Marion Bartoli membuka cerita tentang persahabatan 13 tahunnya dengan Didier Deschamps, pelatih tim nasional Prancis yang akan menutup era kepemimpinannya usai turnamen mendatang. Mantan juara Wimbledon berusia 41 tahun itu menilai sosok berusia 57 tahun tersebut bukan sekadar kolega, melainkan sahabat sejati yang selalu punya waktu untuknya meski dibebani tekanan tinggi.
Hubungan mereka bermula pada 2013, ketika harian olahraga L'Equipe menganugerahi Bartoli gelar Juara Putri Champions of Champions setelah merebut gelar Wimbledon. Deschamps, yang setahun sebelumnya resmi menjabat sebagai pelatih Les Bleus, bertemu Bartoli di panggung penghargaan tersebut. Sejak saat itu, ikatan keduanya terjalin erat hingga kini.
Bartoli yang kini menetap di Dubai kerap menerima kunjungan Deschamps di kota tersebut. Minat besar pria kelahiran Bayonne itu terhadap olahraga raket menjadi perekat utama. Awalnya, mereka berdua gemar bermain tenis. Namun, sang pelatih belakangan beralih ke padel, olahraga yang memadukan unsur tenis dan squash, yang kerap dijadikan bahan gurauan oleh Bartoli.
Tak hanya suami Bartoli yang menjadi rekan main padel Deschamps. Zinedine Zidane, rekan setimnya saat meraih Piala Dunia 1998 dan sosok yang akan menggantikan posisinya sebagai pelatih Prancis, turut menjadi lawan rutinnya. Andres Iniesta, mantan maestro Spanyol peraih gelar juara dunia, juga sering berhadapan dengan mereka di lapangan padel Dubai maupun di selatan Prancis.
Bartoli mengaku lebih menyukai jika Deschamps kembali memegang raket tenis. Namun, sang pelatih memiliki alasan pragmatis karena faktor usia. Meski begitu, jiwa kompetitif Deschamps tak hilang meski hanya bermain di lapangan kecil bersama para legenda lainnya.
Fenomena atlet papan atas yang beralih ke padel usai pensiun ini sejalan dengan tren di Indonesia. Dalam dua tahun terakhir, komunitas padel di Jakarta dan Bali tumbuh pesat, menarik mantan atlet nasional maupun figur publik. Sama seperti Deschamps dan Zidane, legenda bulu tangkis Indonesia kerap menjadikan olahraga rekreasional seperti golf dan tenis sebagai sarana memelihara silaturahmi serta melepas penat dari sorotan publik.
Tekanan menjadi pelatih tim nasional juga menjadi titik temu antara Prancis dan Indonesia. Bartoli menuturkan bagaimana masyarakat Prancis kerap bertindak seperti '67 juta pelatih' yang merasa berhak mengatur strategi Les Bleus. Kondisi serupa persis dialami Shin Tae-yong di Tanah Air, di mana ekspektasi tinggi dari ratusan juta suporter kerap melahirkan kritik tajam meski tim meraih progres positif.
Perbedaan mencolok terlihat pada stabilitas kepelatihan. Deschamps telah memegang tampuk kepemimpinan selama 14 tahun dan sukses membawa Prancis juara Piala Dunia 2018, masuk final 2022, serta final Euro 2016. Catatan loyalitas dan raihan tersebut belum tentu bisa langsung disamai di Tanah Air, di mana rotasi pelatih timnas kerap terjadi dalam hitungan tahun akibat ekspektasi publik yang tidak sabar.
Bagi Bartoli, Deschamps merupakan sosok yang lucu dan rendah hati. Ia selalu membalas pesan, menanyakan posisi Bartoli di belahan dunia mana, serta akrab dengan putri dan suaminya. 'Saya melihatnya sebagai sahabat sejati. Dia tahu betapa besarnya tekanan yang dia hadapi, dan saya sangat menghargai persahabatan ini,' kata Bartoli menekankan ikatan emosional mereka.
Bartoli juga menyoroti ketidakadilan publik Prancis terhadap Deschamps. Menurutnya, pelatih tersebut tidak mendapat apresiasi pers yang sepadan dengan raihan luar biasa karena masyarakat sudah terbiasa dimanjakan pemain hebat seperti Thierry Henry, Zidane, dan Eric Cantona. 'Kami merasa harus menang setiap saat. Bagi saya, dia tidak mendapat penghargaan yang sepantasnya,' ujarnya.
Bartoli menegaskan Deschamps ingin mengakhiri kariernya dengan manis. Jika Prancis mengalahkan Spanyol, turnamen terakhirnya akan berakhir menghadapi Argentina atau Inggris. Bartoli menyebut sang sahabat memiliki obsesi untuk membalas kekalahan dari Spanyol di Euro sebelumnya sekaligus membawa generasi emas Prancis meraih gelar juara dunia lagi pada 19 Juli mendatang.
Bartoli memastikan masa depan Deschamps usai meninggalkan timnas tidak akan jauh dari lapangan hijau. Ia yakin pria berjuluk 'Le Capitaine' itu akan mengambil liburan setahun, namun pada akhirnya kembali melatih klub karena cintanya kepada sepak bola terlalu besar untuk ditinggalkan. 'Dia adalah pemenang sejati, dan petualangan barunya pasti akan datang,' tutup Bartoli.