Keputusan penutupan akses penonton ke stadion diumumkan melalui akun Instagram resmi Piala Presiden pada Minggu (2/8) malam. Panitia menegaskan tidak ada penjualan tiket untuk kedua laga semifinal dan mengimbau suporter untuk tidak membeli tiket dari pihak manapun yang mengklaim menjual akses ke pertandingan.
Dengan kebijakan ini, dua laga derbi paling dinantikan dalam turnamen pra-musim ini — Persija vs Persib serta Arema vs Persebaya — akan berlangsung di hadapan tribun kosong. Para penggemar di seluruh Indonesia terpaksa menonton melalui layar televisi atau platform streaming resmi yang akan disediakan panitia.
Latar belakang pemindahan venue ke Bali sendiri sebelumnya diumumkan Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait, saat konferensi pers di Taman Surya, Balai Kota Surabaya, pada hari yang sama. Maruarar menyatakan perpindahan lokasi semifinal dan final mengikuti arahan Ketua Umum PSSI Erick Thohir.
Dalam konferensi pers tersebut, Maruarar bahkan melakukan sambungan telepon langsung ke Erick Thohir untuk memastikan persetujuan terkait pemilihan Bali sebagai tuan rumah. "Pak Ketua Umum, saya usulkan tempatnya di Bali. Pak Ketua Umum setuju atau tidak?" tanya Maruarar, dan Erick menjawab singkat: "Saya setuju."
Pemilihan Bali sebagai venue semifinal dan final dinilai strategis mengingat infrastruktur stadion yang memadai serta kemampuan mengelola acara skala besar. Namun, keputusan menutup akses penontan menciptakan dinamika baru bagi turnamen yang sejak awal diklaim sebagai ajang promosi sepak bola Indonesia ke khalayak luas.
Dampak langsung terasa bagi ribuan suporter empat klub besar yang telah merencanakan perjalanan ke Bali. Bagi banyak penggemar, hadir di stadion menyaksikan derbi klasik seperti Persija vs Persib atau Arema vs Persebaya adalah pengalaman yang tak tergantikan oleh siaran televisi. Sisi ekonomi pun terdampak: industri perhotelan, transportasi, dan kuliner di sekitar stadion kehilangan potensi pendapatan signifikan pada hari pertandingan.
Di sisi lain, keputusan tanpa penonton kemungkinan besar dipicu oleh pertimbangan keamanan dan ketertiban. Sejarah pertemuan antara keempat klub ini selalu mengandung risiko kerusuhan suporter, baik di dalam maupun di luar stadion. Dengan menutup akses publik, panitia berusaha meminimalisir potensi bentrok serta memastikan pertandingan berlangsung lancar tanpa gangguan dari tribun.
Kebijakan ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi manajemen turnamen. Jika alasan utamanya keamanan, mengapa tidak diterapkan sistem pembatasan kapasitas atau pengecekan ketat seperti yang biasa dilakukan di Liga 1? Beberapa pengamat menilai langkah ini sebagai solusi instan yang mengorbankan hak penggemar untuk menonton tim kesayangan secara langsung.
Dalam pengumuman resmi, panitia menulis: "Pengumuman resmi. Diberitahukan kepada seluruh suporter bahwa pertandingan Semifinal Piala Presiden 2026 tidak dibuka untuk penjualan tiket penonton. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membeli tiket dari pihak manapun dan selalu mengikuti informasi melalui kanal resmi Piala Presiden."
Maruarar menegaskan bahwa final Piala Presiden 2026 pun akan tetap digelar di Bali dengan skema yang sama — tanpa penonton. Hal ini menandakan panitia memutuskan untuk memprioritaskan kelancaran operasional dan keamanan daripada aspek komersial dan partisipasi publik di dua partai penutup turnamen.
Ke depan, keputusan ini bisa menjadi preseden bagi penyelenggara turnamen pra-musim lain di Indonesia. Jika terbukti efektif mengurangi risiko keamanan tanpa menurunkan minat penayangan, model "turnamen TV-only" untuk partai puncak mungkin akan dipertimbangkan lagi. Namun, tantangan besar tetap ada: bagaimana menjaga semangat kompetisi dan ikatan emosional klub dengan komunitas pendukungnya ketika tribun tetap sunyi.