Sepakbola

Spanyol Dominasi Tanpa Gol, Argentina Bertahan ke Babak Tambahan Final Piala Dunia

Ringkasan

  • Spanyol menguasai 65 persen bola dan mencatat 12 tembakan namun gagal menembus gawang Argentina yang bertahan 0-0 hingga peluit panjang final Piala Dunia 2026 di New York New Jersey Stadium, Senin dinihari.

Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di New York New Jersey Stadium berakhir tanpapun gol setelah 90 menit waktu normal. La Roja tampil sangat dominan dengan penguasaan bola mencapai 65 persen dan melepaskan 12 tembakan, tujuh di antaranya mengarah ke gawang. Di sisi lain, Albiceleste bermain sangat defensif dan gagal menciptakan satu pun tembakan sepanjang babak pertama maupun kedua.

Kedudukan 0-0 ini memaksa kedua tim ke babak perpanjangan waktu. Penjaga gawang Argentina, Emiliano Martinez, menjadi sosok kunci dengan sejumlah penyelamatan kritis yang menjaga kebersihan gawangnya. Martinez menggagalkan sundulan Aymeric Laporte pada menit ke-81, menepis tembakan Nico Williams dari luar kotak penalti di masa injury time, serta mengamankan tendangan bebas Lamine Yamal di menit terakhir.

Spanyol memulai laga dengan tekanan tinggi sejak menit awal. Peluang emas pertama hadir pada menit kelima ketika Lamine Yamal menerima umpan di dalam kotak penalti, namun penyelesaiannya masih tepat ke pelukan Martinez. Argentina mendapat pukulan ganda menjelang istirahat: Lisandro Martinez yang sudah dikuningi menit ke-41 harus digantikan Nicolas Otamendi pada menit ke-44 akibat cedera.

Masuk babak kedua, pelatih Argentina Lionel Scaloni mencoba mengubah alur permainan dengan memasukkan Leandro Paredes menggantikan Nicolas Gonzalez pada menit ke-57. Perubahan itu tak banyak mengubah dinamika karena Spanyol terus menguasai tempo. Luis de la Fuente lalu menjawab dengan memasukkan Pedri dan Ferran Torres pada menit ke-62 untuk menambah kreativitas. Ferran hampir mencetak gol lima menit kemudian lewat sundulan, tapi Martinez kembali sigap.

Statistik menunjukkan kesenjangan tajam: Spanyol 12 tembakan (7 on target) lawan 0 tembakan Argentina. La Roja juga mencatat 612 operan dengan akurasi 89 persen, sedangkan Argentina hanya 329 operan. Kendati begitu, disiplin pertahanan Albiceleste — yang dikawal Otamendi, Cristian Romero, dan Nicolas Tagliafico — berhasil meredam gelombang serangan lawan.

Kondisi semakin sulit bagi Argentina saat Enzo Fernandez menerima kartu kuning kedua pada menit ke-90+3 setelah pelanggaran keras ke Pau Cubarsi. Albiceleste harus menyelesaikan sisa laga serta babak tambahan dengan 10 pemain. Meski kehabisan satu orang, blok pertahanan Argentina tetap kompak dan tidak memberikan ruang bagi penyerang Spanyol.

Keunggulan numerik Spanyol di lapangan tidak sebanding dengan ketajaman finishing. Alvaro Morata dan Nico Williams sering kali terlalu buru-buru dalam penyelesaian, sedangkan Lamine Yamal — meski aktif menciptakan peluang — belum mampu menjadi penentu. Pedri yang masuk sebagai pengganti memberikan kontrol tengah lapangan yang lebih baik, namun waktu normal habis sebelum ia bisa memecah kebuntuan.

Bagi Argentina, strategi bertahan lalu mencari konter — meski konter itu tak pernah terealisasi — terbukti efektif untuk menyeret laga ke babak tambahan. Scaloni mempertaruhkan keseimbangan tim dengan mengorbankan sisi ofensif. Keputusan tarik Lisandro Martinez dini hari terbukti tepat karena Otamendi tampil solid bersama Romero di tengah pertahanan.

Sejarah mencatat ini kali ketiga final Piala Dunia berlanjut ke babak tambahan setelah 1994 (Brasil vs Italia) dan 2010 (Spanyol vs Belanda). Spanyol pernah memenangkan final 2010 lewat gol Andres Iniesta di menit ke-116. Kini La Roja berusaha mengulang kisah serupa, sementara Argentina mengejar gelar ketiga setelah 1978 dan 1986.

Kedua tim kini memiliki 30 menit babak tambahan untuk memutuskan nasib. Jika tetap imbang, seri penalti akan menentukan juara dunia. Kesegaran fisik jadi faktor krusial: Spanyol punya cadangan lebih segar seperti Mikel Merino dan Ayoze Perez, sedangkan Argentina kehabisan slot substitusi dan bermain 10 orang.

Final ini juga menjadi uji karakter bagi generasi emas Spanyol — Yamal, Pedri, Nico Williams, Gavi — yang mendominasi sepak bola klub tapi belum membuktikan diri di panggung dunia senior. Di sisi Argentina, Lionel Messi tidak tampil di laga ini, menyerahkan kapten ke Otamendi dan mempercayakan garis depan ke Julian Alvarez dan Lautaro Martinez yang hari ini tak disentuh bola sama sekali.

Apa pun hasilnya, laga ini sudah menonjolkan kontras gaya bermain: Spanyol dengan filosofi tiki-taka modern yang mengutamakan kontrol, versus Argentina yang pragmatis, bergantung pada keunggulan individu Martinez di bawah mistar. Babak tambahan akan menjawab apakah dominasi statistik bisa dikonversi jadi gol, atau ketahanan mental Albiceleste akan membayar mahal.

Mengapa Ini Penting

Final ini menampilkan kontras filosofi sepak bola modern: Spanyol yang mendominasi statistik tapi kesulitan finishing versus Argentina yang pragmatis dan bergantung pada briliannya Emiliano Martinez. Bagi penggemar Indonesia, ini jadi pelajaran bahwa penguasaan bola tidak menjamin kemenangan — efisiensi dan mentalitas juara tetap penentu. Generasi emas Spanyol (Yamal, Pedri, Nico) diuji kemampuan memecah pertahanan padat, situasi yang sering dihadapi timnas Indonesia di kualifikasi Asia. Hasil laga ini juga akan memengaruhi tren taktik pelatih lokal: apakah tetap mempertahankan filosofi berbasis posse atau beralih ke pendekatan lebih pragmatis seperti Argentina.

Sumber Asli
Tempo Bola
Tanggal
19 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit