Pelatih kepala Timnas Futsal Indonesia, Hector Souto, memberikan penilaian realistis soal posisi Skuad Garuda di peta futsal dunia. Jurutaktik asal Spanyol itu menilai Indonesia butuh waktu sekitar 20 tahun baru bisa berdiri setara dengan kekuatan tradisional seperti Brasil, Portugal, Spanyol, dan Argentina — keempat negara yang menduduki puncak ranking FIFA. Pernyataan itu disampaikannya di Jakarta, Selasa (28/7), tepat sebelum tim berangkat ke Eropa untuk serangkaian uji coba kualitas.
Kesenjangan yang Souto sebut bukan sekadar soal keterampilan individual, melainkan akar sistem pembinaan. Di Eropa dan Amerika Selatan, anak-anak mulai dilatih terstruktur sejak usia enam hingga delapan tahun, dengan sistem seleksi bergulir setiap musim. Berbeda di Indonesia, pemain berusia 15 atau 16 tahun sering sudah mengincar kontrak profesional di klub tanpa melewati fondasi teknis yang matang. "Di sana mereka memulai dari U-6, U-8, U-10, dan selalu memilih yang terbaik setiap musimnya," ujar Souto, menegaskan bahwa tanggung jawab generasi pelatih saat ini adalah mengejar ketertinggalan struktural itu.
Realitas kesenjangan itu akan diuji langsung pada 11 hingga 24 Agustus mendatang. Timnas dijadwalkan melakukan pemusatan latihan di Spanyol dan bertemu tiga lawang tangguh: dua wakil Liga Spanyol, Palma dan Noia, serta Braga dari Portugal. Ketiga klub itu rutin bersaing di Liga Champions UEFA Futsal, tingkat kompetisi klub tertinggi di benua biru. Souto sendiri sudah menyiapkan mentalitas tim: hasil kemenangan bukan prioritas utama, melainkan bagaimana menerapkan konsep baru ke dalam sistem bermain.
Kendati target jangka panjang diatur 20 tahun ke depan, pencapaian jangka pendek justru cukup memuaskan. Sepanjang 2024 hingga 2026, Indonesia menguasai zona ASEAN dengan gelar juara Piala AFF Futsal 2024 dan medali emas SEA Games 2025. Di kancah Asia, Merah Putih finis runner-up Piala Asia 2026 — hasil terbaik dalam sejarah. Dominasi regional itu membuktikan Indonesia sudah punya basis pemain berkualitas, tapi Souto tak mau tim terjebak dalam zona nyaman.
"Di Asia Tenggara kami telah bersaing dengan sangat baik. Saat ini targetnya adalah meningkatkan level dan bersaing melawan tim-tim Eropa serta Amerika Selatan," tegas pelatih yang pernah mengasuh klub di Liga Spanyol tersebut. Ia sadar lompatan kualitas dari level Asia ke level dunia butuh lebih dari sekadar peningkatan fisik. Perbedaan kecepatan pemikiran, presisi passing di ruang sempit, dan manajemen transisi jadi parameter yang harus dikejar.
Pendekatan Souto mengingatkan pada model pembangunan Jepang dan Iran dua dekade lalu. Keduanya memulai dari memperkuat liga domestik, mengadopsi sistem latihan Eropa, dan mengirim pemain muda ke klub-keluarga di Spanyol atau Brasil. Indonesia saat ini punya Liga 1 Futsal yang relatif stabil, tapi kedalaman bakat di lapisan U-18 dan U-20 masih tipis. Kebanyakan klub lebih memilih rekrut pemain siap pakai rather than investasi akademi jangka panjang.
Faktor biaya jadi hambatan klasik. Membangun akademi futsal berstandar internasional butuh lahan, fasilitas indoor, dan tenaga pelatih berlisensi AFC/UEFA — semuanya mahal. Beberapa klub seperti Bintang Timur Surabaya dan Black Steel Papua mulai membuka akademi, tapi skala masih terbatas. Tanpa insentif dari sisi pengelola liga atau dukungan pemerintah daerah, ekosistem pembinaan usia akan sulit berkembang secara merata.
Sementara itu, ketersediaan pemain naturalisasi jadi topik hangat di kalangan penggemar. Beberapa nama keturunan Indonesia di Eropa pernah dikaitkan, tapi Souto lebih memilih fokus pada pengembangan pemain lokal. "Kami punya bakat di sini. Yang dibutuhkan adalah waktu, sistem, dan kesabaran," katanya. Keputusan ini sejalan dengan visi PSSI yang ingin membangun identitas bermain berbasis pemain dalam negeri, meski pintu naturalisasi tidak tertutup total.
Latihan di Spanyol nanti juga jadi momentum evaluasi untuk staf pendamping. Souto akan menguji variasi formasi, sistem pressing tinggi, dan rotasi pemain dalam situasi tekanan tinggi — hal yang jarang didapat saat lawan tim Asia Tenggara. Data performa dari tiga laga uji coba itu akan jadi acuan penyusunan program pemusatan menuju Piala Dunia Futsal 2028 di Uzbekistan.
Jadwal padat menanti. Setelah pulang dari Spanyol, Timnas akan memasuki fase persiapan eliminasi Piala Asia 2026 yang berlangsung akhir tahun ini. Kualifikasi ke Piala Dunia 2028 butuh performa konsisten di level Asia, terutama saat menghadapi Iran, Jepang, dan Uzbekistan yang sudah lama jadi langganan World Cup. Souto menargetkan minimal lolos ke babak final delapan besar Piala Asia sebagai milestone jangka menengah.
Di luar lapangan, tantangan lain hadir dari sisi komersial. Popularitas futsal di Indonesia naik signifikan pasca kemenangan AFF dan SEA Games, tapi konversi ke pendapatan liga dan sponsor akademi masih lambat. Jika ekosistem ekonomi futsal tidak diperkuat, target 20 tahun Souto berisiko meleset karena aliran bakat baru terhenti di tengah jalan. Kolaborasi PSSI, klub, dan pemerintah daerah jadi kunci agar rencana jangka panjang itu tidak hanya jadi jargon.
Pada akhirnya, pernyataan Souto soal 20 tahun bukan pesimisme, melainkan peta jalan yang jujur. Futsal Indonesia sedang berdiri di persimpangan: sudah juara di rumah, tapi masih anak baru di kelas dunia. Uji coba di Spanyol Agustus ini akan jadi cermin pertama — bukan untuk mencari kemenangan, tapi untuk mengukur seberapa jauh jarak yang harus ditempuh. Dan dari pengukuran itulah, langkah nyata berikutnya akan ditentukan.