Sepakbola

Spanyol Dominan Tapi Gagal Menembus Gawang Argentina, Final Piala Dunia 2026 Masuk Perpanjangan Waktu

Ringkasan

  • Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina berakhir 0-0 setelah 90 menit di New Jersey Stadium, Senin dini hari WIB, memaksa laga masuk babak perpanjangan 2x15 menit.

Spanyol menguasai permainan sejak menit pertama di East Rutherford, memaksa Argentina bertahan dalam benteng pertahanan yang rapat. Kendati mengendali bola dan menciptakan sejumlah peluang berbahaya, La Roja gagal memanfaatkan keunggulan numerik di tengah lapangan hingga wasit mengakhiri babak reguler.

Kiper Argentina, Emiliano Martinez, menjadi pahlawan tak tersungkan dengan minimal enam penyelamatan kritis sepanjang laga. Dia menahan tembakan Lamine Yamal di menit kelima, sepakan first-time Mikel Oyarzabal di menit ke-38, hingga tandukan Aymeric Laporte dan sepakan Nico Williams di menit-menit akhir. Kehadiran Martinez di bawah mistar gawang menjadi satu-satunya alibi Argentina yang tertekan hampir seluruh pertandingan.

Argentina kehilangan bek andalannya, Lisandro Martinez, sejak menit ke-43 akibat cedera paha kanan. Nicolas Otamendi yang menggantikannya harus bekerja ekstra keras memotong aliran serangan Spanyol yang mengalir deras dari kedua sayap. Situasi semakin sulit bagi La Albiceleste ketika Enzo Fernandez menerima kartu kuning kedua di menit ke-94 usai melanggar Pau Cubarsi dengan keras, memaksa Argentina bermain dengan sepuluh orang saat memasuki perpanjangan waktu.

Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, mencoba memecah kebuntuan dengan memasukkan Nico Williams dan Mikel Merino pada menit ke-75 menggantikan Alex Baena dan Dani Olmo. Pergantian itu memang menambah kecepatan di sayap kiri, tapi finishing para penyerang Spanyol tetap meleset. Ferran Torres yang masuk lebih awal menggantikan Oyarzabal pun gagal mengubah angka di menit ke-67 ketika menanduk umpan silang Yamal lurus ke pelukan Martinez.

Di sisi lain, Lionel Messi terlihat relatif diam dibungkam pertahanan Spanyol yang dipimpin Aymeric Laporte dan Pau Cubarsi. Kapten Argentina jarang menerima umpan bersih dan lebih sering harus turun ke tengah mencari bola. Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, melakukan rotasi bertahap dengan memasukkan Leandro Paredes, Giuliano Simeone, dan Nahuel Molina, namun perubahan tersebut lebih bersifat memperkuat pertahanan daripada menciptakan ancaman serius.

Statistik menunjukkan dominasi Spanyol yang luar biasa: penguasaan bola mencapai 68 persen dengan total tembakan 18 kali, delapan di antaranya ke arah gawang. Argentina hanya mencatat dua tembakan dan tidak satupun on target. Namun, efisiensi pertahanan Argentina yang dipandu Otamendi dan Cristian Romero — sebelum digantikan Facundo Medina — berhasil menyekat segala upaya Spanyol.

Kedatangan perpanjangan waktu membuka babak baru yang penuh tekanan psikologis. Spanyol memiliki keuntungan numerik setelah pengeluaran Enzo, tapi kelelahan fisik mulai terlihat pada pemain-pemain kunci seperti Rodri dan Yamal yang sudah berlari penuh 90 menit dengan intensitas tinggi. Argentina akan bertaruh pada konter cepat melalui Julian Alvarez dan kecepatan Simeone di sayap kanan.

Sejarah mencatat final Piala Dunia terakhir yang berakhir 0-0 setelah 90 menit terjadi pada edisi 2010 saat Spanyol mengalahkan Belanda 1-0 lewat gol Andres Iniesta di perpanjangan waktu. Kontes malam ini memiliki kemiripan pola: Spanyol yang menguasai posse tapi kesulitan menembus benteng fisik lawan. Pertanyaan kunci: apakah De la Fuente punya 'Iniesta' baru di bangku cadangan?

Bagi penggemar sepak bola Indonesia, final ini menjadi momen langka menyaksikan dua gaya bermain kontras bertemu di puncak: tiki-taka modern Spanyol yang berlandaskan kontrol posisi, versus pragmatisme Argentina yang mengandalkan ketangguhan mental dan keahlian kiper. Tayangan laga ini di platform streaming lokal kemungkinan besar akan memecahkan rekor penonton simultan untuk pertandingan sepak bola internasional non-timnas Indonesia.

Laga akan berlanjut dengan dua babak perpanjangan 15 menit. Jika skor tetap imbang, seri penalti akan menentukan juara dunia ke-23. Kedua tim memiliki catatan bagus di adu penalti: Spanyol memenangkan shootout lawan Belanda di perempat final Euro 2024, sedangkan Argentina mengalahkan Prancis di final Piala Dunia 2022 serta Ecuador di Copa America 2024. Kesiapan mental kiper Unai Simon dan Martinez akan diuji sekali lagi.

Mengapa Ini Penting

Final ini menampilkan pertemuan dua filsafat sepak bola yang kontradiktif: dominasi posisi Spanyol versus pragmatisme Argentina. Hasil laga ini akan menentukan apakah era baru Spanyol pasca-Busquets/Iniesta benar-benar tiba, atau Argentina akan mempertahankan gelar dengan tim yang dibangun di atas ketangguhan mental Messi. Bagi industri siaran Indonesia, final ini menjadi uji coba kapasitas platform streaming lokal menangani lonjakan trafik masif pada jam tidak wajar. Juga, performa Lamine Yamal (18 tahun) di panggung terbesar menjadi benchmark pengembangan pemain muda di akademi sepak bola nusantara.

Sumber Asli
Detik Sepak Bola
Tanggal
19 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit