Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan melakukan langkah diplomasi tingkat tinggi dengan menghubungi Presiden FIFA, Gianni Infantino, guna membahas status penyerang andalan tim nasional AS, Folarin Balogun. Intervensi ini dilakukan menyusul kartu merah yang diterima Balogun saat laga babak 32 besar Piala Dunia melawan Bosnia dan Herzegovina pada Rabu (1/7), setelah ia dianggap melakukan pelanggaran terhadap Tarik Muharemovic.
Akibat kartu merah tersebut, Balogun seharusnya menjalani skorsing otomatis satu pertandingan yang membuatnya absen pada laga krusial babak 16 besar melawan Belgia. Namun, laporan dari The New York Times yang mengutip empat sumber tepercaya mengungkapkan bahwa Trump secara pribadi meminta FIFA untuk meninjau kembali sanksi tersebut hanya beberapa jam setelah pertandingan berakhir.
Dalam pernyataan resminya pada Senin, FIFA mengonfirmasi bahwa Folarin Balogun diizinkan untuk tampil dalam pertandingan melawan Belgia yang diselenggarakan di Seattle Stadium. Keputusan ini diambil berdasarkan penerapan Pasal 27 dalam Peraturan Kedisiplinan FIFA (FDC), yang memberikan wewenang kepada badan peradilan FIFA untuk menangguhkan pelaksanaan tindakan pendisiplinan secara penuh maupun sebagian.
FIFA menyatakan bahwa skorsing otomatis tersebut kini ditangguhkan dengan masa percobaan selama satu tahun. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat prosedur pembatalan skorsing di tengah turnamen Piala Dunia merupakan fenomena yang sangat langka. Tercatat, ini adalah kali pertama sejak tahun 1962 FIFA memberikan kelonggaran serupa kepada pemain yang telah dikeluarkan dari lapangan.
Menanggapi keputusan tersebut, Donald Trump menyampaikan apresiasinya melalui platform Truth Social. Ia menyebut langkah FIFA sebagai tindakan yang tepat dalam memperbaiki apa yang ia sebut sebagai sebuah ketidakadilan besar. Pernyataan ini pun memicu perdebatan luas mengenai batasan pengaruh politik dalam otoritas olahraga internasional yang seharusnya bersifat independen.
Langkah ini dinilai sebagai preseden baru dalam tata kelola sepak bola dunia. Meskipun FIFA menekankan bahwa keputusan tersebut berada dalam koridor hukum internal mereka, keterlibatan tokoh politik papan atas dalam kebijakan disipliner olahraga tetap menjadi sorotan publik global. Publik kini menantikan bagaimana dampak dari kehadiran Balogun di lapangan akan memengaruhi jalannya turnamen Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di Amerika Serikat.