Sepakbola

Scaloni Bertahan Hingga Desember, Masa Depan Argentina Masih Kabur

Ringkasan

  • Lionel Scaloni menegaskan akan menghormati kontrak hingga Desember 2026 usai Argentina gagal mempertahankan gelar Piala Dunia usai kalah 0-1 dari Spanyol di final New York New Jersey Stadium, Senin (20/7/2026).

Lionel Scaloni tampak hancur di ruang konferensi pers. Air mata mengalir di pipi pria berusia 48 tahun itu usai Argentina tumbang 0-1 di tangan Spanyol di final Piala Dunia 2026, Senin (20/7/2026) di New York New Jersey Stadium. Kekalahan itu tidak hanya mengakhiri mimpi Timnas Argentina mempertahankan gelar juara dunia, tapi juga memicu gelombang spekulasi soal nasib sang pelatih.

Kontrak Scaloni dengan Asociacion del Futbol Argentino (AFA) berjalan hingga Desember 2026. Dalam konferensi pers pasca laga, ia menegaskan komitmen untuk menyelesaikan kontrak tersebut. "Kami di sini sampai Desember," ucapnya tegas sambil menahan emosi. Frasa singkat itu jadi satu-satunya kepastian di tengah kekaburan.

Perjalanan Scaloni memimpin Argentina dimulai 2018. Dari posisi di tepi jurang kualifikasi Piala Dunia 2018, ia membangun tim yang dominan. Empat trofi diraih dalam enam tahun: Copa America 2021, Finalissima 2022, Piala Dunia 2022, dan Copa America 2024. Rekor 36 laga tak terkalahkan antara 2019-2022 jadi bukti kemampuannya mengubah mentalitas tim.

Namun final 2026 menampilkan narasi berbeda. Argentina kesulitan menciptakan peluang berarti terhadap pressing tinggi Spanyol. Gol tunggal Mikel Oyarzabal menit 67 jadi pembeda. Lionel Messi, yang kemungkinan besar memainkan final Piala Dunia terakhirnya, terlihat frustrasi. Scaloni sendiri mengakui timnya "telah memberikan segalanya hingga akhir."

Kegagalan di New York membuka pertanyaan fundamental: apakah era Scaloni benar-benar berakhir? Kontrak yang habis Desember ini memberikan AFA jendela waktu untuk evaluasi. Presiden AFA Claudio Tapia belum memberikan sinyal soal perpanjangan. Beberapa media Argentina seperti La Nacion dan Ole melaporkan adanya pembicaraan internal soal regenerasi kepemimpinan teknis.

Nama-nama calon pengganti sudah bermunculan. Marcelo Gallardo, mantan pelatih River Plate yang kini membesut Al-Ittihad, sering disebut. Juga Mauricio Pochettino yang bebas setelah keluar dari Chelsea awal 2026. Keduanya punya gaya bermain berbasis posse dan pressing — mirip filosofi Scaloni tapi dengan variasi taktis berbeda.

Di sisi lain, Scaloni menegaskan bahwa "yang terpenting adalah tim nasional, bukan siapa yang memimpin." Pernyataan itu dibaca sebagai tanda kematangan. Ia tak memaksa diri untuk tinggal, tapi juga tak menutup pintu perpanjangan. Kunci ada di evaluasi performa tim di sisa 2026, termasuk kualifikasi Piala Dunia 2026 yang masih berlangsung.

Argentina saat ini menduduki posisi dua besar di zona CONMEBOL. Lima laga tersisa hingga November. Hasil di laga-laga itu akan jadi parameter besar bagi AFA. Jika Argentina mengamankan tiket ke Piala Dunia 2026 dengan meyakinkan, argumen untuk mempertahankan Scaloni makin kuat. Sebaliknya, kesulitan di kualifikasi bisa mempercepat pergantian.

Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus Scaloni menawarkan pelajaran tentang manajemen transisi kepemimpinan. PSSI sendiri pernah menghadapi dilema serupa usai era Shin Tae-yong. Kunci ada pada kejelasan kontrak, evaluasi berbasis data, dan komunikasi transparan ke publik. Argentina punya keuntungan: struktur kompetisi domestik yang kuat dan tim U-20/U-17 yang konsisten memproduksi bakat.

Messi, kini berusia 39 tahun, kemungkinan besar tidak akan ada di siklus Piala Dunia 2030. Regenerasi generasi emas — De Paul, Otamendi, Di Maria — juga berlangsung. Pelatih baru akan menghadapi tugas berat: membangun identitas tim pasca-Messi. Scaloni sendiri pernah melakukannya 2018, tapi dengan fondasi pemain yang berbeda.

Sampai Desember, Scaloni masih punya waktu untuk membuktikan dirinya. Lima laga kualifikasi dan beberapa uji coba persahabatan jadi panggung terakhirnya. Apakah ia pergi sebagai legenda yang pulang dengan hormat, atau tetap bertahan memimpin era baru? Jawabannya ada di lapangan, dan di meja ruang rapat AFA di Buenos Aires.

Mengapa Ini Penting

Kasus Scaloni jadi studi kasus langka: pelatih juara dunia yang kontraknya berakhir tepat usai gagal mempertahankan gelar. Bagi Indonesia, ini relevan karena PSSI sering menghadapi dilema serupa — mempertahankan pelatih berprestasi vs memulai regenerasi. Keputusan AFA di bulan-bulan depan akan jadi referensi bagaimana federasi besar mengelola transisi kepemimpinan teknis di era modern, di mana siklus kontrak semakin pendek dan tekanan hasil semakin masif.

Sumber Asli
Detik Sepak Bola
Tanggal
21 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit