptakan narasi sendiri yang akan diikuti media hingga pengumuman resmi.

Pengamat liga menilai bahwa kekayaan pelatih asing bisa mempercepat transfer pengetahuan ke asisten lokal, namun jangka panjang diperlukan jalur sertifikasi dan pengalaman bagi pelatih Indonesia agar bisa naik ke level tertinggi.

Langkah selanjutnya adalah finalisasi kontrak dua klub yang masih kosong, serta persiapan pra‑musim yang akan menguji keselarasan antara filosofi pelatih baru dan susunan pemain. Hasil uji coba ini akan menentukan arah awal klasemen.

Secara keseluruhan, Super League 2026/2027 hadir dengan peta pelatih yang lebih berwarna dan kompetitif. Kombinasi kontinuitas di sebagian klub dan revolusi di yang lain menciptakan dinamika yang menjanjikan musim penuh drama.

Mengapa Ini Penting

Dominasi pelatih Eropa menandakan standar taktis liga naik, namun keterbatasan pelatih lokal hanya satu orang menyoroti celah regenerasi kader dalam negeri. Ketidakpastian di Dewa United dan Malut United menjadi variabel yang bisa menggeser keseimbangan kekuatan di awal musim. Jika klub‑klub besar seperti Persija dan Persib berhasil mengintegrasikan filosofi pelatih baru dengan cepat, persaingan gelar akan lebih terbuka dan menarik perhatian sponsor serta penonton.

Sumber Asli
CNN Indonesia Sepak Bola
Tanggal
22 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit