KANSAS CITY - Pelatih Timnas Argentina Lionel Scaloni dengan jujur mengakui bahwa Swiss telah mendorong Albiceleste ke batas kemampuan mereka pada laga perempat final Copa America 2024 di Stadion Arrowhead, Sabtu (6/7) waktu setempat. Kemenangan 3-1 setelah perpanjangan waktu itu didapat dengan berdarah-darah, jauh dari dominasi yang mungkin diharapkan banyak orang dari juara dunia bertahan.
"Kenyataannya kami kesulitan hari ini. Kami tahu mereka tim yang sangat mengandalkan fisik. Saya pikir mereka menempatkan kami dalam kesulitan," ujar Scaloni dalam wawancara pasca laga di laman resmi FIFA, Minggu (7/7). Pengakuan ini menunjukkan rasa hormat mendalam terhadap pendekatan taktis Murat Yakin yang menyiapkan timnya dengan sangat rapi, menutupi ruang di sektor tengah dan memaksa Argentina bermain di sayap di mana mereka lebih mudah dikendalikan.
Drama dimulai sejak menit ke-25 ketika Alexis Mac Allister membuka keunggulan dengan finishing yang tenang usaha pasar silang dari Lionel Messi. Namun, Swiss tidak tunduk. Dan Ndoye menyamakan kedudukan di menit ke-57 dengan tembakan keras dari luar kotak penalti yang tak terhalang Emiliano Martinez, mengeksploitasi kelelahan lini belakang Argentina yang terlalu tinggi mendorong.
Titik balik pertandingan terjadi di menit ke-72. Penyerang Swiss Breel Embolo menerima kartu kuning kedua akibat simulasi (diving) di kotak penalti, meninggalkan timnya bermain dengan 10 orang. Keputusan wasit Gustavo Tejera ini memicu protes keras dari kliping Swiss, namun replays VAR mengonfirmasi tidak ada kontak. Keanggunan numerik inilah yang dieksploitasi Argentina di babak perpanjangan waktu.
Julian Alvarez memecah kebuntuan di menit ke-101 usaha aksi individu yang memanfaatkan kecepatan dan ketangkasan di ruang sempit. Lautaro Martinez kemudian mengunci kemenangan di menit ke-112 dengan gol keempatnya di turnamen ini, mengkhususkan diri sebagai super-sub yang mematikan. Scaloni menilai keberhasilan ini tak terlepas dari faktor keberuntungan. "Kami tidak mampu keluar dari situasi-situasi tertentu. Sebenarnya, hari ini keberuntungan berpihak pada kami karena lawan kehilangan satu pemain akibat kartu merah," tandasnya.
Meski lolos ke semifinal, Scaloni menyadari ada banyak pekerjaan rumah. Argentina terlalu bergantung pada kecemerlangan individu Messi dan momen keberuntungan lawan, bukan alur permainan yang terstruktur. "Sejak saat itu, tim mulai melancarkan serangan. Kami harus realistis; ada hal-hal yang perlu diperbaiki, namun meraih kemenangan tentu selalu lebih baik," pungkas pelatih kelahiran Pujato itu.
Tantangan selanjutnya akan jauh lebih berat. Argentina dijadwalkan menghadapi Inggris di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Kamis (11/7) pukul 02.00 WIB. Three Lions di bawah Gareth Southgate memiliki kedalaman skuad, organisasi defensif yang superior, dan Harry Kane yang dalam kondisi prima. Jika Argentina mempertahankan performa seperti lawan Swiss — lambat bereaksi, rentan di transisi defensif, dan bergantung pada brilian Messi — laga semifinal bisa berakhir manis bagi tim Eropa.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menjadi pelajaran taktis berharga: tim underdog dengan disiplin taktis dan fisik optimal (Swiss) bisa menakuti-nakuti favorit besar. Juga mengingatkan bahwa di level elit, margin kesalahan tipis; satu kartu merah atau satu momen kecewa bisa mengubah nasib turnamen. Perjalanan Argentina menuju gelar bertahan masih panjang, dan ujian karakter mereka baru dimulai.