Alan Shearer mengecam FIFA karena tetap menggelar laga perebutan peringkat ketiga Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Inggris di Miami Stadium pada Minggu (19/7/2026). Menurut legenda timnas Inggris tersebut, pertandingan itu hanya dipertahankan untuk kepentingan komersial, bukan demi kualitas turnamen atau kepentingan pemain.
Duel penentuan posisi ketiga itu dihelat setelah kedua tim gagal melangkah ke final. Prancis tersingkir usai kalah 0-2 dari Spanyol di semifinal. Inggris menelan kekalahan menyakitkan 1-2 dari juara bertahan Argentina, padahal sempat unggul lebih dulu di babak empat besar.
Kondisi mental skuad Prancis dan Inggris saat turun di Miami jelas tidak ideal. Mereka datang dengan rasa kecewa mendalam karena target utama adalah gelar juara, bukan sekadar konsolasi peringkat ketiga. Motivasi bermain pun otomatis menciut ketika harapan tertinggi sudah pupus di semifinal.
Laga perebutan peringkat ketiga sejatinya sudah ada sejak Piala Dunia edisi 1934. Format tersebut bertahan puluhan tahun sebagai pelengkap rangkaian turnamen. Namun, dalam era sepak bola modern yang padat, keberadaannya mulai dipertanyakan banyak pihak, termasuk mantan pemain dan pelatih.
Shearer melihat FIFA tidak cukup mempertimbangkan beban fisik dan psikologis pemain yang baru saja through laga berat di semifinal. Jadwal yang mepet membuat recovery waktu istirahat sangat singkat. Pemain justru butuh waktu untuk memulihkan diri dan memproses kegagalan, bukan dipaksa tampil lagi demi satu pertandingan.
Bagi penggemar di Indonesia, polemik ini relevan dengan pengalaman menonton turnamen besar. Penonton lokal kerap menyaksikan laga perebutan peringkat ketiga dengan antusiasme lebih rendah dibanding final. Televisi dan platform streaming juga sulit menjual pertandingan tersebut sebagai tontonan premium.
Di sisi industri, keputusan FIFA mencerminkan konflik antara nilai olahraga dan bisnis global. Hak siar, tiket, dan sponsor menjadi variabel yang membuat federasi enggan menghapus satu laga berpotensi pendapatan. Namun, hal ini berisiko menurunkan integritas kompetisi jika pemain tampil setengah hati.
Kondisi serupa sempat terlihat di ajang lokal seperti Piala Presiden atau Liga 1 apabila format perebutan tempat ketiga diterapkan. Klub yang kalah di semifinal biasanya kehilangan momentum. Mereka lebih memilih fokus persiapan musim berikutnya daripada bertanding konsolasi.
Shearer secara terbuka menyatakan bahwa alasan utama laga ini tetap ada ialah uang. "Untuk apa pertandingan ini dimainkan? Hanya untuk satu alasan: untuk menghasilkan lebih banyak uang. Jadi, ini menyedihkan," ujarnya mengutip Metro.
Ia menambahkan, para manajer dan pemain tentu lebih ingin segera pulang dan menenangkan diri. "Anda sudah mendengar para manajer, apa yang mereka rasakan, dan saya cukup yakin jika Anda berbicara dengan salah satu pemain, mereka lebih suka berada di rumah sekarang dan mengatasi kekecewaan serta mencoba untuk berlibur," jelas Shearer.
Ke depan, tekanan agar FIFA merevisi format Piala Dunia akan meningkat seiring ekspansi peserta menjadi 48 tim pada 2026. Jika beban pertandingan bertambah, penghapusan laga peringkat ketiga bisa menjadi opsi rasional demi kesejahteraan atlet. Namun, keputusan akhir tetap bergantung pada negosiasi sponsor dan pemegang hak siar.
Tren evaluasi turnamen juga berpotensi memengaruhi kompetisi regional di Asia Tenggara. Indonesia sebagai tuan rumah berbagai event internasional perlu belajar dari kontroversi ini. Mengutamakan pemulihan pemain rather than pertandingan simbolis akan menjadi standar baru perhelatan berkualitas.