Spanyol resmi mengantarkan diri ke final Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Prancis 2-0 di semifinal yang berlangsung di AT&T Stadium, Arlington, Texas, Rabu (15/7) dini hari WIB. Kemenangan ini menandai kembalinya La Roja ke panggung final dunia setelah 16 tahun absensi sejak kemenangan terakhir mereka di Afrika Selatan 2010. Prancis, juara bertahan, harus puas menjadi penunggang kuda hitam turnamen ini.
Laga berlangsung ketat sejak menit pertama, namun Spanyol yang lebih efisien memanfaatkan peluang. Keunggulan pertama tercipta pada menit ke-22 melalui eksekusi penalti Mikel Oyarzabal. Tendangan hukuman itu diberikan setelah Lucas Digne melakukan pelanggaran pada Lamine Yamal di dalam kotak penalti. Oyarzabal dengan tenang mengarahkan bola ke sisi kiri gawang Mike Maignan yang meski menebak arah, gagal menyentuh bola.
Pertandingan berubah arah sepenuhnya setelah istirahat. Prancis mencoba menekan melalui Ousmane Dembele dan Bradley Barcola di sayap, namun pertahanan Spanyol yang dipimpin Aymeric Laporte dan Pau Cubarsi berdiri tegak. Ancaman paling berbahaya Prancis datang pada menit ke-55 ketika Barcola menembak dari sudut kotak penalti, namun Unai Simon mengamankan dengan lancang.
Tiga menit kemudian, Spanyol mematikan pertarungan. Pedro Porro, bek kanan yang sering naik mendukung serangan, menerima umpan melintas presisi dari Dani Olmo. Porro menembak keras dari luar kotak penalti, bola melesat ke gawang Maignan yang tak berdaya. Gol ini menjadi bukti efektivitas sistem Luis de la Fuente yang memanfaatkan bek sayap sebagai senjata tambahan.
Susunan pemain Prancis yang dipimpin Didier Deschamps tampil dengan formasi 4-3-3: Maignan; Kounde, Upamecano, Saliba, Digne; Tchouameni, Rabiot; Dembele, Olise, Barcola; Mbappe. Sementara Spanyol menghadapi dengan 4-2-3-1: Unai Simon; Porro, Cubarsi, Laporte, Cucurella; Rodri, Fabian Ruiz; Yamal, Olmo, Baena; Oyarzabal. Kendali Rodri di tengah lapangan menjadi kunci Spanyol menguasai tempo permainan.
Kemenangan ini memiliki makna sejarah bagi sepak bola Spanyol. Setelah era tiki-taka yang memuncak pada 2008-2012, La Roja mengalami masa transisi yang panjang. Di bawah bimbingan De la Fuente, tim ini menemukan identitas baru: lebih vertikal, fisik, dan efisien di depan gawang. Kehadiran bintang muda seperti Lamine Yamal (17 tahun) dan Pedri (meski absen cedera) menandakan regenerasi yang sukses.
Bagi Prancis, kekalahan ini menutup generasi emas yang dipimpin Kylian Mbappe. Meskipun masih berusia 27 tahun, Mbappe gagal membawa Les Bleus ke final kedua berturut-turut. Masalah finishing menjadi momok Prancis sepanjang turnamen — mereka hanya mencetak 9 gol di 6 laga, angka terendah bagi finalis dunia sejak 2006. Deschamps harus menjawab pertanyaan keras soal masa depan skuadnya.
Dari perspektif Indonesia, laga ini menawarkan pelajaran taktis yang berharga. Sistem 4-2-3-1 Spanyol dengan double pivot Rodri-Fabian Ruiz menunjukkan pentingnya keseimbangan antara kontrol bola dan transisi cepat. Pelatih klub Liga 1 serta timnas Indonesia bisa mempelajari bagaimana De la Fuente memaksimalkan bek sayap (Porro, Cucurella) sebagai playmaker sekunder — konsep yang masih jarang diterapkan penuh di liga domestik.
Lamine Yamal menjadi sorotan khusus. Pada usia 17 tahun, ia sudah menjadi starter tetap di semifinal Piala Dunia, menciptakan penalti pembuka, dan secara konsisten mengancam pertahanan lawan. Perbandingannya dengan talenta muda Indonesia seperti Arkhan Fikri atau Zanadin Fariz menjadi inevitable: apakah sistem pengembangan pemain kita sudah siap memproduksi pemain yang siap berkompetisi di level tertinggi sejak usia remaja?
Final Piala Dunia 2026 akan mempertemukan Spanyol dengan pemenang semifinal kedua antara Argentina dan Brasil yang dijadwalkan besok. Spanyol akan berusaha meraih gelar ke-2 dalam sejarah, sementara lawan mereka akan menentukan apakah final ini akan menjadi klasik Eropa vs Amerika Selatan atau derby benua yang sama. Jadwal final ditetapkan pada Minggu (19/7) di MetLife Stadium, New Jersey.
Sejarah mencatat ini adalah kali ke-4 Spanyol mencapai final Piala Dunia (1950, 2010, 2026), dan kali ke-2 mereka menghadapi tim Amerika Selatan di final jika Argentina lolos. Kemenangan atas Prancis juga membalas kekalahan di final Liga Nations 2021. Untuk De la Fuente, ini adalah puncak karir pelatih yang selama ini lebih dikenal di level usia muda (U19, U21, Olimpiade).
Pertarungan taktis di final nanti akan sangat menarik. Spanyol hadir dengan gaya permainan yang matang, disiplin taktis, dan efisiensi tinggi. Kunci mereka akan ada pada kemampuan Rodri mengontrol tempo serta ketajaman Yamal dan Olmo di tiga terakhir. Apakah La Roja bisa menuliskan babak baru keemasan? Jawabannya menunggu di New Jersey empat hari lagi.