Sergio Busquets resmi kembali ke Camp Nou, kali ini bukan sebagai pemain melainkan sebagai bagian staf teknis Barcelona B. Klub mengumumkan penunjukan mantan gelandang berusia 38 tahun itu sebagai asisten pelatih di bawah Juliano Belletti, yang baru saja mengambil alih tim cadangan yang berkompetisi di divisi keempat Liga Spanyol.
Keputusan ini diambil setelah Busquets mengakhiri perjalanan profesionalnya di Inter Miami pada akhir 2025. Selama dua setengah musim di MLS, ia mencatat 116 penampilan dan meraih tiga gelar besar, yaitu Leagues Cup 2023, Supporters' Shield 2024, dan MLS Cup 2025. Kini ia memilih jalur kepelatihan sambil menuntut lisensi UEFA Pro melalui program pendidikan yang diselenggarakan federasi Sepak Bola Spanyol.
Barcelona B, yang secara resmi bernama Barcelona Atletic, memiliki misi ganda: mengejar promosi ke divisi ketiga dan mempersiapkan bakat muda untuk tim utama. Beberapa nama yang kini menjadi tulang punggung Barca — Pau Cubarsí, Marc Bernal, Alejandro Balde, Gerard Martín, dan Marc Casado — sempat melewati jalur ini. Gavi, Lamine Yamal, dan Fermín López juga pernah memperkuat tim cadangan sebelum naik ke kasta tertinggi.
Busquets sendiri adalah produk akademi yang naik dari Barca B. Ia debut di tim cadangan pada 2007 dan mencatat 25 penampilan sebelum dipromosikan ke tim senior usia 20 tahun. Selama 15 musim bersama tim utama, ia mengumpulkan 722 penampilan dan mengoleksi 32 trofi, di antaranya sembilan gelar La Liga dan tiga Liga Champions. Pengalaman itu dijadikan modal untuk membimbing generasi baru.
Penunjukan Busquets menutupi kekosongan kepemimpinan teknis setelah Belletti mengambil alih dari Rafael Márquez. Klub percaya kombinasi visi Belletti — yang pernah bermain di Barcelona pada era Frank Rijkaard — dan kecerdasan taktis Busquets akan mempercepat perkembangan pemain muda. Kedua mantan pemain itu juga memiliki jaringan luas di lingkungan La Masia, memudahkan identifikasi talenta.
Dari perspektif Indonesia, langkah ini menarik perhatian karena menunjukkan bagaimana klub besar Eropa mengelola transisi legenda ke peran pelatih. Di Liga 1, beberapa klub mulai merekrut mantar pemain senior sebagai asisten pelatih, namun sistem terstruktur seperti jalur B ke tim utama masih jarang diterapkan. Keberhasilan model Barcelona bisa jadi referensi bagi akademi lokal seperti Persib Academy atau PSS Sleman Academy.
Selain itu, kehadiran Busquets di bangku cadangan memberikan inspirasi bagi penggemar sepak bola Indonesia yang mengidolakan gaya main "tiki-taka". Ia dikenal sebagai otak di tengah lapangan, kemampuan membaca permainan yang sulit ditiru. Sebagai pelatih, ia diharapkan menanamkan disiplin posisi dan pengambilan keputusan cepat pada pemain muda — aspek yang sering jadi kelemahan tim nasional muda Indonesia.
Belletti sendiri menyambut kehadiran Busquets dengan optimis. "Sergio membawa pengalaman tak ternilai dan mentalitas juara. Dia tahu persis apa yang dibutuhkan untuk bermain di tingkat tertinggi," ujar mantan bek kanan Brasil itu dalam konferensi pers klub. Busquets menjawab singkat: "Saya senang kembali ke rumah. Ini tantangan baru dan saya siap belajar."
Langkah selanjutnya bagi Busquets adalah menyelesaikan kursus lisensi UEFA Pro pada tahun depan. Jika berhasil, ia berpeluang naik ke staf tim utama atau bahkan mengambil alih Barcelona B sepenuhnya. Klub juga mempertimbangkan untuk melibatkan mantan legenda lain seperti Xavi Hernández atau Andrés Iniesta dalam program pengembangan pelatih jangka panjang.
Secara keseluruhan, kembali Busquets menandai era baru di mana klub tidak hanya mengandalkan rekrutan mahal, melainkan berinvestasi pada warisan internal. Bagi pengamat sepak bola Indonesia, ini menjadi pelajaran bahwa pengembangan talenta berkelanjutan membutuhkan komitmen jangka panjang, bukan hanya proyek musiman.