Steve Bruce, mantan kapten Manchester United yang mengantarkan klub itu meraih tiga gelar Premier League pada era 1990-an, mengeluarkan pernyataan tegas soal peluang tim kesayangannya di musim depan. Menurutnya, kualitas skuad saat ini belum setara dengan Arsenal yang diprediksi akan mempertahankan gelar juara.
Pernyataan Bruce datang usai Manchester United resmi memperpanjang kontrak Michael Carrick hingga 2029. Pelatih berusia 45 tahun itu menerima mandat penuh setelah berhasil mengubah nasib tim dari posisi ketujuh menjadi finis ketiga klasemen Liga Inggris 2025/2026. Pencapaian itu mengantarkan Setan Merah kembali ke Liga Champions untuk pertama kalinya sejak musim 2023/2024.
Kembali ke jejak Carrick, mantan gelandang timnas Inggris itu diangkat sebagai manajer awal tahun 2026 menggantikan pelatih sebelumnya yang performanya menurun. Di bawah bimbingannya, Manchester United menampilkan pola permainan yang lebih terstruktur dan efisien. Tim mencatat seri kemenangan beruntun di babak kedua musim, termasuk kemenangan besar atas lawan langsung di zona atas klasemen.
Namun Bruce, yang memakai jersi merah selama sembilan musim (1987–1996), menilai stabilitas saja belum cukup. "Lihat, Manchester United telah membuat kemajuan besar. Masuk ke Liga Champions akan menjadi kesuksesan bagi Michael Carrick," ujarnya saat wawancara dengan TalkSPORT. "Namun bagi United untuk kemudian memenangkannya? Saya tidak yakin mereka sudah siap."
Keskeptisan Bruce didasarkan pada kesenjangan kedalaman skuad. Arsenal dibangun Mikel Arteta selama beberapa musim dengan rekrutmen terarah, menciptakan tim yang seimbang di semua lini. Sementara Manchester United masih bergantung pada beberapa pemain kunci dan belum memiliki cadangan berkualitas setara untuk menghadapi padatnya jadwal Liga Champions, Piala FA, dan Carabao Cup secara bersamaan.
Sejarah juga jadi catatan. Manchester United terakhir mengangkat trofi Premier League di musim 2012/2013 — era Sir Alex Ferguson. Sejak pensiun manajer legendaris itu, klub ini mengalami pergantian pelatih berulang: David Moyes, Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Ralf Rangnick, Erik ten Hag, hingga Carrick. Ketidakstabilan manajemen itu meninggalkan luka dalam budaya klub.
Carrick sendiri justru menjadi simbol kelanjutan. Sebagai mantan pemain United yang memenangkan gelar pada 2012/2013, ia memahami DNA klub. Pendekatannya yang tenang dan berbasis data kontras dengan gaya pelatih sebelumnya yang cenderung konfrontatif. Pemain-pemain muda seperti Kobbie Mainoo dan Alejandro Garnacho berkembang pesat di bawah asuhannya.
Di sisi lain, Arsenal tampil lebih matang. Musim 2025/2026 mereka finis juara dengan selisih poin tipis atas Manchester City. Proyek Arteta sudah berjalan lima tahun, dengan tulang punggung tim — Bukayo Saka, Martin Ødegaard, William Saliba — sudah berusia emas dan bermain bersama lama. Kedalaman bangku cadangan mereka juga teruji di Liga Champions musim lalu.
Bagi penggemar Indonesia yang mengikuti Premier League melalui platform streaming, narasi ini menambah rasa penasaran. Manchester United tetap klub paling populer di Nusantara, dengan jutaan penggemar yang menunggu gelar ke-21. Kembalinya tim ke Liga Champions berarti jadwal siaran malam hari Senin-Rabu akan lebih menarik, tapi tekanan pada Carrick akan melonjak drastis.
Langkah selanjutnya United di bursa transfer musim panas akan menentukan apakah Bruce salah atau benar. Klub butuh minimal dua pemain berkualitas tinggi: seorang striker andal dan gelandang pertahanan yang bisa memutar bola di bawah tekanan. Jika rekrutmen gagal, musim 2026/2027 bisa jadi ulangan musim-musim sebelumnya: awal cerah, tengah musibah, akhir mengecewakan.
Sementara itu, Carrick memilih tenang. Ia fokus pada pra-musim dan penguatan aspek taktis, terutama transisi pertahanan ke serangan yang masih jadi kelemahan tim. "Kami bangun sesuatu di sini," ujarnya dalam konferensi pers perpanjangan kontrak. "Proses butuh waktu, tapi arahnya benar."