Kekalahan Argentina 0-1 dari Spanyol pada final Piala Dunia 2026 membuat Albiceleste gagal meraih gelar keempat, namun penampilan Lionel Messi sepanjang turnamen tetap menjadi sorotan. Pemain berusia 39 tahun itu mencetak delapan gol dan memberikan empat assist dalam delapan penampilan, membuktikan bahwa kualitasnya masih di atas rata-rata meski usianya terus bertambah.
Pelatih Lionel Scaloni menegaskan bahwa Messi belum memikirkan pensiun dari tim nasional. "Dia sudah berusia 39 tahun, itu luar biasa," kata Scaloni. "Saya tahu dia akan bermain sampai dia sendiri yang memutuskan untuk berhenti, dan semua orang akan mendukungnya." Scaloni menambahkan, "Saya harap semua orang merasa bangga padanya, karena dia adalah pesepakbola terbaik yang pernah menginjakkan kaki di lapangan."
Sejak debut pada 2005, Messi telah mengoleksi 207 caps dengan 125 gol dan 68 assist. Dia tampil di enam edisi Piala Dunia (2006, 2010, 2014, 2018, 2022, 2026) dan tujuh Copa America (2007, 2011, 2015, 2016, 2019, 2021, 2024). Statistik ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh Messi terhadap skuad Argentina, bahkan di usia yang jarang pemain bisa mempertahankan performa di tingkat tertinggi.
Kegagalan di final kali ini tentu berat bagi Messi dan Argentina. Meski tidak lagi muda, Messi tetap menjadi pilihan utama di lini depan. Penyerang asal Barcelona itu juga menjadi sumber gol dan kreativitas, seperti terlihat dari delapan gol dan empat assist yang dicetaknya. Namun, kekalahan 0-1 dari Spanyol membuat Argentina harus merelakan gelar keempat mereka, dan mimpi untuk meraih dua gelar beruntun harus berakhir.
Reaksi penggemar di Argentina pun beragam. Banyak yang masih berharap Messi akan memperkuat tim nasional selama mungkin, terutama karena dia belum menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti. Di Indonesia, suporter bola juga merasakan euforia yang sama; Messi menjadi inspirasi bagi banyak pemain muda yang bermimpi bermain di level tertinggi. Pemain-pemain seperti Egy Maulana Vikri dan Witan Sulaeman sering menyebut Messi sebagai panutan dalam karier mereka.
Bagi Scaloni, keputusan Messi untuk terus bermain tergantung pada keinginan pemain itu sendiri. Pelatih Argentina itu yakin bahwa dukungan penuh tim akan selalu ada, terlepas dari usia atau tekanan dari luar. Pernyataan Scaloni ini juga mencerminkan filosofi bahwa seorang legenda tidak harus dipaksa pensiun; mereka harus berhenti ketika merasa sudah saatnya.
Dari sudut pandang sepak bola Indonesia, kasus Messi mengingatkan kita pada fenomena pemain senior yang terus berkontribusi di tingkat tertinggi. Pemain seperti Boaz Solossa (Indonesia) atau Asnawi Mangkualam (Korea Selatan) juga menunjukkan bahwa usia tidak selalu menjadi penghalang selama semangat dan kualitas masih ada. Messi membuktikan bahwa seorang pemain bisa tetap menjadi bintang dunia di usia 39 tahun, dan ini bisa menjadi motivasi bagi atlet Indonesia untuk menjaga kebugaran dan performa lebih lama.
Ke depan, Messi mungkin akan mempertimbangkan Piala Dunia 2030 sebagai edisi terakhirnya. Jika dia memutuskan pensiun, Argentina akan kehilangan sosok sentral dalam skuad. Namun, dengan banyak talenta muda Argentina yang sedang naik daun, tim mungkin bisa beralih ke generasi berikutnya tanpa kehilangan kualitas. Sementara itu, fans di seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan terus mengingat kontribusi Messi dan menunggu untuk melihat bagaimana dia mengakhiri kisah hebatnya.
Berita ini penting tidak hanya bagi penggemar Argentina, tetapi juga bagi seluruh komunitas sepak bola global. Messi membuktikan bahwa usia hanyalah angka, dan dedikasinya terhadap olahraga ini menjadi contoh bagi pemain di semua level. Di Indonesia, di mana sepak bola adalah olahraga yang sangat populer, cerita Messi mengingatkan bahwa dengan kerja keras dan cinta pada permainan, seorang pemain bisa bermain di tingkat tertinggi selama mungkin, menginspirasi generasi berikutnya untuk mengejar mimpi mereka.