Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter mengecam habis rencana organisasi di bawah Gianni Infantino yang berniat menjual saham Piala Dunia kepada investor swasta. Menurut Blatter, langkah tersebut merupakan pengingkaran terhadap nilai sakral turnamen yang telah menjadi warisan sepak bola dunia.
'Piala Dunia bukanlah aset komersial yang hanya dimiliki oleh jajaran eksekutif,' ujar Blatter dalam pernyataannya yang dikutip Reuters. Ia menegaskan bahwa FIFA hanyalah penjaga, bukan pemilik yang berhak menentukan nasib Piala Dunia.
Blatter merupakan presiden FIFA dengan masa bakti terlama setelah menjabat sejak 1998 hingga 2015. Kini ia menjadi salah satu kritikus paling gigih kebijakan Infantino yang dinilai terlalu menempuh jalur korporasi.
Saat ini, FIFA sedang menggodok rencana penjualan saham sejumlah kompetisi, termasuk Piala Dunia. Untuk mendapatkan persetujuan, FIFA memberi tenggat waktu bagi semua federasi anggota hingga 19 September 2026. Sebagai pendorong, FIFA menjanjikan dana sebesar Rp723 miliar bagi federasi yang mendukung rencana ini.
Proposal ini menempatkan federasi anggota dalam posisi sulit. Di satu sisi, dana segar sangat dibutuhkan, tetapi di sisi lain, risiko kehilangan identitas sepak bola sangat nyata. Apalagi, setelah kasus korupsi yang melanda FIFA sebelumnya, transparansi menjadi isu krusial.
Di Indonesia, PSSI sebagai bagian dari keluarga FIFA akan menghadapi tekanan serupa. Kewajiban mendukung atau menolak rencana ini bukan persoalan ringan. Keputusan yang diambil harus mempertimbangkan masa depan sepak bola nasional, bukan hanya iming-iming pendanaan.
Blatter mengingatkan, Piala Dunia bukan milik segelintir elit. 'Piala Dunia adalah bagian dari warisan sepak bola dunia,' tegasnya. Menjual hak kepemilikan kepada investor berarti menyerahkan mimpi miliaran penggemar sepak bola ke pundi-pundi modal.
Perdebatan ini menyoroti ketegangan antara nilai tradisional dan tuntutan modernisasi di sepak bola. Banyak pihak khawatir Infantino mengulangi pendekatan bisnis yang kontroversial, seperti rencana Piala Dunia dua tahun sekali yang sebelumnya gagal.
Tenggat September 2026 akan menjadi momen krusial. Jika mayoritas federasi menyetujui, maka akan lahir era baru FIFA yang lebih terbuka pada investasi pihak ketiga. Namun, jika ditolak, Infantino harus mencari format lain untuk meningkatkan pendapatan.
Dalam konteks Indonesia, antusiasme terhadap Piala Dunia sangat tinggi. Keputusan soal status kepemilikan turnamen akan berdampak pada cara suporter Indonesia menikmati pertandingan. Namun, yang lebih mendasar adalah persoalan tata kelola: seberapa besar pengaruh investor dapat mengatur jalannya kompetisi.
Blatter, dengan pengalaman panjangnya, memperingatkan bahwa langkah ini bisa menjadi awal dari komersialisasi sepak bola yang berlebihan. 'FIFA adalah penjaga Piala Dunia, bukan pemiliknya,' katanya. Pesan itu seharusnya menjadi pengingat bagi pengambil keputusan di setiap federasi.
Keputusan akhir tetap di tangan federasi anggota. Namun, jejak langkah mereka akan menentukan apakah Piala Dunia tetap menjadi milik bersama atau berubah menjadi properti eksklusif investor global.